JAKARTA, TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM – Hari naas dan hari habis rezeki menurut Primbon Jawa masih menjadi salah satu perhitungan yang dipercaya sebagian masyarakat Jawa sebagai pedoman sebelum mengambil keputusan penting. Perhitungan ini diyakini dapat membantu menentukan waktu yang baik untuk memulai usaha, berdagang, hingga melakukan transaksi besar.
Dalam Primbon Jawa, setiap orang dipercaya memiliki hari habis rezeki dan hari naas yang berbeda. Penentuannya didasarkan pada gabungan neptu hari kelahiran dan pasaran Jawa. Dari hasil perhitungan tersebut, seseorang dapat mengetahui hari yang sebaiknya dihindari agar aktivitas berjalan lebih lancar.
Meski demikian, perhitungan hari naas menurut Primbon Jawa dipandang sebagai bentuk ikhtiar dalam tradisi Jawa. Keberhasilan seseorang tetap bergantung pada kerja keras, doa, dan keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa, bukan semata-mata pada hitungan weton.
Mengenal Hari Habis Rezeki dalam Primbon Jawa
Dalam penjelasan yang dibahas pada video tersebut, konsep hari habis rezeki diperoleh melalui penghitungan neptu hari lahir dan pasaran seseorang.
Sebagai contoh, seseorang yang lahir pada Kamis Kliwon memiliki neptu Kamis sebesar 8 dan Kliwon bernilai 8 sehingga jumlahnya menjadi 16. Angka tersebut kemudian dihitung menggunakan metode tertentu hingga seluruh hitungan habis.
Dari proses itu diperoleh satu hari yang disebut sebagai hari habis rezeki. Menurut kepercayaan Primbon Jawa, hari tersebut sebaiknya tidak digunakan untuk memulai usaha, berbelanja dalam jumlah besar, membuka toko, atau melakukan transaksi penting.
Dalam contoh yang dijelaskan, seseorang dengan weton Kamis Kliwon memperoleh hari habis rezeki pada hari Sabtu.
Hari Naas Berbeda dengan Hari Habis Rezeki
Primbon Jawa membedakan antara hari habis rezeki dengan hari naas. Keduanya memiliki makna yang tidak sama meskipun sama-sama dianggap sebagai hari yang perlu diwaspadai.
Hari habis rezeki dipercaya berkaitan dengan sulitnya memperoleh keberkahan dalam usaha atau pekerjaan. Seseorang mungkin tetap memperoleh pemasukan, tetapi hasilnya diyakini tidak bertahan lama atau cepat habis untuk berbagai kebutuhan.
Sementara itu, hari naas dipercaya sebagai hari yang kurang baik untuk mengambil keputusan besar karena berpotensi menimbulkan hambatan, kegagalan, atau masalah yang tidak diinginkan.
Dalam contoh lain yang dipaparkan, seseorang yang lahir pada Jumat Legi memiliki hari habis rezeki pada Jumat, sedangkan hari naasnya jatuh pada Senin Legi berdasarkan hasil perhitungan neptu.
Dipercaya sebagai Pedoman Menjalani Kehidupan
Menurut pandangan masyarakat Jawa tradisional, mengetahui hari baik dan hari yang kurang baik bukan bertujuan menakut-nakuti seseorang. Sebaliknya, perhitungan tersebut dipahami sebagai bentuk kehati-hatian sebelum mengambil langkah penting.
Karena itu, sebagian masyarakat masih menggunakan hitungan Primbon Jawa ketika akan membuka usaha, memulai pekerjaan baru, menggelar hajatan, hingga melakukan investasi.
Namun, narasumber dalam video juga mengingatkan bahwa hasil perhitungan tidak boleh dijadikan alasan untuk berbuat buruk kepada orang lain ataupun menyalahkan keadaan ketika mengalami kesulitan hidup.
Introspeksi Diri Lebih Penting
Selain membahas hitungan weton, narasumber juga menekankan pentingnya menjaga perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kesulitan yang dialami seseorang tidak selalu berasal dari faktor luar, tetapi bisa dipengaruhi oleh tindakan dan sikap yang dilakukan sendiri.
Dalam filosofi Jawa dikenal adanya hubungan antara dharma atau perbuatan dengan karma yang diterima seseorang. Oleh sebab itu, selain memperhatikan hitungan hari, masyarakat juga diajak untuk memperbaiki akhlak, menjaga kejujuran, serta menghindari tindakan yang merugikan orang lain.
Narasumber turut mengingatkan agar masyarakat tidak mudah menyalahkan orang lain, apalagi menuduh adanya gangguan gaib ketika menghadapi masalah. Sebaliknya, introspeksi diri dan memperbaiki perilaku dinilai lebih penting agar kehidupan menjadi lebih baik.
Pada akhirnya, Primbon Jawa dipandang sebagai warisan budaya yang berisi nilai-nilai kearifan lokal. Bagi masyarakat yang masih mempercayainya, hitungan hari naas dan hari habis rezeki hanyalah salah satu bentuk ikhtiar, sedangkan hasil akhirnya tetap berada dalam kuasa Tuhan Yang Maha Esa.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari