TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM - Batik Trenggalek terus menunjukkan daya saing di tengah gempuran produk impor dan industri batik berskala besar. Salah satu pengusaha batik di Kabupaten Trenggalek berhasil mengembangkan usahanya dengan mengandalkan motif khas daerah serta memanfaatkan platform digital untuk memperluas pemasaran hingga ke luar daerah.
Strategi tersebut membuat Batik Trenggalek tetap diminati konsumen. Selain mempertahankan identitas lokal melalui motif khas, pelaku usaha juga rutin memperbarui desain agar sesuai dengan kebutuhan pasar.
Keberhasilan memadukan kearifan lokal dan pemasaran digital menjadi salah satu kunci berkembangnya usaha batik di Kabupaten Trenggalek.
Motif Cengkeh dan Manggis Jadi Ciri Khas Batik Trenggalek
Salah satu pengusaha batik yang masih bertahan berada di Jalan KH Ahmad Dahlan, Kelurahan Sumbergedong, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.
Di tengah persaingan dengan produk batik impor maupun industri berskala besar, pelaku usaha tersebut memilih fokus memproduksi batik khas Trenggalek.
Strategi itu dinilai lebih efektif karena motif yang dihasilkan memiliki karakter berbeda dibandingkan batik dari daerah lain.
Keunikan Batik Trenggalek terletak pada motif yang selalu menghadirkan gambar buah cengkeh dan buah manggis.
Baca Juga: UMKM Naik Kelas: Satukan Langkah Transaksi Mudah Bersama QRIS BRImo
Kedua tanaman tersebut dipilih karena menjadi komoditas unggulan Kabupaten Trenggalek sekaligus menjadi identitas yang membedakan batik lokal dengan produk dari daerah lain.
Pelaku usaha juga terus menghadirkan pembaruan motif sehingga pelanggan memiliki lebih banyak pilihan tanpa meninggalkan ciri khas daerah.
Produksi Capai 180 Lembar Batik Setiap Bulan
Salah satu pengrajin batik, Ilma Abidina Cahaya, mengatakan strategi mempertahankan motif khas Trenggalek memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan usahanya.
Baca Juga: UMKM Trenggalek Didorong Masuk Dapur MBG untuk Dongkrak Omzet
Dengan dukungan 15 orang karyawan, usahanya mampu memproduksi sekitar 180 lembar kain batik setiap bulan.
Produk yang dihasilkan terdiri atas batik tulis dan batik cap sesuai kebutuhan pasar.
Ilma menjelaskan pemasaran dilakukan melalui berbagai jalur agar jangkauan konsumen semakin luas.
Selain memiliki galeri sendiri di Trenggalek, produknya juga dititipkan di sejumlah toko di berbagai kota.
"Untuk pemasaran kami sudah ada galeri sendiri di Trenggalek. Kemudian kami juga bekerja sama dengan beberapa toko, salah satunya di Tulungagung, Ponorogo, Surabaya, dan Jakarta untuk pemasaran offline," ujarnya.
Jaringan pemasaran tersebut membantu produk Batik Trenggalek menjangkau konsumen di luar Kabupaten Trenggalek.
Andalkan Marketplace hingga Media Online
Selain mengembangkan pemasaran secara langsung, Ilma juga memanfaatkan berbagai platform digital.
Marketplace dan media online menjadi sarana utama untuk memperkenalkan produk kepada konsumen yang lebih luas.
Meski pemasaran digital terus diperkuat, galeri batik di Jalan KH Ahmad Dahlan, Kelurahan Sumbergedong, tetap dibuka sebagai pusat penjualan langsung.
Menurut Ilma, kombinasi pemasaran offline dan online memberikan peluang lebih besar dalam meningkatkan penjualan.
Strategi tersebut membuat produk batik lokal tidak hanya dikenal masyarakat Trenggalek, tetapi juga konsumen dari berbagai daerah.
Baca Juga: Meski Banyak yang Daftar, Hanya 200 Pelaku UMKM di Trenggalek Dapatkan Bantuan KIP Jawara,
Harga Batik Disesuaikan Motif dan Tingkat Kesulitan
Ilma menjelaskan harga Batik Trenggalek disesuaikan dengan motif dan proses pembuatannya.
Produk dengan harga paling terjangkau dibanderol sekitar Rp200 ribu.
Sementara sebagian besar produk dijual pada kisaran Rp255 ribu hingga Rp285 ribu.
Untuk batik dengan motif yang lebih rumit dan proses pengerjaan yang lebih panjang, harga dapat mencapai Rp500 ribu hingga sekitar Rp1 juta.
"Karena kami khusus batik tulis, harga termurah sekitar Rp200 ribu. Rata-rata Rp255 ribu, kemudian Rp285 ribu. Yang paling bagus sekitar Rp500 ribu sampai Rp1 juta. Harga tergantung motif dan proses pembuatannya," jelasnya.
Perbedaan harga tersebut mencerminkan tingkat kompleksitas produksi setiap lembar kain batik.
Batik Lokal Tetap Bertahan di Tengah Persaingan
Di tengah derasnya arus globalisasi dan persaingan dengan produk batik dari berbagai daerah maupun luar negeri, pengusaha Batik Trenggalek memilih tetap mempertahankan identitas lokal sebagai kekuatan utama.
Motif cengkeh dan manggis menjadi pembeda yang tidak dimiliki daerah lain.
Dukungan pemasaran melalui marketplace, media online, galeri, serta jaringan toko di sejumlah kota turut memperluas pasar produk batik khas Trenggalek.
Kombinasi inovasi motif dan pemanfaatan platform digital menjadi strategi yang membuat usaha batik lokal tetap bertahan sekaligus mampu menjangkau konsumen hingga luar daerah.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al AkhbariSumber : Bioz TV