Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Uji Tanjakan Ciwidey dengan Polytron Fox 350, Motor Listrik Ini Tempuh 111 Km dan Tetap Tangguh Meski Sempat Overheat di Rancabali

Dyah Wulandari • Selasa, 2 Juni 2026 | 21:09 WIB
Polytron Fox 350 diuji di tanjakan Ciwidey-Rancabali. Tempuh 111 km, isi daya Rp6.000, namun sempat mengalami overheat.
(screenshot pinterest)
Polytron Fox 350 diuji di tanjakan Ciwidey-Rancabali. Tempuh 111 km, isi daya Rp6.000, namun sempat mengalami overheat. (screenshot pinterest)

BANDUNG - Kemampuan motor listrik menghadapi jalur menanjak masih menjadi pertanyaan bagi banyak pengendara. Untuk menjawab hal tersebut, sebuah perjalanan menggunakan Polytron Fox 350 dilakukan dari Kabupaten Bandung menuju kawasan wisata Ciwidey dan Rancabali, Minggu (1/2/2026).

Perjalanan yang dikemas dalam kegiatan Sunday Morning Ride (Sunmori) itu menjadi ajang pengujian langsung performa Polytron Fox 350 di jalur pegunungan dengan tanjakan panjang yang dikenal cukup menguras tenaga kendaraan.

Rute dimulai dari wilayah Baleendah, Kabupaten Bandung, menuju Ciwidey hingga kawasan Rancabali. Sebelum berangkat, baterai Polytron Fox 350 diisi penuh 100 persen dan trip meter direset ke nol kilometer untuk memantau konsumsi energi secara akurat selama perjalanan.

Baca Juga: Kuliner Tradisional Jawa Timur Tak Pernah Sepi Peminat, Resep Warisan Puluhan Tahun Ini Masih Diburu hingga Kini

Pengendara membawa total beban sekitar 97 kilogram, terdiri dari berat badan 87 kilogram dan barang bawaan sekitar 10 kilogram, termasuk charger motor listrik.

Performa Baterai Saat Menanjak ke Ciwidey

Pada awal perjalanan, konsumsi baterai terbilang cukup wajar. Setelah menempuh sekitar 12,6 kilometer hingga kawasan Soreang, kapasitas baterai masih tersisa 91 persen.

Baca Juga: Kuliner Tradisional Jawa Timur Makin Diminati Generasi Muda, Makanan Khas Daerah Ini Jadi Buruan Saat Liburan

Namun memasuki jalur menanjak menuju Ciwidey, konsumsi energi mulai meningkat. Saat tiba di Alun-Alun Ciwidey dengan jarak tempuh sekitar 26,5 kilometer, baterai tersisa 70 persen.

Meski demikian, kondisi baterai tetap stabil. Temperatur baterai tercatat hanya sekitar 28 hingga 29 derajat Celsius sepanjang perjalanan menuju kawasan wisata pegunungan tersebut.

Yang menarik, sistem kelistrikan utama seperti baterai dan controller tetap bekerja normal. Temperatur controller hanya berada di kisaran 44 hingga 55 derajat Celsius.

Baca Juga: Kuliner Tradisional Jawa Timur Tetap Eksis di Tengah Tren Modern, Cita Rasanya Disebut Tak Tergantikan oleh Pecinta Kuliner

Dinamo Hub Drive Jadi Tantangan di Jalur Pegunungan

Tantangan utama justru muncul pada sektor dinamo atau BLDC yang menggunakan sistem hub drive.

Ketika memasuki jalur tanjakan panjang menuju Kawah Putih dan kawasan Rancabali, suhu dinamo terus meningkat hingga menyentuh 142 derajat Celsius. Bahkan dalam beberapa kondisi sempat mencapai sekitar 155 derajat Celsius.

Baca Juga: Jajanan Khas Jawa Timur Ini Masih Jadi Buruan hingga Sekarang, Rasanya Legendaris dan Sulit Ditemukan di Daerah Lain

Saat suhu tersebut tercapai, indikator peringatan overheat menyala dan tenaga motor mulai dibatasi secara otomatis oleh sistem.

Meski pengendara mengaku menggunakan mode berkendara santai dan hanya sesekali memakai mode Sport untuk menyalip kendaraan lain, suhu dinamo tetap melonjak akibat karakter jalur yang didominasi tanjakan panjang.

Kondisi ini menjadi catatan penting bagi pengguna motor listrik dengan sistem hub drive yang kerap menghadapi medan pegunungan.

Baca Juga: DPRD Trenggalek Setujui Penyertaan Modal BPR Jwalita, Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat

Isi Daya di SPKLU Rancabali Hanya Rp6.000

Setelah mencapai kawasan Situ Patenggang dan Camp Rengganis, perjalanan mencatat jarak sekitar 42,8 kilometer dengan sisa baterai 43 persen.

Pengendara kemudian memanfaatkan fasilitas SPKLU yang tersedia di kawasan tersebut untuk melakukan pengisian daya.

Baca Juga: Samsung Galaxy A06 5G Resmi Hadir di Indonesia, HP 5G Termurah Samsung 2025 dengan One UI 7 dan Update Android 4 Tahun

Proses pengisian berlangsung sekitar 50 menit hingga satu jam. Energi yang masuk tercatat sebesar 2,2 kWh dengan biaya sekitar Rp6.000.

Setelah baterai kembali penuh 100 persen, perjalanan dilanjutkan menuju kawasan Cibuni yang menawarkan panorama perkebunan teh dan jalur wisata populer di Ciwidey.

Konsumsi Energi Lebih Hemat Saat Turunan

Perjalanan pulang menunjukkan karakter berbeda. Jalur yang didominasi turunan membuat konsumsi baterai menjadi jauh lebih hemat.

Baca Juga: Samsung Galaxy A06 5G Jadi HP Samsung Paling Laris? Harga Rp1 Jutaan, Spek Makin Gahar dan Mirip Flagship

Dari kawasan Rancabali menuju Soreang, kapasitas baterai hanya berkurang sekitar 11 hingga 12 persen. Hal ini dipengaruhi oleh fitur regenerative braking yang membantu mengembalikan sebagian energi saat kendaraan melaju di jalur menurun.

Selain itu, suhu dinamo juga turun drastis dari lebih dari 140 derajat Celsius menjadi sekitar 67 hingga 81 derajat Celsius.

Hingga mendekati akhir perjalanan, total jarak yang berhasil ditempuh mencapai 111 kilometer dengan sisa baterai sekitar 48 persen.

Baca Juga: Biaya Cas Polytron Fox 350 dari 3 Persen ke 100 Persen Terungkap, Cuma Rp6.500 untuk Tempuh Lebih dari 100 Kilometer

Pengendara sempat mencoba melakukan pengisian ulang di SPKLU PLN Banjaran. Namun proses charging gagal karena sistem server sedang mengalami gangguan sehingga pengisian dilanjutkan ke lokasi SPKLU lain.

Secara keseluruhan, perjalanan ini menunjukkan bahwa Polytron Fox 350 mampu menghadapi jalur menanjak Ciwidey dan Rancabali dengan cukup baik. Meski dinamo sempat mengalami overheat pada tanjakan panjang, performa baterai dan sistem kelistrikan utama tetap stabil sepanjang perjalanan.

Editor : Dyah Wulandari
#Ciwidey #Rancabali #polytron fox 350 #spklu #motor listrik