KESABARAN, ketulusan, dan kepedulian menjadi bekal utama bagi seorang guru. Nilai-nilai itulah yang dipegang Galih Rahajeng Pangestuti, 27, warga Dusun Karang Nongko RT1/RW1, Desa Kamulan, Kecamatan Durenan.
Baginya, mengajar bukan sekadar profesi, tetapi juga hobi yang memberikan kebahagiaan sekaligus menjadi bentuk pengabdian dalam mencetak generasi penerus bangsa.
Sehari-hari, Galih, sapaan akrabnya, menjalani aktivitas sebagai guru. Rutinitas tersebut justru membuat kecintaannya terhadap dunia pendidikan semakin tumbuh, terutama saat mendampingi anak-anak usia dini (PAUD).
Baca Juga: Salamrejo Genjot Ketahanan Pangan Bangun Saluran Irigasi Sepanjang 175 Meter
Menurut dia, setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan cara belajar yang berbeda sehingga menjadi tantangan sekaligus pengalaman berharga bagi seorang pendidik.
"Saya senang mengajar karena setiap hari bertemu anak-anak dengan karakter berbeda. Dari situ saya belajar untuk lebih sabar, kreatif, dan memahami kebutuhan masing-masing anak. Melihat mereka berkembang menjadi kebahagiaan tersendiri," ungkapnya.
Perempuan berusia 27 tahun itu menilai keberhasilan seorang guru tidak hanya diukur dari kemampuan anak membaca, menulis, atau berhitung.
Baca Juga: Libur Sekolah Picu Kepadatan Parkir Di Kawasan Pantai Pasir Putih Karanggongso
Lebih dari itu, seorang guru juga berperan membentuk karakter, menanamkan kedisiplinan, keberanian berkomunikasi, serta membiasakan anak untuk bersosialisasi sejak usia dini.
Baginya, melihat perubahan positif sekecil apa pun pada diri anak sudah menjadi pencapaian sangat membanggakan. Hobi mengajar yang dimiliki Galih juga memberikan manfaat secara ekonomi.
Di luar jam mengajar di sekolah, dia membuka layanan les privat bagi anak-anak yang membutuhkan pendampingan belajar. Kegiatan tersebut menjadi peluang untuk berbagi ilmu sekaligus menambah penghasilan.
Menurut Galih, mengajar les privat memiliki tantangan tersendiri.
Pendekatan yang dilakukan harus lebih personal agar materi yang diberikan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing peserta didik. Dengan begitu, anak lebih mudah memahami pelajaran dan merasa nyaman selama proses belajar.
"Les privat menjadi kesempatan untuk membantu anak-anak belajar lebih fokus. Saya bersyukur hobi mengajar ini ternyata juga bisa menghasilkan, tanpa menghilangkan tujuan utama saya untuk berbagi ilmu," katanya.
Ke depan, Galih berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik menjadi pendidik.
Baca Juga: Ijazah Kosong di Kursi Wakil Rakyat: Saat Transparansi Pendidikan DPR Jadi Pertanyaan Publik
Menurut dia, profesi guru memang membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan keikhlasan, tetapi memiliki nilai yang sangat besar karena turut membentuk masa depan anak-anak Indonesia.
Dia pun berkomitmen terus mengembangkan kemampuan mengajar agar mampu menghadirkan pembelajaran yang kreatif, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Melalui dedikasi sebagai guru sekaligus pengajar les privat, Galih membuktikan bahwa hobi yang dijalani dengan sepenuh hati dapat menjadi ladang pengabdian, memberikan manfaat bagi masyarakat, sekaligus menghadirkan rezeki yang penuh makna. (bim/din)
Editor : Desita Putri Kirani