Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Garmin Forerunner 55 Turun Harga ke Rp2,6 Jutaan, Masih Worth It di 2026 Meski Sudah Ada Forerunner 165?

Natasha Eka Safrina • Selasa, 24 Februari 2026 | 15:40 WIB

Garmin Forerunner 55 kini turun harga ke Rp2,6 jutaan. Simak review lengkap, fitur, dan alasan jam lari ini masih layak dibeli di 2026.
Garmin Forerunner 55 kini turun harga ke Rp2,6 jutaan. Simak review lengkap, fitur, dan alasan jam lari ini masih layak dibeli di 2026.

JAKARTA – Penurunan harga Garmin Forerunner 55 kembali membuat jam lari legendaris ini ramai dibicarakan di kalangan pelari. Sportwatch keluaran 2021–2022 tersebut kini bisa ditebus di kisaran Rp2,6–2,7 juta, jauh lebih murah dibanding harga awalnya yang sempat menyentuh Rp3,1 juta. Fakta itu diulas langsung oleh YouTuber teknologi Serizal Fauzi, yang membagikan pengalaman unboxing sekaligus pemakaian awal perangkat ini.

Menurut Serizal, banyaknya permintaan review Garmin Forerunner 55 dipicu oleh penurunan harga signifikan, terutama setelah kehadiran penerusnya, Garmin Forerunner 165, yang membawa pembaruan besar seperti layar AMOLED. Namun, apakah Forerunner 55 masih layak dibeli di 2026?

Unboxing Resmi TAM dan Kesan Awal

Unit yang dibeli Serizal merupakan versi resmi Indonesia dengan stiker TAM, distributor resmi Garmin di Tanah Air. Di dalam kotak, pengguna mendapatkan unit jam, charger khas Garmin, buku panduan multibahasa termasuk Bahasa Indonesia, serta stiker Garmin dengan slogan “Beat Yesterday”.

Baca Juga: Tes Tanjak BYD Atto 1 di Trawas 15 Derajat, Benarkah Lemah? Hasilnya Bikin Kaget!

Garmin dikenal sebagai brand sportwatch yang awet. Bahkan, menurut Serizal, banyak pengguna yang sudah mencoba berbagai smartwatch akhirnya kembali ke Garmin karena daya tahan perangkatnya yang tinggi. Hal ini menjadi nilai jual penting bagi Garmin Forerunner 55, meski usianya tak lagi muda.

Desain Ringkas dan Nyaman untuk Pelari

Dari sisi fisik, Garmin Forerunner 55 hadir dengan diameter sekitar 42 mm, sedikit lebih kecil dibanding Forerunner 165 yang berukuran 43 mm. Perbedaan 1 mm ini nyaris tak terasa, namun justru membuat Forerunner 55 terasa lebih mungil dan nyaman, terutama untuk pergelangan tangan kecil hingga sedang.

Bezel jam terbilang cukup tebal, wajar mengingat layarnya masih menggunakan reflective display. Warna grey yang dipilih Serizal memadukan casing hitam dengan strap abu-abu, memberi kesan sporty namun tetap netral. Tombol navigasi khas Garmin berjumlah lima dan dinilai lebih “clicky” dibanding generasi terbaru.

Baca Juga: Tes Nanjak BYD Atto 1 ke Lembang, Tembus Tanjakan Spongebob! Baterai Terkuras 24% untuk 23 Km

Layar Reflective, Tapi Baterai Lebih Awet

Berbeda dengan tren smartwatch masa kini, Garmin Forerunner 55 belum mengusung layar AMOLED. Jam ini masih mengandalkan reflective display yang selalu aktif tanpa menguras baterai secara signifikan. Meski terlihat redup di kamera, Serizal menegaskan bahwa keterbacaan layar di luar ruangan justru sangat baik.

Ketiadaan pengaturan brightness bukan masalah besar, karena teknologi layar ini memang dirancang untuk efisiensi daya. Inilah salah satu alasan mengapa Forerunner 55 tetap digemari pelari jarak jauh.

Fitur Lari Lengkap, Fokus Performa

Sesuai namanya, Garmin Forerunner 55 benar-benar difokuskan untuk pelari. Mode lari dilengkapi pengaturan data screen yang bisa dikustomisasi, latihan interval, Garmin Coach, auto pause, hingga evaluasi performa. Untuk GPS, jam ini mendukung GPS, GLONASS, dan Galileo, meski belum dual band seperti seri lebih mahal.

Jenis olahraga lain juga cukup lengkap, mulai dari treadmill, sepeda, cardio, HIIT, yoga, pilates, hingga renang. Namun, pengguna tidak bisa menginstal aplikasi tambahan karena tidak tersedia akses ke Garmin Connect IQ Store.

Baca Juga: Review BYD Atto 1 dari POV Perempuan: Terjual 22.500 Unit, Mobil Listrik Compact Ini Cocok Buat Harian dan Anti Ribet!

Tanpa SpO2 dan Garmin Pay

Dari sisi fitur kesehatan, Garmin Forerunner 55 masih tergolong dasar. Jam ini tidak memiliki sensor SpO2 dan juga belum mendukung Garmin Pay untuk pembayaran nirsentuh. Notifikasi ponsel tetap bisa diterima, namun tidak bisa dibalas langsung dari jam.

Widget bawaan mencakup body battery, stress level, pernapasan, kalender, cuaca, hingga pelacak menstruasi. Semua data disinkronkan melalui aplikasi Garmin Connect di smartphone.

Masih Layak Dibeli di 2026?

Dengan harga yang kini jauh lebih terjangkau, Garmin Forerunner 55 masih sangat relevan untuk pelari yang fokus pada latihan dan performa, tanpa butuh fitur “neko-neko” seperti aplikasi tambahan atau layar AMOLED. Dibanding membeli Forerunner 165 yang masih berada di kisaran Rp4 jutaan, Forerunner 55 bisa menjadi pilihan rasional bagi pemula hingga pelari rutin.

Bagi pengguna yang mengutamakan daya tahan baterai, akurasi GPS, dan ekosistem olahraga matang dari Garmin, jam ini tetap layak dipertimbangkan di 2026.

Baca Juga: BYD M6: Mobil Listrik Seven Seater Termurah di Indonesia, Cocok untuk Pribadi dan Fleet

Editor : Natasha Eka Safrina
#garmin #garmin forerunner 55 #Review Garmin #Jam lari Garmin