JAKARTA, TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM – Nogo Dino menjadi salah satu bagian dari Primbon Jawa yang hingga kini masih dipercaya sebagian masyarakat sebagai pedoman menentukan arah terbaik saat bepergian maupun mencari rezeki. Kepercayaan turun-temurun ini meyakini bahwa setiap hari memiliki arah tertentu yang dianggap membawa keberuntungan, sementara arah sebaliknya dipercaya dapat mendatangkan kesialan atau hambatan.
Dalam tradisi Primbon Jawa, Nogo Dino diibaratkan sebagai seekor naga yang bergerak ke arah tertentu setiap hari. Seseorang yang berjalan searah dengan pergerakan naga dipercaya akan memperoleh keselamatan, kelancaran rezeki, dan keberuntungan. Sebaliknya, orang yang melawan arah naga diyakini berpotensi mengalami kesialan, hambatan usaha, hingga musibah.
Kepercayaan mengenai Nogo Dino menurut Primbon Jawa telah diwariskan dari generasi ke generasi. Meski demikian, masyarakat juga diingatkan agar tidak menjadikan perhitungan tersebut sebagai satu-satunya pegangan dalam menjalani kehidupan. Keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta doa tetap menjadi hal yang utama.
Mengenal Nogo Dino dalam Primbon Jawa
Dalam kitab Primbon Jawa kuno, Nogo Dino atau naga hari merupakan penentu arah baik dan arah yang sebaiknya dihindari pada setiap hari dalam sepekan. Filosofi ini berasal dari simbol naga yang digambarkan sedang bergerak di angkasa.
Orang Jawa zaman dahulu percaya bahwa mengikuti arah perjalanan naga akan membawa keselamatan dan rezeki. Sebaliknya, jika seseorang bergerak berlawanan arah dengan naga, maka dipercaya dapat menemui hambatan, bertemu musuh, atau mengalami nasib kurang baik.
Karena itulah para orang tua dahulu sering mengingatkan anak-anaknya agar berhati-hati saat bepergian, terutama ketika hendak berdagang atau mencari nafkah. Nasihat tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal yang masih dikenal hingga sekarang.
Arah Nogo Dino Setiap Hari
Berdasarkan penjelasan dalam Primbon Jawa, berikut arah perjalanan Nogo Dino selama tujuh hari.
Hari Minggu (Ahad)
Nogo Dino menghadap ke arah utara. Arah yang sebaiknya dihindari adalah selatan karena dipercaya berpotensi mendatangkan hambatan. Sebaliknya, perjalanan menuju utara dianggap lebih baik.
Hari Senin
Pada hari Senin, naga hari menghadap ke timur. Arah barat dipercaya sebagai arah yang kurang baik karena berpotensi mempertemukan seseorang dengan musuh atau kesulitan. Oleh sebab itu, arah timur lebih dianjurkan.
Hari Selasa
Nogo Dino berada di arah selatan. Arah utara menjadi arah yang sebaiknya dihindari apabila ingin menghindari berbagai kesulitan. Sementara itu, perjalanan ke selatan dipercaya membawa keselamatan.
Hari Rabu
Sama seperti hari Minggu, Nogo Dino kembali menghadap ke utara. Arah selatan dipercaya menjadi arah pantangan, sedangkan perjalanan ke utara dianggap lebih membawa keberuntungan.
Hari Kamis
Pada hari Kamis, naga hari menghadap ke barat. Karena itu, arah timur dipercaya menjadi arah yang kurang baik. Masyarakat yang masih memegang tradisi ini biasanya memilih melakukan perjalanan ke arah barat.
Hari Jumat
Nogo Dino menghadap ke selatan. Arah utara diyakini sebagai arah yang sebaiknya dihindari, sedangkan perjalanan menuju selatan dipercaya lebih membawa kelancaran rezeki.
Hari Sabtu
Sama seperti hari Jumat, arah Nogo Dino berada di selatan. Oleh karena itu, arah utara kembali dianggap sebagai arah yang kurang baik menurut perhitungan Primbon Jawa.
Tetap Utamakan Ikhtiar dan Doa
Meski ajaran mengenai Nogo Dino masih menjadi bagian dari budaya Jawa, banyak kalangan memandangnya sebagai warisan tradisi yang sarat nilai filosofi, bukan sebagai kepastian mutlak.
Dalam kehidupan modern, keberhasilan seseorang tetap ditentukan oleh kerja keras, perencanaan yang matang, kejujuran, serta doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Nilai-nilai dalam Primbon Jawa lebih tepat dipahami sebagai bagian dari kearifan budaya yang memperkaya tradisi Nusantara.
Dengan demikian, masyarakat dapat mengenal warisan leluhur seperti Nogo Dino sebagai bagian dari budaya, sembari tetap mengedepankan keyakinan agama, akal sehat, dan usaha nyata dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari