TRENGGALEK JENGGELEK - Review Suzuki Espresso 2023 kembali ramai diperbincangkan setelah banyak pengguna membagikan pengalaman nyata soal keiritan BBM dan kenyamanan suspensinya. Mobil mungil bergaya crossover ini disebut-sebut sebagai salah satu mobil termurah di Indonesia dengan transmisi otomatis.
Dalam review Suzuki Espresso 2023 kali ini, yang dibahas adalah varian AGS (Auto Gear Shift) atau Automated Manual Transmission. Transmisi ini sebelumnya juga digunakan pada Suzuki Karimun Wagon R. Harga unit barunya berada di kisaran Rp150 jutaan untuk versi AGS, sedangkan versi manual lebih terjangkau.
Secara tampilan, review Suzuki Espresso 2023 menyoroti desainnya yang unik. Dimensinya sangat kompak dengan panjang sekitar 3,5 meter dan tinggi 1,5 meter. Meski kecil, proporsinya dibuat tinggi sehingga memberi kesan SUV mungil.
Baca Juga: Viral 10 Motor Listrik Terbaik di Indonesia Versi YouTube, Benarkah Layak Dibeli? Ini Daftar dan Spesifikasi Lengkapnya
Desain Crossover, Tapi Minim Teknologi
Secara visual, Espresso mengusung gaya ala SUV dengan over fender, ground clearance tinggi, serta bumper beraksen underguard. Namun fitur pencahayaan masih sederhana. Lampu depan masih halogen tanpa proyektor modern.
Velg bawaan ring 14 inci terlihat kurang proporsional karena gap fender cukup besar. Dari belakang, desainnya cenderung kotak dengan spoiler kecil dan defogger, namun tanpa wiper belakang.
Bagasinya memang tidak luas, tetapi cukup dalam. Ban serep yang tersedia berukuran full size. Material bodi terasa tebal untuk kelasnya, meski beberapa detail finishing masih terasa sederhana.
Mesin 1.000 cc, Tenaga Biasa Saja
Di balik kap mesin, Suzuki Espresso dibekali mesin 1.000 cc tiga silinder dengan tenaga sekitar 67 hp dan torsi 86 Nm. Angka tersebut memang bukan untuk performa, melainkan efisiensi.
Karakter mesinnya halus untuk ukuran tiga silinder. Getarannya bahkan diklaim lebih baik dibanding rival sekelas seperti Toyota Agya generasi lama bermesin tiga silinder.
Namun harus diakui, akselerasinya terasa lambat. Ditambah karakter transmisi AGS yang memiliki jeda saat perpindahan gigi, pengalaman berkendara terasa kurang responsif. Untuk pengemudi yang menyukai sensasi menyetir, karakter ini bisa terasa mengganggu.
Baca Juga: Viral Daftar Motor Listrik Premium 2025 di YouTube, Benarkah Layak Dibeli? Ini Spesifikasi dan Kisaran Harganya
Interior Membaik, Fitur Lebih Lengkap
Versi improvement 2023 membawa peningkatan signifikan dibanding generasi awalnya. Kini tersedia steering switch control, head unit layar sentuh dengan Bluetooth, serta integrasi informasi konsumsi BBM di layar.
Fitur keselamatan juga meningkat. Tersedia dual airbag, ABS, serta electronic stability control. Bahkan sudah ada fitur auto start-stop, meski pengguna disarankan mematikannya karena berdampak pada performa AC.
Posisi duduk menjadi salah satu nilai jual utama. Dengan ground clearance tinggi, visibilitas terasa lebih baik dibanding city car rendah. Rasa percaya diri saat berdampingan dengan truk atau bus pun meningkat.
Namun ada kompromi. Power window hanya tersedia di depan, kaca belakang masih manual. Setir belum tilt maupun telescopic. Material kabin pun masih didominasi plastik keras.
Baca Juga: Daftar 5 Motor Listrik Terbaik 2025 Versi YouTube, Benarkah Layak Dibeli? Ini Spesifikasi dan Kisaran Harganya
AC dan Peredaman Jadi Sorotan
Hal menarik dalam review Suzuki Espresso 2023 adalah performa suspensinya. Saat melewati jalan rusak atau bergelombang, bunyi suspensi terdengar minim. Peredamannya terasa lebih baik dari ekspektasi mobil murah.
Suara suspensinya bahkan disebut menyerupai mobil dengan harga di atasnya. Bantingan empuk menjadi salah satu keunggulan dibandingkan kompetitor di kelas LCGC.
Namun kelemahan muncul pada peredaman kabin. Suara hujan, kolong, dan angin cukup terdengar saat melaju di atas 60 km/jam.
Untuk AC, karakter pendinginan unik. Saat idle terasa kurang dingin, namun ketika mobil berjalan dan kompresor berputar lebih cepat, udara menjadi jauh lebih sejuk.
Baca Juga: BYD Atto 1 Meledak! Kuasai Peringkat 1 Penjualan Mobil Listrik Oktober 2025, Tembus 9.396 Unit dan Kalahkan LCGC
Irit Jadi Senjata Utama
Soal konsumsi BBM, inilah daya tarik terbesar. Pengguna mengklaim Rp50 ribu Pertalite bisa digunakan berkeliling dalam kota dengan jarak cukup jauh. Konsumsi di atas 15 km/liter disebut mudah dicapai dalam pemakaian harian.
Karakter mesin yang “dicekik” di putaran bawah memang membuatnya terasa lambat, tetapi berdampak langsung pada efisiensi bahan bakar.
Jika dibandingkan dengan Daihatsu Ayla terbaru, Espresso mungkin kalah dalam hal driving dynamics dan refinement mesin. Namun dari sisi fitur seperti stability control dan kenyamanan suspensi, ia punya nilai tambah.
Baca Juga: BYD M6 Jadi Mobil Listrik 7 Seater Termurah, Range 530 Km dan Dipakai Grab-Bluebird, Tapi Kenapa Remnya Bikin Kaget?
Layak Dibeli?
Suzuki Espresso 2023 AGS bukan mobil untuk pecinta performa atau pengemudi agresif. Namun bagi pengguna yang mencari kendaraan harian dari titik A ke titik B, irit, mudah dirawat, dan posisi duduk tinggi, mobil ini relevan.
Transmisi AGS memang membutuhkan adaptasi. Jika ingin pengalaman lebih nyaman, varian manual bisa menjadi pilihan lebih rasional.
Kesimpulannya, Suzuki Espresso adalah mobil dengan banyak kompromi, tetapi juga menawarkan keunggulan nyata di efisiensi dan kenyamanan suspensi. Untuk harga Rp150 jutaan, ia tetap menjadi opsi menarik di segmen entry-level.