JAKARTA - Sayuran liar di sawah kembali menjadi perhatian publik setelah sebuah video petualangan mencari tanaman liar untuk dikonsumsi ramai dibahas warganet. Dalam video tersebut, seorang ibu memperlihatkan berbagai jenis sayuran liar yang tumbuh alami di area persawahan dan ternyata masih sering dikonsumsi masyarakat desa.
Video yang diunggah itu memperlihatkan aktivitas berburu sayuran liar di tengah sawah saat cuaca mendung. Sang pembuat video menjelaskan bahwa beberapa jenis sayuran tersebut kini sudah sangat jarang ditemukan di pasar tradisional karena biasanya hanya tumbuh alami di area persawahan.
Sayuran liar di sawah tersebut antara lain krema, semanggen, eceng sawah, hingga tolot. Meski terdengar asing bagi sebagian masyarakat perkotaan, tanaman-tanaman ini ternyata masih populer di sejumlah daerah sebagai bahan masakan tradisional seperti urap dan pecel.
Baca Juga: Analisis Kebijakan Pembebasan Denda Pajak Daerah di Kabupaten Sidoarjo Tahun 2026
Krema Jadi Sayuran Liar Favorit
Jenis sayuran pertama yang ditemukan adalah krema. Tanaman ini tumbuh di area sawah dan sekilas tampak mirip rumput sehingga cukup sulit dikenali oleh orang awam.
Dalam video dijelaskan bahwa terdapat dua jenis krema, yakni krema biasa dan krema berbunga. Keduanya sama-sama bisa dimakan, namun krema berbunga memiliki rasa sedikit pahit sehingga masyarakat lebih menyukai krema biasa.
“Krema yang berbunga agak pahit, jadi lebih enak yang biasa,” ujar sang pembuat video saat menunjukkan tanaman tersebut.
Tanaman ini biasanya diolah menjadi sayuran sederhana untuk lauk makan sehari-hari. Karena tumbuh liar, masyarakat harus mencarinya langsung ke sawah dan tidak bisa dengan mudah menemukannya di pasar.
Selain krema, terdapat pula semanggen yang tumbuh cukup melimpah di area persawahan. Tanaman ini memiliki bentuk menyerupai kecambah dengan batang lurus dan daun kecil.
Cara memanennya cukup mudah, yakni dengan memetik bagian daun muda tanpa mencabut akar tanaman agar tetap bisa tumbuh kembali.
Eceng Sawah hingga Tolot Banyak Dimanfaatkan
Petualangan mencari sayuran liar itu juga menemukan eceng sawah berukuran kecil. Tanaman ini disebut cocok dijadikan urap karena teksturnya lembut setelah direbus.
Menariknya, bagian bunga eceng sawah juga bisa dimakan. Sang pembuat video bahkan memperlihatkan cara memetik bagian muda tanaman agar hasil olahan terasa lebih empuk.
Jenis lain yang ditemukan adalah tolot. Bentuknya hampir menyerupai krema, namun ukuran daunnya lebih kecil. Tanaman ini juga biasa dimanfaatkan masyarakat desa sebagai bahan urap maupun pecel.
Baca Juga: iPhone 13 di 2026 Disebut Serba Nanggung, Masih Worth It Dibeli atau Malah Ketinggalan Zaman?
Dalam video tersebut, pembuat konten sempat bertemu warga sekitar yang juga sedang mencari sayuran liar di sawah. Warga menyebut tanaman-tanaman itu memang memiliki rasa enak dan cocok diolah menjadi berbagai menu tradisional.
“Enak buat pecel, buat urap juga enak,” kata seorang warga dalam percakapan di video tersebut.
Warga juga mengingatkan agar berhati-hati saat memetik tanaman liar karena terdapat beberapa jenis tumbuhan yang tampak mirip namun tidak layak dikonsumsi.
Baca Juga: iPhone 12 Masih Worth It di 2026? Harga Bekas Kini Rp4 Jutaan, Kamera dan Gaming Masih Ngebut
Sayuran Liar Musiman dan Sulit Ditemukan
Menurut penjelasan dalam video, sayuran liar seperti krema, semanggen, dan tolot biasanya tumbuh melimpah saat musim kemarau. Pada periode tertentu, tanaman ini bahkan bisa memenuhi area sawah dan mudah dipanen warga.
Namun saat musim berganti, keberadaannya mulai berkurang sehingga cukup sulit ditemukan. Hal itulah yang membuat sayuran liar ini jarang dijual di pasar tradisional.
Setelah berhasil mengumpulkan beberapa jenis tanaman liar, sang pembuat video kemudian mengolahnya menjadi sayur urap. Sayuran hanya direbus sebelum dicampur dengan bumbu urap khas rumahan.
Hasil masakan tersebut disebut memiliki rasa gurih dan unik karena perpaduan berbagai dedaunan liar yang tumbuh alami di sawah.
Fenomena berburu sayuran liar sebenarnya bukan hal baru di pedesaan. Selain menjadi alternatif bahan pangan gratis, tradisi ini juga menjadi bagian dari budaya masyarakat yang memanfaatkan sumber makanan alami di sekitar lingkungan.
Kini, di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap pangan alami dan gaya hidup sehat, berbagai jenis sayuran liar mulai kembali dilirik. Banyak warganet mengaku baru mengetahui bahwa tanaman-tanaman yang sering dianggap gulma ternyata bisa dimasak dan memiliki cita rasa khas.
Video tersebut pun mendapat respons positif karena dianggap menambah wawasan tentang kekayaan pangan tradisional Nusantara yang mulai jarang dikenal generasi muda.
Editor : Novica Satya Nadianti