Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Cara Menghitung Hari Naas dan Hari Habis Rezeki Menurut Primbon Jawa, Begini Penjelasan Lengkapnya

Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari • Kamis, 2 Juli 2026 | 18:10 WIB
Hari naas dan hari habis rezeki menurut Primbon Jawa dihitung dari neptu hari serta pasaran. Simak cara menghitung dan maknanya di sini. (Youtube. com)
Hari naas dan hari habis rezeki menurut Primbon Jawa dihitung dari neptu hari serta pasaran. Simak cara menghitung dan maknanya di sini. (Youtube. com)

JAKARTA, TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COMHari naas dan hari habis rezeki menurut Primbon Jawa masih menjadi salah satu perhitungan yang dipercaya sebagian masyarakat Jawa sebagai pedoman sebelum mengambil keputusan penting. Perhitungan ini diyakini dapat membantu menentukan waktu yang baik untuk memulai usaha, berdagang, hingga melakukan transaksi besar.

Dalam Primbon Jawa, setiap orang dipercaya memiliki hari habis rezeki dan hari naas yang berbeda. Penentuannya didasarkan pada gabungan neptu hari kelahiran dan pasaran Jawa. Dari hasil perhitungan tersebut, seseorang dapat mengetahui hari yang sebaiknya dihindari agar aktivitas berjalan lebih lancar.

Meski demikian, perhitungan hari naas menurut Primbon Jawa dipandang sebagai bentuk ikhtiar dalam tradisi Jawa. Keberhasilan seseorang tetap bergantung pada kerja keras, doa, dan keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa, bukan semata-mata pada hitungan weton.

Baca Juga: Arti Weton Jawa Lengkap Menurut Primbon, Mengapa Hari Lahir Masih Dipercaya Bisa Menggambarkan Karakter Seseorang?

Mengenal Hari Habis Rezeki dalam Primbon Jawa

Dalam penjelasan yang dibahas pada video tersebut, konsep hari habis rezeki diperoleh melalui penghitungan neptu hari lahir dan pasaran seseorang.

Sebagai contoh, seseorang yang lahir pada Kamis Kliwon memiliki neptu Kamis sebesar 8 dan Kliwon bernilai 8 sehingga jumlahnya menjadi 16. Angka tersebut kemudian dihitung menggunakan metode tertentu hingga seluruh hitungan habis.

Dari proses itu diperoleh satu hari yang disebut sebagai hari habis rezeki. Menurut kepercayaan Primbon Jawa, hari tersebut sebaiknya tidak digunakan untuk memulai usaha, berbelanja dalam jumlah besar, membuka toko, atau melakukan transaksi penting.

Baca Juga: Arti Weton Jawa Lengkap Kembali Dicari Banyak Orang, Ternyata Bukan Sekadar Ramalan tetapi Warisan Filosofi Leluhur

Dalam contoh yang dijelaskan, seseorang dengan weton Kamis Kliwon memperoleh hari habis rezeki pada hari Sabtu.

Hari Naas Berbeda dengan Hari Habis Rezeki

Primbon Jawa membedakan antara hari habis rezeki dengan hari naas. Keduanya memiliki makna yang tidak sama meskipun sama-sama dianggap sebagai hari yang perlu diwaspadai.

Hari habis rezeki dipercaya berkaitan dengan sulitnya memperoleh keberkahan dalam usaha atau pekerjaan. Seseorang mungkin tetap memperoleh pemasukan, tetapi hasilnya diyakini tidak bertahan lama atau cepat habis untuk berbagai kebutuhan.

Baca Juga: Weton kelahiran Januari menurut Primbon Jawa mengungkap sifat, watak, dan karakter unik tanggal 1 hingga 31 Januari.

Sementara itu, hari naas dipercaya sebagai hari yang kurang baik untuk mengambil keputusan besar karena berpotensi menimbulkan hambatan, kegagalan, atau masalah yang tidak diinginkan.

Dalam contoh lain yang dipaparkan, seseorang yang lahir pada Jumat Legi memiliki hari habis rezeki pada Jumat, sedangkan hari naasnya jatuh pada Senin Legi berdasarkan hasil perhitungan neptu.

Dipercaya sebagai Pedoman Menjalani Kehidupan

Menurut pandangan masyarakat Jawa tradisional, mengetahui hari baik dan hari yang kurang baik bukan bertujuan menakut-nakuti seseorang. Sebaliknya, perhitungan tersebut dipahami sebagai bentuk kehati-hatian sebelum mengambil langkah penting.

Baca Juga: Arti Weton Jawa Lengkap Kembali Dicari Banyak Orang, Ternyata Bukan Sekadar Ramalan tetapi Warisan Filosofi Leluhur

Karena itu, sebagian masyarakat masih menggunakan hitungan Primbon Jawa ketika akan membuka usaha, memulai pekerjaan baru, menggelar hajatan, hingga melakukan investasi.

Namun, narasumber dalam video juga mengingatkan bahwa hasil perhitungan tidak boleh dijadikan alasan untuk berbuat buruk kepada orang lain ataupun menyalahkan keadaan ketika mengalami kesulitan hidup.

Introspeksi Diri Lebih Penting

Selain membahas hitungan weton, narasumber juga menekankan pentingnya menjaga perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kesulitan yang dialami seseorang tidak selalu berasal dari faktor luar, tetapi bisa dipengaruhi oleh tindakan dan sikap yang dilakukan sendiri.

Baca Juga: Arti Weton Jawa Lengkap Jadi Sorotan, Ternyata Setiap Hari Lahir Memiliki Makna dan Filosofi Kehidupan yang Berbeda

Dalam filosofi Jawa dikenal adanya hubungan antara dharma atau perbuatan dengan karma yang diterima seseorang. Oleh sebab itu, selain memperhatikan hitungan hari, masyarakat juga diajak untuk memperbaiki akhlak, menjaga kejujuran, serta menghindari tindakan yang merugikan orang lain.

Narasumber turut mengingatkan agar masyarakat tidak mudah menyalahkan orang lain, apalagi menuduh adanya gangguan gaib ketika menghadapi masalah. Sebaliknya, introspeksi diri dan memperbaiki perilaku dinilai lebih penting agar kehidupan menjadi lebih baik.

Pada akhirnya, Primbon Jawa dipandang sebagai warisan budaya yang berisi nilai-nilai kearifan lokal. Bagi masyarakat yang masih mempercayainya, hitungan hari naas dan hari habis rezeki hanyalah salah satu bentuk ikhtiar, sedangkan hasil akhirnya tetap berada dalam kuasa Tuhan Yang Maha Esa.

Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari
#pasaran jawa #hari naas #hari habis rezeki #neptu weton #Primbon Jawa