Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Motor Listrik Sepi Peminat! Ini Alasan Penjualan Anjlok hingga 80% Meski Sempat Disubsidi

Auliya Nur'Aini Khafadzoh • Senin, 13 April 2026 | 13:00 WIB
Motor listrik sepi peminat! Penjualan anjlok hingga 80% usai subsidi dicabut. Ini penyebab utama masyarakat belum tertarik.(Pinterest)
Motor listrik sepi peminat! Penjualan anjlok hingga 80% usai subsidi dicabut. Ini penyebab utama masyarakat belum tertarik.(Pinterest)

Trenggalek - Motor listrik yang sempat digadang-gadang menjadi masa depan transportasi di Indonesia justru mengalami penurunan drastis. Meski pernah didorong dengan subsidi pemerintah, fakta di lapangan menunjukkan penjualan motor listrik belum mampu bersaing dengan motor konvensional berbahan bakar bensin.

Indonesia dikenal sebagai salah satu pasar sepeda motor terbesar di dunia. Setiap tahun, penjualan motor bisa mencapai hampir 6 juta unit. Tingginya angka ini dipengaruhi oleh harga motor yang relatif terjangkau, biaya perawatan murah, serta konsumsi bahan bakar yang efisien. Tak heran, motor menjadi pilihan utama masyarakat dibanding transportasi umum.

Namun, tren tersebut tidak sepenuhnya berlaku pada motor listrik. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah berupaya mendorong penggunaan kendaraan listrik melalui berbagai insentif, termasuk subsidi. Harapannya, motor listrik bisa menjadi solusi ramah lingkungan sekaligus alternatif kendaraan masa depan.

Sayangnya, setelah subsidi mulai dicabut, penjualan motor listrik justru mengalami penurunan tajam. Bahkan, pada 2025, pasar motor listrik disebut anjlok hingga 80 persen. Angka ini jauh lebih signifikan dibandingkan penurunan pada sektor mobil listrik.

Ekosistem Belum Siap

Salah satu penyebab utama rendahnya minat masyarakat terhadap motor listrik adalah belum siapnya ekosistem pendukung. Pengisian daya baterai masih menjadi kendala besar.

Berbeda dengan motor bensin yang bisa diisi bahan bakar dalam hitungan menit, motor listrik membutuhkan waktu pengisian hingga 6 jam. Selain itu, jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) masih terbatas, terutama untuk sepeda motor.

Beberapa produsen memang menawarkan sistem tukar baterai (swap battery). Namun, fasilitas ini belum tersedia secara luas, sehingga belum menjadi solusi praktis bagi pengguna.

Jarak Tempuh dan Performa Jadi Sorotan

Selain pengisian daya, jarak tempuh juga menjadi pertimbangan penting. Rata-rata motor listrik saat ini hanya mampu menempuh 50 hingga 100 kilometer dalam sekali pengisian baterai.

Secara teori, angka tersebut cukup untuk kebutuhan harian di dalam kota. Namun, dalam praktiknya, fleksibilitas menjadi terbatas. Pengguna tidak leluasa melakukan perjalanan jarak jauh secara mendadak, seperti touring atau perjalanan lintas kota.

Baca Juga: Yamaha Mio Street 125 Hybrid 2026 Resmi Jadi Sorotan! Motor Matic Irit, Stylish, dan Canggih Ini Dibanderol Rp22 Jutaan

Dari sisi performa, motor listrik juga dinilai belum maksimal. Kecepatan rata-rata masih di bawah 100 km/jam. Meski memiliki torsi awal yang besar, performa di kecepatan tinggi masih terasa kurang nyaman bagi sebagian pengguna.

Kenyamanan dan Kualitas Masih Dipertanyakan

Faktor lain yang turut memengaruhi adalah kenyamanan berkendara. Banyak motor listrik, terutama di segmen harga terjangkau, dinilai memiliki kualitas suspensi yang kurang baik. Akibatnya, berkendara di jalan tidak rata terasa kurang nyaman.

Selain itu, pengalaman pengguna dalam hal pengisian baterai juga menjadi sorotan. Beberapa model mengharuskan baterai dilepas untuk diisi daya, dengan bobot yang bisa mencapai 20 kilogram. Hal ini tentu menyulitkan pengguna, terutama jika harus dilakukan setiap hari.

Harga Jual Kembali Anjlok

Masalah lain yang tak kalah penting adalah harga jual kembali. Berbeda dengan motor bensin yang relatif stabil, motor listrik cenderung mengalami penurunan harga yang drastis.

Bahkan, harga baru beberapa model motor listrik seringkali didiskon besar-besaran oleh produsen. Kondisi ini membuat konsumen ragu karena nilai investasi kendaraan menjadi tidak jelas.

Skema Sewa Baterai Belum Diterima

Untuk mengatasi harga tinggi, produsen menawarkan skema sewa baterai. Dengan sistem ini, harga motor bisa lebih murah, tetapi pengguna harus membayar biaya sewa bulanan.

Namun, skema ini justru menimbulkan masalah baru. Sebagian besar masyarakat Indonesia membeli motor secara kredit. Artinya, mereka harus menanggung dua beban sekaligus: cicilan motor dan biaya sewa baterai.

Tak sedikit pengguna yang akhirnya kesulitan membayar biaya tambahan tersebut. Akibatnya, skema ini belum diterima secara luas oleh pasar.

Minim Edukasi Jadi Penghambat

Di balik semua kendala tersebut, ada satu faktor krusial yang sering diabaikan, yaitu edukasi. Banyak konsumen belum memahami keunggulan motor listrik dibandingkan motor bensin.

Padahal, motor listrik memiliki sejumlah kelebihan, seperti bebas emisi, tidak perlu bahan bakar, dan minim perawatan karena tidak memerlukan oli. Namun, tanpa edukasi yang masif, keunggulan ini tidak tersampaikan dengan baik ke masyarakat.

Sebagai perbandingan, keberhasilan motor matic di Indonesia tidak lepas dari edukasi yang dilakukan produsen kepada konsumen. Tanpa pendekatan tersebut, perubahan pasar tidak akan terjadi.

Butuh Strategi Lebih dari Sekadar Subsidi

Pengamat menilai, subsidi saja tidak cukup untuk mendorong pertumbuhan pasar motor listrik. Diperlukan strategi yang lebih komprehensif, termasuk edukasi, peningkatan infrastruktur, dan inovasi produk yang sesuai kebutuhan masyarakat.

Test ride, kampanye edukatif, serta peningkatan kualitas produk menjadi langkah penting agar masyarakat lebih percaya dan tertarik beralih ke motor listrik.

Jika tidak, motor listrik akan terus dipandang sebagai kendaraan yang “ribet” dan kurang praktis dibandingkan motor konvensional.

 

Editor : Auliya Nur'Aini Khafadzoh
#Penjualan Mobil Listrik #harga motor listrik #motor listrik