JAKARTA – Bagi masyarakat Indonesia yang mengikuti perkembangan teknologi di era 2010-an, nama Evercoss tentu tidak asing lagi. Sebagai salah satu pelopor ponsel lokal, perjalanan Evercoss mencatatkan sejarah emas dengan sempat menumbangkan dominasi brand global. Namun, seiring berjalannya waktu, merek yang dahulu merajai pasar ini seolah "hilang ditelan bumi" di tengah gempuran ponsel asal Tiongkok.
Memahami perjalanan Evercoss berarti melihat kembali dinamika industri telekomunikasi tanah air. Lahir di tahun 2008 dengan nama awal Cross Mobile di bawah PT Aris Indo Global, brand ini berhasil membaca celah pasar yang ditinggalkan raksasa seperti Nokia dan BlackBerry, yakni segmen menengah ke bawah. Strategi harga terjangkau dengan fitur lengkap seperti musik, kamera, dan SMS membuat Cross menjadi primadona di pelosok desa hingga kota besar.
Lonjakan drastis dalam perjalanan Evercoss terjadi pada tahun 2013 saat perusahaan melakukan rebranding. Nama Cross yang dianggap terlalu umum diganti menjadi Evercoss demi ambisi go international ke pasar Asia Tenggara dan Afrika. Langkah ini terbukti jitu, membawa brand ini ke puncak kejayaan sebagai salah satu dari lima besar vendor smartphone paling laku di Indonesia pada periode 2014-2016.
Puncak Kejayaan: Pabrik Rp 1 Triliun dan Android One
Masa keemasan Evercoss ditandai dengan langkah berani membangun pabrik perakitan sendiri di Semarang pada tahun 2014 dengan nilai investasi mencapai Rp 1 triliun. Langkah strategis ini diambil untuk memenuhi regulasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sekaligus mengendalikan kualitas produksi secara mandiri. Beberapa seri ikonik seperti Evercoss A-Series, Winner Series, dan Elevate Series menjadi bukti kuatnya cengkeraman mereka di pasar domestik.
Salah satu momentum paling diingat adalah peluncuran Evercoss One X pada tahun 2015, hasil kolaborasi dengan Google dalam program Android One. Ponsel ini meledak di pasaran dan terjual puluhan ribu unit hanya dalam waktu dua bulan. Strategi pemasaran yang masif dengan menggandeng selebriti papan atas serta menjadi sponsor utama ajang pencarian bakat seperti X-Factor dan Indonesian Idol membuat nama Evercoss kian melekat di hati masyarakat.
Penyebab Meredupnya Sang Jawara Lokal
Sayangnya, takhta tersebut mulai goyang saat vendor asal Tiongkok seperti Oppo, Vivo, Xiaomi, dan Realme mulai membanjiri pasar Indonesia. Brand-brand ini datang dengan inovasi teknologi yang lebih cepat, fitur kamera yang lebih canggih, dan strategi harga yang tak kalah agresif. Evercoss perlahan kehilangan daya tariknya karena kalah cepat dalam melakukan inovasi teknologi dibandingkan para pesaing baru tersebut.
Tantangan internal juga turut memperparah kondisi. Pada tahun 2020, kebijakan pemblokiran IMEI bagi perangkat yang belum terdaftar menghantam jalur produksi mereka. Situasi ini diperburuk oleh pandemi Covid-19 yang mengganggu rantai pasokan global. Akibatnya, perusahaan terpaksa melakukan efisiensi besar-besaran, termasuk merumahkan karyawan, yang semakin menenggelamkan popularitas mereka di pasar smartphone.
Nasib Evercoss di Tahun 2026: Masih Adakah?
Meski namanya tak lagi santer terdengar, Evercoss nyatanya belum menyerah. Brand ini masih aktif melakukan pivot bisnis dengan merambah ke produk teknologi lain seperti laptop, adaptor, perangkat TV digital, hingga tablet. Mereka masih eksis di berbagai platform e-commerce besar meskipun fokusnya tidak lagi murni pada ponsel pintar.
Pembaruan terakhir di lini smartphone terjadi pada tahun 2023 lewat peluncuran Evercoss Luna V6. Sejak saat itu, belum ada lagi suksesor ponsel terbaru yang dirilis. Kisah Evercoss menjadi pelajaran berharga bagi industri lokal bahwa di dunia teknologi yang bergerak sangat cepat, kemampuan untuk beradaptasi dan terus berinovasi adalah kunci utama untuk bertahan hidup.
Editor : Natasha Eka Safrina