KOTA, Radar Trenggalek - Di tengah derasnya arus konten media sosial yang serba instan, sosok Wahyu Widodo alias Tombro Widodo, justru hadir dengan cara berbeda.
Pria asal Trenggalek yang kini berusia 34 tahun itu dikenal luas sebagai “tukang ngarit dari Ngadilengking”. Namun di mata netizen, dia punya julukan lain yang unik: “Profesor Ngaritmatika”.
Julukan itu muncul karena konten-kontennya yang membahas aktivitas sederhana, termasuk mencari rumput untuk ternak, tetapi dikemas menggunakan istilah fisika dan matematika. Hal yang biasa di desa mendadak terasa lucu, cerdas, sekaligus menghibur.
Sebelum dikenal sebagai kreator konten, Tombro sebenarnya lebih dulu menekuni dunia videografi. Sejak sekitar 2013, dia sudah membuat film pendek dan konten di YouTube.
Kemampuannya mengoperasikan kamera, menyusun komposisi gambar, hingga mengedit video membuatnya yakin memilih jalan sebagai videografer profesional pada 2017.
Namun pandemi Covid-19 mengubah semuanya. Dunia acara dan hiburan lumpuh total.
Job videografi menghilang karena pembatasan kegiatan. Dalam kondisi itulah dia mulai mencoba membuat konten di TikTok, meski sebelumnya dia mengaku tidak pernah tertarik dengan aplikasi tersebut.
Baca Juga: Working Mom Ala Warga Trenggalek, Anggun Cucu Priwahyuni Tak Lupakan Gaya Hidup Sehat
Konten pertamanya sangat sederhana. Dia hanya berbicara tentang laki-laki sebagai “tulang punggung, bukan tulang tulung”.
Tak disangka, video itu ditonton banyak orang dan dibanjiri komentar. Dari situlah dia mulai serius membuat konten.
Ciri khas kaus kuning hijau yang kini melekat pada dirinya juga lahir tanpa sengaja.
Awalnya dia memakai kaus hadiah pupuk saat membuat konten keseharian petani.
Karena ada tulisan merek di baju, kaus itu dibalik. Lucunya, netizen justru lebih fokus membahas bajunya daripada isi videonya.
Tombro kemudian sadar bahwa hal itu bisa menjadi identitas visual yang kuat. Sejak saat itu, lahirlah personal branding petani berkostum kuning hijau.
Ide “ngaritmatika” sendiri muncul dari keinginannya menghadirkan konten petani yang berbeda.
Dia terinspirasi dari gaya bahasa “tinggi” ala konten desa yang absurd dan menghibur. Aktivitas ngarit kemudian dipadukan dengan rumus-rumus matematika serta fisika.
Baca Juga: Sosok Perempuan Inspiratif Asal Trenggalek, Ari Ardani, Konsisten Berkarya di Dunia Rias
Ironisnya, Tombro mengaku, dirinya bukan ahli fisika. Dia lulusan SMK otomotif dan bahkan bercanda bahwa sekolah baginya hanya “sebatas gerbang lalu ke warung kopi”.
Karena itu, setiap kontennya selalu melalui riset dan penulisan naskah yang matang sebelum direkam menggunakan teleprompter. "Saya itu orangnya kosong. Tidak bisa spontan,” ujarnya sambil tertawa.
Di balik kesederhanaannya, Tombro menyimpan mimpi besar. Dia ingin belajar stand up comedy, mencoba dunia akting, bahkan bercita-cita suatu hari bisa bermain film bersama Joko Anwar. Meski begitu, dia tetap rendah hati.
Baginya, laut memang luas dan indah, tetapi dia sadar dirinya hanyalah “ikan kecil” yang nyaman hidup di sungai sendiri.
Sejak ayahnya terkena stroke pada 2024, Tombro mulai mengubah pola hidupnya. Dia rutin berlari, mendaki gunung, bersepeda, dan menjaga makanan.
Kalimat seorang perawat di rumah sakit terus teringat di kepalanya: bahwa dirinya juga punya risiko stroke jika tidak menjaga kesehatan.
Dari sawah sederhana di Trenggalek, Tombro Widodo membuktikan bahwa kreativitas tidak harus lahir dari kota besar.
Kadang, inspirasi justru datang dari rumput, cangkul, dan keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri. (gun/din)
Editor : Adinda Putri Sefiana