PERJALANAN menuju prestasi sering kali dimulai dari hal sederhana. Bagi Priska Wulan Ramadhani, remaja 18 tahun asal Dusun Ngampon, Desa Rejowinangun, Kecamatan Trenggalek, kegemarannya merekam momen dan mengedit video justru menjadi pintu pembuka menuju panggung nasional.
Perempuan kelahiran Pasuruan, 7 Oktober 2007, itu awalnya tidak pernah membayangkan ketertarikannya di dunia konten digital akan membawanya bertemu banyak anak muda berbakat dari berbagai daerah di Indonesia.
Semua bermula ketika ia aktif membuat dokumentasi kegiatan dan mengunggahnya ke media sosial.
Baca Juga: Gadis Asal Trenggalek, Alifia Putri Sasi Ramadhani, Empat Hobi yang Bentuk Karakter Diri
Dari aktivitas sederhana itu, Priska mulai menyadari bahwa ia memiliki ketertarikan dalam menyampaikan cerita melalui visual.
Kesempatan lebih besar datang ketika ia mengetahui adanya seleksi kreator muda tingkat nasional yang diikuti pelajar SMA dan SMK dari seluruh Indonesia.
Priska memutuskan mencoba, meski tanpa pengalaman besar di dunia kreatif. Selama proses seleksi, dia harus menyelesaikan berbagai tantangan produksi konten dalam waktu singkat.
Kondisinya semakin menantang karena saat itu dirinya juga sedang menjalani praktik kerja lapangan (PKL).
Baca Juga: Gadis Asal Trenggalek, Nadhifa Anggun Ramadani, dari Iseng Jadi Sumber Inspirasi Anak Muda
Rutinitasnya berubah. Pagi hingga sore menjalankan kewajiban PKL, malam hari mengerjakan konsep, menulis naskah, mengambil gambar, lalu mengedit video hingga dini hari.
Bahkan di salah satu tahap, dia sempat salah memahami tema tugas dan harus mengulang seluruh konsep dalam waktu kurang dari sehari.
“Saat itu sempat panik, tapi saya pikir kalau berhenti di tengah jalan, semua usaha sebelumnya sia-sia,” ujarnya, siswa SMKN 1 Trengggalek ini.
Semangat itulah yang akhirnya mengantarkan Priska lolos ke tahap nasional dan masuk jajaran lima besar peserta terbaik.
Dalam karya-karyanya, dia memilih mengangkat tema lingkungan dan budaya, termasuk potensi alam dan kualitas udara di Trenggalek.
Bagi Priska, konten bukan sekadar hiburan atau mengikuti tren. Dia melihat media digital sebagai ruang untuk mengenalkan cerita baik dari daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
Dia berharap semakin banyak anak muda, khususnya dari daerah, berani mencoba hal baru dan percaya bahwa tempat tinggal bukan batas untuk berkembang.
“Anak daerah juga punya kesempatan yang sama. Yang penting berani mulai dan konsisten,” tuturnya. (bim/din)
Editor : Adinda Putri Sefiana