JAKARTA - Tanaman liar edible atau rumput liar yang bisa dikonsumsi ternyata masih banyak ditemukan di area perumahan dan perbukitan. Beberapa di antaranya bahkan memiliki nilai ekonomi tinggi karena dijual sebagai bahan makanan hingga obat herbal.
Hal itu diungkap seorang pegiat berkebun dalam video berburu tanaman liar edible di kawasan komplek perumahan tempat tinggalnya. Dalam video tersebut, ia menunjukkan berbagai jenis rumput liar yang ternyata aman dikonsumsi dan kaya manfaat kesehatan.
Tanaman liar edible seperti daun sintrong, pegagan, hingga tempuyung disebut tumbuh subur di area sekitar perumahan karena kondisi lingkungan yang masih hijau dan alami. Kawasan tersebut berada di dataran menengah yang dikelilingi bukit, sehingga suasananya sejuk terutama saat musim hujan.
“Masih banyak tanaman liar yang bermanfaat,” ujarnya dalam video.
Hamparan bukit hijau dan lingkungan yang masih asri membuat berbagai tanaman herbal tumbuh liar tanpa perlu dibudidayakan secara khusus. Kondisi itulah yang dimanfaatkan warga untuk mengenali dan memanfaatkan tanaman edible alami di sekitar rumah.
Daun Sintrong Jadi Rumput Edible Favorit
Salah satu tanaman liar edible yang paling banyak ditemukan adalah daun sintrong. Tanaman ini tumbuh liar di pinggir jalan, tanah kosong hingga sela rerumputan.
Menurut pembuat video, daun sintrong sangat mudah tumbuh hanya dari biji bunga tua yang disebarkan ke tanah. Bahkan ia mengaku pernah menanamnya sendiri di polybag dan hasilnya tumbuh subur.
Meski masih banyak orang menganggapnya sebagai rumput biasa, daun sintrong ternyata cukup populer di pasaran. Ia menyebut daun tersebut dijual di marketplace dengan harga mencapai Rp30 ribuan per kilogram.
Selain itu, berbagai resep olahan daun sintrong juga banyak ditemukan di internet. Mulai dari tumisan, urap, hingga campuran jus sehat.
Baca Juga: iPhone 14 Pro Max Masih Jadi Incaran di 2026, Harga Turun 50 Persen Tapi Performanya Masih Gahar
“Kalau saya biasanya lebih suka dilalap sama sambal,” katanya.
Daun sintrong dikenal sebagai salah satu sayuran kampung yang memiliki rasa khas dan sering dikonsumsi masyarakat pedesaan sejak lama.
Pegagan dan Tempuyung Banyak Dicari
Selain daun sintrong, tanaman liar edible lain yang banyak tumbuh di kawasan itu adalah pegagan atau Centella asiatica. Tanaman ini dikenal luas sebagai bahan dasar obat herbal karena dipercaya memiliki banyak manfaat kesehatan.
Baca Juga: iPhone 14 Masih Worth It Dibeli di 2026? Ini Kelebihan dan Kekurangan yang Wajib Dipertimbangkan
Pegagan tumbuh menutupi tanah seperti rumput dan sangat mudah dipanen. Warga biasanya langsung memetik daun segarnya untuk direbus atau dijadikan lalapan.
Tanaman herbal ini juga memiliki nilai ekonomi karena dijual dalam berbagai bentuk, mulai dari daun segar, bibit, daun kering hingga serbuk herbal.
Tidak jauh dari area selokan perumahan yang dialiri air jernih dari bukit, tumbuh pula daun tempuyung. Tanaman ini disebut sering dimanfaatkan sebagai obat herbal alami, terutama untuk kesehatan saluran kemih.
Baca Juga: iPhone 13 di 2026 Disebut Serba Nanggung, Masih Worth It Dibeli atau Malah Ketinggalan Zaman?
“Kalau searching di marketplace juga banyak yang jual,” jelasnya.
Tempuyung dikenal sebagai tanaman liar yang mampu tumbuh di berbagai tempat, termasuk area berbatu dan pinggir jalan. Biji bunganya yang mudah tersebar membuat tanaman ini cepat berkembang biak secara alami.
Kacang Koro Tumbuh Liar di Perumahan
Video tersebut juga memperlihatkan tanaman kacang koro yang tumbuh merambat di area sekitar perumahan. Tanaman yang memiliki banyak nama seperti kacang roti dan kacang pedang itu disebut mudah ditanam dan termasuk tanaman perennial atau mampu hidup lama.
Menurutnya, warga di kawasan tersebut memang gemar bercocok tanam sehingga lingkungan tetap hijau dan dipenuhi berbagai tanaman pangan alami.
Fenomena tanaman liar edible kini mulai banyak diminati masyarakat, terutama kalangan pecinta berkebun dan gaya hidup sehat. Selain mudah ditemukan, tanaman tersebut juga dianggap lebih alami karena tumbuh tanpa banyak campuran bahan kimia.
Banyak tanaman liar yang dulunya dianggap gulma kini justru memiliki nilai jual tinggi karena dimanfaatkan sebagai bahan makanan sehat dan obat herbal tradisional. Pengetahuan tentang tanaman edible pun perlahan kembali diminati masyarakat perkotaan yang ingin lebih dekat dengan alam.
Video berburu rumput liar edible itu sekaligus memperlihatkan bahwa lingkungan sekitar rumah sebenarnya menyimpan banyak sumber pangan alami yang selama ini sering diabaikan.
Editor : Novica Satya Nadianti