KOTA, Radar Trenggalek -Di sebuah sudut Bumi Menak Sopal, di mana deru mesin industri mulai bersahutan dengan lantunan salawat, seorang perempuan berdiri tegak di persimpangan dua dunia.
Beliau adalah Hj. Farikotul Chasanah, S.Ag., M.M., sosok yang kini menjadi perbincangan hangat sebagai "arsitek" di balik lahirnya pendidikan tinggi berbasis pesantren pertama di Trenggalek.
Bagi banyak orang, menggabungkan logika teknologi dengan kedalaman spiritual pesantren adalah tantangan mustahil.
Namun, bagi Rektor Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Trenggalek ini, keduanya adalah dua sisi mata uang yang tidak boleh dipisahkan.
Baca Juga: Sosok Perempuan Inspiratif Asal Trenggalek, Ari Ardani, Konsisten Berkarya di Dunia Rias
Lahir dan besar dalam kultur pesantren yang kental, Hajah Farikotul Chasanah bukanlah sosok baru dalam dunia dakwah.
Sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Ar-Ridwan, ia memahami betul bahwa karakter manusia dibentuk dari sujud-sujud panjang dan kajian kitab kuning.
Dedikasinya pada literasi keislaman pun tertuang nyata dalam kitab Al Ibadatul Yaumiyah, sebuah panduan ibadah praktis yang kini menjadi pegangan banyak santri.
Baca Juga: Bangkit dari Titik Terendah, Tekuni Bisnis Kecantikan
Namun, pengabdiannya tidak berhenti di balik tembok pesantren. Ia dikenal sebagai penggerak umat yang lincah sebagai Dewan Pembina Muslimat NU Trenggalek.
Menjadi kompas bagi pergerakan perempuan nahdliyin. Ketua Harokah Majlis Ta’lim (HMT) Trenggalek ini juga menghidupkan majelis-majelis ilmu di akar rumput.
Selain itu ia menuangkan pemikiran spiritual dalam bentuk karya tulis yang relevan.
Langkahnya mencatatkan sejarah saat ia memelopori pendirian institusi pendidikan formal berbasis teknologi dan bisnis pertama di Trenggalek.
Sebagai salah satu pelopor perempuan pendiri perguruan tinggi di Jawa Timur, ia membawa misi yang melampaui sekadar gelar akademik.
"Keberanian beliau mendirikan ITB Trenggalek adalah langkah progresif," ujar salah satu kolega pendidik.
"Ini bukan hanya soal menyediakan gedung kuliah, tapi soal memutus rantai keterbatasan akses pendidikan tinggi bagi masyarakat lokal yang selama ini harus merantau jauh untuk belajar teknologi, “ tukasnya.
Di ruang rektorat ITB Trenggalek, visi besar itu dirajut. Ibu dua anak ini, seringkali menekankan bahwa penguasaan teknologi dan bisnis tanpa pondasi akidah hanya akan melahirkan raga tanpa jiwa.
"Cita-cita kami adalah membangun pendidikan tinggi yang memiliki keilmuan berbasis agama. Kami ingin menciptakan manusia yang tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga kokoh secara beraqidah," tuturnya penuh keyakinan.
Baginya, mahasiswa ITB Trenggalek harus menjadi sosok Ulul Albab—mereka yang mampu menaklukkan algoritma dan dinamika pasar, namun tetap menundukkan kepala di hadapan Sang Pencipta.
Kini, ITB Trenggalek di bawah kepemimpinannya bertransformasi menjadi "kawah candradimuka". Di tangan Hj. Farikotul Chasanah, pendidikan tinggi bukan lagi menara gading yang jauh dari nilai religius.
Ia membuktikan bahwa seorang perempuan, seorang Nyai, dan seorang akademisi bisa berdiri di garis depan untuk memastikan bahwa masa depan Trenggalek tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga berkah secara tradisi.
Ia adalah bukti hidup bahwa di tangan yang tepat, teknologi tidak akan menggerus iman; justru, teknologi akan menjadi alat yang perkasa untuk mensyiarkan kebenaran. (gun/din)
Editor : Adinda Putri Sefiana