JAKARTA – Bagi masyarakat Indonesia, awal tahun 2000-an adalah era di mana memiliki telepon genggam atau HP terasa seperti mimpi yang sangat mahal. Bayangkan saja, dengan rata-rata UMR Jakarta saat itu yang hanya berkisar di angka Rp200.000 hingga Rp300.000, harga satu unit ponsel Nokia bisa mencapai jutaan rupiah. Namun, di tengah ketimpangan akses teknologi tersebut, muncul sebuah nama yang kemudian menjadi pahlawan bagi kelas menengah ke bawah: HP Mito.
Lahir pada tahun 2006 di bawah naungan PT Maju Express Indonesia, Mito muncul dengan visi yang sangat jelas di bawah komando sang CEO, Hansen Lee. Alih-alih bersaing secara langsung di mal-mal mewah, Mito memilih strategi "gerilya" dengan bekerja sama dengan ribuan pengecer kecil dan konter pulsa di pinggir jalan. Strategi volume besar dengan margin keuntungan tipis ini terbukti sangat efektif, hingga membawa HP Mito merangsek masuk ke jajaran tiga besar vendor smartphone di tanah air.
Namun, kejayaan tersebut kini seolah tinggal kenangan di industri seluler. Nama yang dulu selalu menghiasi layar kaca dengan iklan-iklan ajaibnya kini nyaris hilang dari peredaran pasar smartphone. Apakah HP Mito sudah bangkrut atau justru sedang menyusun kekuatan baru di bidang yang berbeda? Menelusuri nasibnya saat ini membawa kita pada sebuah kisah adaptasi bisnis yang luar biasa unik di tengah gempuran brand global.
Inovasi TV Portable dan Penjualan Kilat 10.000 Unit
Keberhasilan HP Mito di masa lalu bukan tanpa alasan. Mereka adalah brand yang paling paham dengan karakter konsumen Indonesia. Di era sebelum YouTube dan koneksi 4G menjamur, Mito menghadirkan fitur TV analog dengan antena fisik pada ponselnya. Inovasi ini menjadikan HP Mito sebagai TV portable yang sangat diminati oleh pekerja informal seperti tukang ojek dan pedagang pasar sebagai sarana hiburan saat bekerja.
Tak hanya itu, fitur dual SIM yang kini menjadi standar global, dipopulerkan oleh Mito di Indonesia untuk mengakali promo tarif operator yang berbeda-beda. Puncaknya terjadi pada tahun 2014, saat seri Mito A60 Fantasy U diluncurkan. Dengan harga hanya Rp795.000, ponsel ini ludes terjual sebanyak 10.000 unit hanya dalam waktu satu hari. Prestasi ini bahkan sempat membuat Google melirik Mito sebagai mitra resmi proyek Android One di Indonesia melalui produk bernama Mito Impact.
Strategi Marketing Gila-gilaan Melawan Stigma "HP Cina"
Salah satu kunci sukses Mito adalah keberanian mereka dalam melakukan strategi pemasaran "bakar duit". Untuk melawan stigma bahwa ponsel lokal adalah "HP Cina murahan" yang ringkih, Mito menggandeng artis papan atas seperti Deddy Corbuzier dan pesulap Limbad. Penggunaan pesulap sebagai brand ambassador bertujuan membangun framing bahwa HP Mito adalah perangkat yang sakti, kuat, dan canggih secara teknologi.
Mito juga rutin menggunakan penyanyi populer seperti Afgan dan Olla Ramlan untuk menonjolkan keunggulan speaker ponsel mereka yang terkenal keras dan menggelegar. Promosi masif ini berhasil menancapkan brand awareness yang sangat kuat di benak masyarakat daerah. Sayangnya, dominasi ini mulai goyah saat gelombang brand Tiongkok seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo masuk secara agresif ke Indonesia dengan spesifikasi gahar namun harga tetap terjangkau.
Banting Setir: Dari Smartphone Menuju Penguasa Chopper
Lalu, bagaimana nasib HP Mito sekarang? Meski divisi ponselnya hancur lebur—di mana pangsa pasar brand lokal merosot tajam dari 25 persen menjadi hanya 6 persen—perusahaan ini ternyata belum mati. Mito melakukan langkah adaptasi yang sangat ekstrem dengan berpindah haluan total ke peralatan rumah tangga. Jika Anda mengenal brand "Mitochiba", itulah wajah baru dari grup Mito saat ini.
Mito kini telah meninggalkan pasar smartphone yang berdarah-darah dan beralih menjadi produsen elektronik rumah tangga seperti air fryer, oven, mesin cuci, hingga produk unggulannya, Magic Chopper. Produk Chopper seri CH100 dan CH200 menjadi penyelamat perusahaan. Dari yang dulu dianggap sebagai produsen "HP plastik", kini persepsi masyarakat berubah total: Mito adalah merek blender dan alat masak yang tahan banting dan berkualitas tinggi.
Kini, cara promosi mereka pun berubah total mengikuti zaman. Dari iklan TV konvensional menjadi strategi "racun TikTok" dan penggunaan influencer masak yang sering melakukan demo produk secara satisfying. Meski kecil kemungkinan Mito akan kembali ke dunia smartphone, keberhasilan mereka bertransformasi dari jualan HP ke jualan alat dapur menjadi pelajaran berharga tentang betapa pentingnya adaptasi dalam menjaga eksistensi sebuah brand lokal di tengah persaingan global yang kejam.
Editor : Natasha Eka Safrina