TRENGGALEK NJENGGELEK – Dunia mode tanah air diprediksi akan mengalami pergeseran signifikan pada tahun 2026. Jika tahun sebelumnya didominasi oleh gaya eksperimental dan pengaruh street style yang berani, kini arah tren fashion 2026 mulai bergeser ke arah yang lebih matang, fungsional, dan berkelanjutan. Para pengamat mode sepakat bahwa anak muda, khususnya Generasi Z, kini mulai memprioritaskan kenyamanan serta identitas personal di atas tren yang hanya sekadar viral sesaat.
Pakar fashion Sony menekankan bahwa isu lingkungan menjadi pendorong utama perubahan ini. Masyarakat dunia, termasuk Indonesia, kini semakin sadar akan dampak limbah tekstil. "Tahun depan, gaya yang diminati adalah yang timeless namun memiliki personalitas kuat. Kita sedang menuju kembali ke fitrah, yakni penggunaan serat alam demi keselamatan tubuh dan lingkungan," ujarnya. Tren sustainable fashion bukan lagi sekadar slogan, melainkan kebutuhan mendesak di tengah ancaman pemanasan global.
Kembali ke Serat Alam dan Gaya Genderless
Salah satu ciri utama tren fashion 2026 adalah pemilihan material yang mengutamakan kesehatan. Penggunaan bahan sintetik dan poliester perlahan akan ditinggalkan, digantikan oleh serat alam yang lebih ramah kulit. Secara visual, pakaian berpotongan longgar (oversized) akan tetap digemari karena memberikan keleluasaan gerak. Selain itu, konsep genderless atau busana tanpa batas gender diprediksi akan semakin diterima luas sebagai bagian dari ekspresi kebebasan berekspresi.
Senada dengan hal tersebut, entrepreneur dan penggiat fashion, Johanna Aril Suhendra, menambahkan bahwa tren tahun depan tidak akan terlalu rumit. Fokus utama konsumen adalah pada pakaian yang fungsional, rapi, dan mudah dipadupadankan untuk berbagai aktivitas, mulai dari bekerja hingga sekadar bersantai di kafe. "Brand yang kuat di 2026 adalah mereka yang memiliki karakter unik dan tidak sekadar ikut-ikutan tren global," jelasnya.
Perhiasan sebagai Statement Utama
Perubahan arah fashion yang semakin personal juga berdampak pada industri perhiasan. Kini, perhiasan tidak lagi sekadar aksesori pelengkap, melainkan bagian utama yang memperkuat identitas diri. Kolaborasi strategis antara pelaku industri perhiasan, seperti Wanda House of Jewels dengan desainer ternama Tex Saverio, menjadi bukti nyata. Dalam kolaborasi ini, desain yang detail, halus, dan hand-made menjadi kunci untuk mencuri perhatian, membuktikan bahwa sesuatu yang simpel bisa terlihat sangat mewah jika dikerjakan dengan kualitas workmanship yang mumpuni.
Kebanggaan pada Produk Lokal
Tahun 2026 juga diharapkan menjadi ajang pembuktian kualitas brand lokal Indonesia di kancah mancanegara. Keberhasilan desainer muda seperti Patrik Owan hingga PG Hartanto yang merambah pasar internasional menunjukkan bahwa produk dalam negeri tidak kalah bersaing dengan brand global. Masyarakat kini diimbau untuk mengubah pola pikir dan mulai berbangga mengenakan karya anak bangsa.
Sementara itu, tren thrifting atau pakaian preloved juga diprediksi akan tetap bertahan. Namun, tantangan ke depan adalah bagaimana mengelola budaya ini agar tidak justru menambah tumpukan sampah tekstil baru akibat konsumsi yang berlebihan. Dengan perpaduan antara tren global, kesadaran lingkungan, dan kreativitas desainer lokal, fashion Indonesia di tahun 2026 dipastikan akan lebih berkarakter, bermakna, dan tentu saja, lebih peduli terhadap masa depan bumi.