JAKARTA – Bagi masyarakat Indonesia yang besar di era tahun 2000-an, nama HP Mito tentu sudah sangat tidak asing lagi. Sebagai salah satu pelopor brand ponsel lokal, Mito pernah mencatatkan sejarah manis dengan mendominasi pasar seluler tanah air. Namun, seiring berjalannya waktu, keberadaan ponsel yang dulu dijuluki "HP sejuta umat" ini perlahan mulai menghilang dari genggaman masyarakat, menyisakan tanda tanya besar mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada sang legenda lokal ini.
Kisah HP Mito dimulai pada tahun 2006 di bawah naungan PT Maju Express Indonesia. Di tengah dominasi raksasa global seperti Nokia dan Sony Ericsson yang harganya selangit, Mito hadir dengan strategi yang sangat cerdas: menawarkan teknologi canggih dengan harga yang sangat terjangkau bagi kelas menengah ke bawah. Kehadirannya menjadi angin segar bagi masyarakat Indonesia yang kala itu sangat haus akan teknologi komunikasi namun memiliki keterbatasan anggaran.
Masa kejayaan HP Mito mencapai puncaknya pada periode 2012 hingga 2014. Berdasarkan data riset IDC, Mito bersama beberapa brand lokal lainnya sempat menguasai hampir 25 persen pangsa pasar ponsel di Indonesia. Artinya, satu dari setiap empat pengguna ponsel di tanah air kala itu menggunakan produk buatan lokal. Namun, perkembangan teknologi yang sangat cepat ternyata menjadi pedang bermata dua yang akhirnya meruntuhkan dominasi brand lokal ini.
Inovasi TV Analog yang Mengubah Industri
Salah satu alasan utama mengapa HP Mito begitu dicintai adalah keberanian mereka dalam menghadirkan fitur-fitur unik yang sangat sesuai dengan selera pasar Indonesia. Fitur yang paling ikonik dan melegenda adalah TV analog. Sebelum era internet cepat dan layanan streaming menjamur, memiliki ponsel yang bisa digunakan untuk menonton siaran televisi di mana saja adalah sebuah kemewahan yang sangat fungsional.
Mito merupakan pionir yang mempopulerkan fitur TV analog ini, yang kemudian diikuti oleh banyak brand lokal lainnya. Selain TV, fitur dual SIM juga menjadi daya tarik luar biasa. Di masa itu, pengguna gemar berganti-ganti kartu SIM untuk mencari promo tarif termurah dari berbagai operator. Dengan distribusi yang sangat luas hingga ke konter pulsa di pelosok desa, Mito berhasil membangun basis konsumen loyal yang merasa terbantu dengan kehadiran teknologi murah meriah ini.
Ambisi Pabrik Sendiri dan Kerjasama Android One
Kesuksesan besar di segmen feature phone membuat Mito semakin percaya diri untuk masuk ke pasar smartphone. Salah satu momen paling bersejarah adalah ketika Google menunjuk Mito sebagai mitra resmi untuk proyek Android One di Indonesia pada tahun 2015. Kepercayaan dari raksasa teknologi dunia tersebut seolah mengukuhkan posisi Mito sebagai pemain kunci di industri seluler tanah air.
Tak tanggung-tanggung, Mito bahkan mengucurkan investasi sebesar Rp300 miliar untuk membangun pabrik perakitan sendiri di Tangerang, Banten. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya untuk meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dan mewujudkan kemandirian produksi. Pada masa ini, produk seperti Mito A60 Fantasy menjadi primadona anak muda karena harganya yang murah namun sudah bisa menjalankan aplikasi-aplikasi populer seperti BlackBerry Messenger (BBM) dan WhatsApp.
Gempuran Brand Tiongkok dan Perubahan Perilaku Konsumen
Sayangnya, bulan madu Mito tidak berlangsung lama. Memasuki tahun 2017, peta persaingan smartphone di Indonesia berubah total. Brand-brand asal Tiongkok seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo masuk secara masif dengan strategi harga yang sangat agresif. Mereka menawarkan spesifikasi perangkat keras yang jauh lebih tinggi dan dukungan pembaruan perangkat lunak (software update) yang lebih terjamin dibandingkan brand lokal.
Konsumen Indonesia pun mulai berubah. Ponsel bukan lagi sekadar alat telepon dan SMS, melainkan perangkat gaya hidup yang butuh performa kencang untuk bermain game online dan media sosial. Mito yang selama ini mengandalkan metode rebranding produk dari luar tanpa riset mendalam mulai kesulitan beradaptasi. Fitur TV analog yang dulu menjadi andalan kini dianggap tidak relevan lagi di era digital. Akibatnya, pangsa pasar brand lokal yang dulu perkasa perlahan menciut hingga hanya tersisa di bawah 6 persen pada tahun 2018.
Nasib Mito Sekarang: Banting Setir ke Peralatan Rumah Tangga
Meski divisi ponselnya telah tumbang dan kalah bersaing di era smartphone, brand Mito ternyata tidak benar-benar mati. Belajar dari kerasnya persaingan di dunia gadget, Mito kini melakukan transformasi besar-besaran atau banting setir ke industri peralatan elektronik rumah tangga. Kini, nama Mito justru lebih dikenal oleh kaum ibu rumah tangga melalui produk-produk seperti air fryer, rice cooker, mixer, hingga oven listrik yang laris manis di berbagai e-commerce.
Perjalanan HP Mito memberikan pelajaran berharga bagi seluruh pelaku industri teknologi tentang pentingnya inovasi dan adaptasi. Meskipun tidak lagi merajai pasar ponsel, Mito tetap menjadi bagian dari sejarah perkembangan teknologi di Indonesia yang pernah membuktikan bahwa produk lokal mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Semoga transformasi yang dilakukan saat ini mampu membuat nama Mito tetap bertahan di tengah gencarnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) di masa depan.
Editor : Natasha Eka Safrina