JAKARTA, TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM – Cara menghitung Nogodino menurut Primbon Jawa kembali menjadi perhatian masyarakat setelah sebuah video yang membahas warisan spiritual leluhur ramai diperbincangkan. Dalam tradisi Jawa, Nogodino dipercaya berkaitan dengan arah gaib yang ditentukan berdasarkan hari lahir dan pasaran seseorang.
Konsep Nogodino menurut Primbon Jawa bukan sekadar mengacu pada arah mata angin, melainkan diyakini memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan karakter, keberuntungan, hingga sejumlah pantangan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk arah rumah yang dianggap paling sesuai.
Dalam penjelasan yang disampaikan kanal Balek Kambang TV, istilah "nogo" berarti naga, sedangkan "dino" berarti hari. Secara spiritual, Nogodino dimaknai sebagai posisi gaib yang terus bergeser mengikuti siklus hari dan pasaran dalam kalender Jawa.
Cara Menghitung Nogodino
Perhitungan Nogodino dilakukan dengan menjumlahkan nilai neptu hari dan neptu pasaran. Hasil penjumlahan tersebut kemudian dihitung mengikuti urutan empat arah mata angin, yaitu timur, selatan, barat, dan utara.
Nilai neptu hari terdiri atas:
- Minggu = 5
- Senin = 4
- Selasa = 3
- Rabu = 7
- Kamis = 8
- Jumat = 6
- Sabtu = 9
Sementara nilai neptu pasaran meliputi:
- Legi = 5
- Pahing = 9
- Pon = 7
- Wage = 4
- Kliwon = 8
Sebagai contoh, seseorang yang lahir pada Selasa Wage memiliki neptu 3 + 4 = 7. Angka tersebut kemudian dipetakan sesuai urutan arah mata angin untuk mengetahui posisi Nogodinonya.
Baca Juga: Weton Paling Beruntung 2026 Diprediksi Banjir Rezeki, Karier Melesat dan Peluang Usaha Terbuka Lebar
Menurut penjelasan tersebut, arah timur menjadi titik awal perhitungan, dilanjutkan selatan, barat, dan utara secara berulang hingga mencapai angka hasil penjumlahan neptu.
Makna Kepribadian Berdasarkan Arah Nogodino
Dalam Primbon Jawa, setiap arah Nogodino dipercaya memiliki unsur alam yang memengaruhi karakter seseorang.
Mereka yang memiliki Nogodino di timur, yaitu hasil neptu 9, 13, dan 17, digambarkan memiliki sifat seperti angin. Orang dengan karakter ini dinilai mudah bergaul, mampu diterima di berbagai lingkungan, serta tidak membedakan status sosial maupun latar belakang seseorang.
Sementara Nogodino selatan, yakni hasil neptu 10, 14, dan 18, dikaitkan dengan unsur air. Karakter yang muncul dipercaya penuh kasih sayang, berpikiran jernih, dan tidak mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain.
Adapun Nogodino barat yang dimiliki pemilik neptu 7, 11, dan 15 diasosiasikan dengan unsur api. Mereka disebut memiliki kedisiplinan tinggi, tegas, serta disegani dalam lingkungan pergaulan.
Sedangkan Nogodino utara dengan hasil neptu 8, 12, dan 16 dilambangkan sebagai unsur bumi. Pemiliknya dipercaya mempunyai sifat sabar, murah hati, tulus, serta gemar membantu tanpa mengharapkan imbalan.
Baca Juga: Weton Paling Beruntung 2026 Diprediksi Banjir Rezeki, Karier Melesat dan Peluang Usaha Terbuka Lebar
Pantangan Arah Rumah Menurut Primbon
Selain dikaitkan dengan karakter, Nogodino juga dipercaya menjadi acuan dalam menentukan arah rumah.
Pemilik Nogodino timur disarankan tidak membangun rumah menghadap timur. Jika rumah sudah telanjur menghadap ke arah tersebut, dalam tradisi Jawa disarankan memasang cermin kecil di depan pintu utama sebagai simbol penolak bala.
Bagi pemilik Nogodino selatan, arah rumah sebaiknya tidak menghadap selatan. Apabila sudah terlanjur demikian, salah satu cara yang disebut dalam tradisi adalah menanam tebu hitam di halaman atau memelihara ikan di dalam rumah apabila tidak memiliki pekarangan.
Sementara pemilik Nogodino barat dianjurkan menghindari rumah yang menghadap barat. Dalam penjelasan video tersebut, mereka juga disarankan tidak tidur menjelang matahari terbenam serta menghindari menanam cabai di halaman rumah.
Sedangkan pemilik Nogodino utara dipercaya lebih baik tidak memiliki rumah yang menghadap utara. Sebagai simbol penolak bala, tradisi menyarankan menanam bambu kuning dan pohon kelor di sekitar rumah.
Bagian dari Kearifan Lokal
Perlu dipahami bahwa seluruh penjelasan mengenai Nogodino merupakan bagian dari tradisi dan kepercayaan dalam Primbon Jawa yang diwariskan secara turun-temurun. Pandangan tersebut bukan merupakan ketentuan ilmiah maupun kepastian mengenai kehidupan seseorang.
Meski demikian, banyak masyarakat Jawa yang masih menjadikan Primbon sebagai salah satu referensi budaya dalam memahami filosofi hidup, karakter, hingga berbagai simbol yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Nilai utamanya adalah menjaga keharmonisan dengan lingkungan, menghormati warisan leluhur, serta tetap mengedepankan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari