JAKARTA - Film The Boy and the Heron kembali ramai diperbincangkan setelah sejumlah YouTuber Indonesia mengulas karya terbaru Hayao Miyazaki tersebut. Banyak penonton menyebut film produksi Studio Ghibli itu sebagai salah satu karya paling kompleks dan penuh metafora dibanding film Ghibli lainnya.
Keyword “The Boy and The Heron” bahkan mulai banyak dicari penggemar anime setelah muncul berbagai review yang menyebut film tersebut tidak cocok untuk semua penonton. Beberapa kreator konten menilai film ini terlalu berat karena dipenuhi simbolisme dan alur cerita yang sulit dipahami secara langsung.
Meski demikian, visual animasi serta kualitas audio dalam film tersebut tetap menuai pujian. Banyak penggemar Studio Ghibli menyebut The Boy and The Heron memiliki detail gambar yang memanjakan mata dan pengalaman sinematik yang kuat saat ditonton di bioskop.
Dianggap Film Studio Ghibli Paling Kompleks
Dalam berbagai ulasan YouTube, film The Boy and The Heron disebut berbeda dibanding karya populer Studio Ghibli seperti Spirited Away, Howl's Moving Castle, maupun Ponyo.
Jika film-film sebelumnya masih memiliki garis cerita yang mudah diikuti, The Boy and The Heron justru dinilai lebih abstrak dan filosofis. Penonton harus memahami berbagai metafora yang disisipkan Hayao Miyazaki sepanjang cerita.
Film tersebut mengisahkan Mahito, seorang anak laki-laki yang kehilangan ibunya pada masa Perang Dunia II. Setelah ayahnya menikah lagi, Mahito pindah ke pedesaan dan bertemu seekor bangau misterius atau heron yang membawanya ke dunia fantasi.
Dari situ, cerita berkembang menjadi petualangan surreal penuh simbol dan makna tersembunyi. Banyak penonton mengaku harus berpikir keras untuk memahami hubungan antar karakter maupun pesan utama film tersebut.
Hayao Miyazaki Disebut Sangat Personal
Beberapa reviewer anime menilai The Boy and The Heron terasa seperti karya autobiografi Hayao Miyazaki. Sutradara legendaris itu disebut memasukkan pengalaman masa kecil dan pandangannya tentang kehidupan ke dalam film.
Hal itu membuat film terasa sangat personal sekaligus artistik. Namun di sisi lain, sebagian penonton umum justru merasa kesulitan menikmati cerita karena terlalu metaforis.
“Film ini bukan untuk semua umur dan tidak semua penonton bisa langsung memahami maksudnya,” ujar salah satu kreator konten anime dalam ulasannya.
Meski menuai pro dan kontra, banyak penggemar tetap mengapresiasi keberanian Hayao Miyazaki menghadirkan karya yang berbeda dari animasi mainstream modern.
Visual dan Musik Jadi Nilai Jual Utama
Terlepas dari cerita yang rumit, hampir semua reviewer sepakat bahwa kualitas visual The Boy and The Heron sangat memukau. Detail animasi, ekspresi karakter, hingga desain dunia fantasi disebut mengalami peningkatan besar dibanding film Ghibli lawas.
Adegan makanan khas Studio Ghibli juga kembali mencuri perhatian penonton. Mulai dari roti, sup, hingga detail cara karakter makan dibuat sangat realistis dan menggugah selera.
Selain visual, musik garapan Joe Hisaishi juga menjadi sorotan. Komposer langganan Studio Ghibli itu kembali menghadirkan nuansa magis lewat alunan piano dan scoring emosional yang memperkuat atmosfer film.
Banyak penggemar menyebut pengalaman audio film ini terasa maksimal ketika ditonton di bioskop dengan sistem suara Dolby Atmos atau IMAX.
Perbandingan dengan Film Ghibli Lain
Walau mendapat pujian secara teknis, sebagian penggemar masih menilai Spirited Away dan Howl’s Moving Castle lebih mudah dinikmati dibanding The Boy and The Heron.
Film My Neighbor Totoro juga masih dianggap sebagai salah satu karya Studio Ghibli paling nyaman ditonton ulang karena ceritanya ringan dan hangat.
Sementara itu, The Boy and The Heron dinilai lebih cocok bagi penonton yang menyukai film dengan simbolisme dan makna tersembunyi.
Meski begitu, kehadiran film ini membuktikan Hayao Miyazaki masih mampu menghadirkan karya yang memancing diskusi panjang di kalangan pecinta anime dunia.
Editor : Divka Vance Yandriana