Trenggalek Njenggelek- Wisata Bromo seolah tak pernah kehilangan pesonanya. Meski harus ditempuh dengan perjalanan panjang dan udara yang menusuk tulang, ribuan wisatawan tetap rela datang demi menyaksikan panorama yang disebut-sebut sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia.
Bagi yang berencana liburan ke Bromo menggunakan mobil pribadi, memilih penginapan dan paket wisata ternyata menjadi penentu kenyamanan selama perjalanan. Salah memilih lokasi menginap bisa membuat waktu habis di jalan, sementara paket wisata yang kurang tepat berpotensi mengurangi pengalaman menikmati keindahan Gunung Bromo.
Pengalaman road trip dari Bekasi menuju Bromo yang dibagikan seorang kreator perjalanan menjadi gambaran menarik bagi wisatawan yang ingin berlibur bersama keluarga. Perjalanan dimulai pukul 22.30 WIB dan memakan waktu sekitar 15 jam dengan beberapa kali berhenti di rest area karena membawa orang tua dan anak-anak.
Probolinggo Jadi Pilihan Cerdas
Alih-alih bermalam di Kota Malang, rombongan justru memilih menginap di kawasan Probolinggo.
Keputusan tersebut terbukti lebih efisien karena jarak menuju pintu masuk Bromo jauh lebih dekat. Penginapan yang dipilih adalah Gubuk Deso Bromo, sebuah homestay yang menawarkan berbagai tipe kamar, mulai dari kamar reguler hingga glamping modern.
Yang menarik, tarif glamping dibanderol mulai Rp300 ribuan per malam. Meski harganya ramah di kantong, fasilitasnya tergolong lengkap, mulai dari smart TV, kamar mandi dengan water heater, kasur nyaman, hingga suasana pegunungan yang sejuk tanpa perlu menggunakan AC.
Tak hanya itu, homestay ini juga menyediakan penyewaan jaket, sarung tangan, dan perlengkapan lain yang sangat dibutuhkan saat suhu Bromo turun hingga sekitar 13 derajat Celsius.
Berangkat Jam Dua Dini Hari Demi Sunrise
Petualangan sesungguhnya dimulai sekitar pukul 02.00 WIB.
Jeep wisata yang telah dipesan sebelumnya menjemput rombongan menuju kawasan penanjakan. Paket yang dipilih merupakan long jeep berkapasitas 10 orang dengan tarif sekitar Rp2,1 juta.
Harga tersebut sudah termasuk kendaraan jeep, tiket masuk kawasan Bromo, fotografer profesional, hingga dokumentasi foto dan video selama perjalanan.
Sekitar satu setengah jam kemudian, rombongan tiba di Sunrise Point Lemah Pasar atau Bukit Cinta.
Meski datang pada hari kerja, suasana sudah dipenuhi ratusan jeep dan wisatawan yang sama-sama menunggu momen matahari terbit.
Panorama yang Sulit Dilupakan
Saat langit mulai berubah warna, hamparan lautan kabut perlahan menyingkap siluet Gunung Bromo dan Gunung Batok.
Pemandangan itu menjadi alasan mengapa banyak orang rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk menikmati sunrise di Bromo.
Fotografer yang ikut dalam paket perjalanan pun membantu wisatawan mendapatkan sudut terbaik sehingga setiap momen berhasil diabadikan dengan sempurna.
Keliling Semua Spot Favorit
Usai berburu sunrise, perjalanan berlanjut menyusuri kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Destinasi yang dikunjungi antara lain Gunung Batok, Kawah Bromo, Pasir Berbisik, Bukit Widodaren hingga Padang Savana atau Bukit Teletubbies yang terkenal dengan hamparan rumput hijaunya.
Di kawasan Pasir Berbisik, wisatawan juga bisa menunggang kuda dengan tarif sekitar Rp100 ribu untuk menikmati sensasi berbeda menjelajahi lautan pasir.
Sementara di Kawah Bromo, tersedia deretan warung makan yang menjadi tempat favorit wisatawan beristirahat sambil menikmati udara pegunungan.
Paket Lengkap Dinilai Paling Menguntungkan
Bagi wisatawan yang datang bersama keluarga besar, memilih paket wisata lengkap dinilai jauh lebih praktis.
Semua kebutuhan perjalanan sudah tersedia dalam satu paket, mulai dari transportasi, tiket masuk, dokumentasi hingga pemandu lokal. Wisatawan tinggal menikmati perjalanan tanpa harus repot mengatur banyak hal.
Dengan panorama matahari terbit yang memukau, hamparan lautan pasir yang luas, udara pegunungan yang menyegarkan, serta deretan spot ikonik yang selalu memikat kamera, tak berlebihan jika Wisata Bromo tetap menjadi destinasi impian yang wajib dikunjungi setidaknya sekali seumur hidup.
Editor : Maylanni Diana Fitri