JAKARTA – Meski dirilis pada 2021, Garmin Forerunner 55 tetap menjadi pilihan banyak pelari hingga 2025. Di tengah gempuran smartwatch layar AMOLED dan fitur canggih, jam lari entry-level ini justru semakin diminati karena harganya yang makin terjangkau dan fitur lari yang tetap relevan.
Konten kreator lari Ferdi mengungkapkan, ada lima alasan mengapa ia masih setia menggunakan Garmin Forerunner 55 hingga sekarang.
1. Harga Makin Terjangkau
Alasan pertama adalah harga. Saat pertama dibeli pada 2023, jam ini masih berada di kisaran Rp3 jutaan. Kini, di berbagai e-commerce, harganya sudah turun drastis ke rentang Rp1,7 juta hingga Rp1,8 juta.
Dengan harga tersebut, Garmin Forerunner 55 menjadi salah satu produk paling terjangkau dari ekosistem Garmin yang masih aktif mendapat pembaruan sistem.
Baca Juga: DPRD Trenggalek Optimalisasi Raperda Jaminan Sosial Ketenagakerjaan
“Ini jam Garmin paling murah yang masih relevan dipakai sekarang,” ujarnya.
2. Masih Dapat Update dan Didukung Ekosistem Garmin
Meski bukan seri terbaru, Garmin Forerunner 55 masih mendapat pembaruan perangkat lunak. Jam ini juga tetap kompatibel dengan aplikasi utama Garmin seperti Garmin Connect, Garmin Connect IQ, dan Garmin Sports.
Keunggulan lain dari Garmin adalah dukungan ekosistem yang panjang. Bahkan model lama seperti Forerunner 45 hingga 245 masih tersedia dalam daftar perangkat di aplikasi resmi. Hal ini membuat pengguna tidak merasa “dianaktirikan” meski memakai seri entry-level.
3. Fitur Lari Masih Sangat Layak
Dari sisi fitur olahraga, Garmin Forerunner 55 menyediakan mode lari outdoor, treadmill, renang, hingga HIIT training. Bagi pelari yang fokus pada latihan rutin, fitur ini sudah lebih dari cukup.
Daily Suggested Workout, estimasi waktu finis, serta pengaturan interval masih menjadi andalan di kelasnya. Untuk kebutuhan lari harian hingga persiapan lomba 5K atau 10K, jam ini dinilai masih sangat kompetitif.
Baca Juga: BYD M6 MPV Full Listrik Indonesia: Review Lengkap, Performa dan Fitur untuk Keluarga
4. Desain Simpel dan Super Ringan
Dengan diameter layar 1,1 inci dan bobot hanya sekitar 39 gram, Garmin Forerunner 55 terasa sangat ringan di pergelangan tangan. Bahkan banyak pengguna menyebut sensasinya seperti memakai smartband.
Jam ini memang belum menggunakan layar sentuh dan masih mengandalkan tombol fisik. Namun justru itulah yang disukai sebagian pelari karena lebih responsif saat tangan berkeringat atau saat hujan.
Antarmukanya juga sederhana, tanpa banyak gimmick, sehingga mudah dipelajari bahkan oleh pengguna baru.
5. Baterai Awet Hingga 8–10 Hari
Daya tahan baterai menjadi salah satu nilai jual utama. Dalam penggunaan normal, baterai bisa bertahan 8 hari hingga 10 hari, tergantung pengaturan.
Pengguna bisa mengoptimalkan baterai dengan beberapa cara:
-
Mengatur lampu latar (backlight) ke durasi 8 detik.
-
Menurunkan tingkat kecerahan layar.
-
Mematikan koneksi Bluetooth saat tidak digunakan.
-
Memilih mode GPS sesuai kebutuhan (GPS Only, GPS + GLONASS, atau GPS + Galileo).
Untuk area perkotaan dengan sinyal kuat, mode GPS + Galileo dinilai lebih akurat. Sementara GLONASS direkomendasikan untuk area dengan banyak gedung tinggi atau hambatan sinyal.
Masih Worth It di 2025?
Dengan harga di bawah Rp2 juta, dukungan update yang masih berjalan, fitur lari yang lengkap, desain ringan, dan baterai tahan lama, Garmin Forerunner 55 masih sangat layak dipakai di 2025.
Jam ini memang tidak memiliki fitur musik internal, layar AMOLED, atau peta navigasi seperti seri yang lebih tinggi. Namun bagi pelari yang mengutamakan fungsi dasar latihan dan keandalan GPS, perangkat ini tetap menjadi pilihan rasional.
Editor : Natasha Eka Safrina