TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM – Petungan membeli sapi menurut Jawa kembali dibahas dalam sebuah siaran langsung yang mengulas tradisi warisan leluhur. Dalam pembahasan tersebut dijelaskan bahwa masyarakat Jawa zaman dahulu menggunakan hitungan hari atau petung sebelum membeli sapi maupun kerbau, terutama jika hewan dibeli dari sesama petani.
Tradisi itu dipercaya dapat menjadi pedoman dalam memilih hari yang dianggap baik ketika membawa pulang ternak. Salah satu hitungan yang digunakan dikenal dengan istilah Suku Watu Gajah Buto.
Pembahasan tersebut disampaikan sebagai bagian dari pelestarian budaya Jawa. Narasumber menegaskan bahwa petungan bukan menjadi penentu mutlak, melainkan salah satu warisan budaya yang masih dikenal di tengah masyarakat.
Petungan Digunakan Saat Membeli Sapi atau Kerbau
Menurut penjelasan narasumber, petungan umumnya diterapkan ketika seseorang membeli sapi atau kerbau. Tradisi ini sudah dikenal sejak lama dan lebih sering digunakan oleh kalangan petani.
Apabila pembelian dilakukan di pasar, petungan dinilai tidak selalu dapat diterapkan karena transaksi bergantung pada kesediaan penjual. Berbeda jika membeli langsung di rumah sesama petani yang memelihara sapi atau kerbau, pembeli masih memiliki kesempatan menentukan hari pengambilan ternak sesuai petung.
Karena itu, masyarakat dahulu lebih mudah menyesuaikan waktu membawa pulang ternak apabila pembelian dilakukan langsung dari pemiliknya.
Mengenal Hitungan Suku Watu Gajah Buto
Dalam tradisi tersebut terdapat empat hasil hitungan yang dikenal dengan istilah Suku, Watu, Gajah, dan Buto.
Narasumber menjelaskan bahwa hasil yang paling diharapkan adalah Buto. Menurut kepercayaan lama, hasil ini dianggap memberikan pertanda baik bagi ternak yang dipelihara.
Sapi yang memperoleh hitungan Buto dipercaya memiliki nafsu makan yang baik, cepat tumbuh besar, dan mudah berkembang.
Sebaliknya, hasil hitungan Suku disebut memiliki makna kurang baik karena sapi dipercaya lebih sulit diam dan sering bergerak di dalam kandang.
Sementara itu, apabila hasil hitungan jatuh pada Watu, sapi diyakini cenderung sulit makan, lebih sulit diarahkan, dan terkesan diam.
Adapun hasil Gajah memiliki penafsiran berbeda antara masa lalu dan sekarang.
Makna Hitungan Gajah Berubah Seiring Zaman
Narasumber menjelaskan bahwa pada masa lampau sapi banyak dimanfaatkan untuk membajak sawah.
Karena itu, apabila hasil petungan jatuh pada Gajah, sebagian orang menganggap sapi tersebut kurang lincah untuk pekerjaan membajak meski berukuran besar.
Namun kondisi tersebut dinilai berbeda dengan sekarang. Saat ini sapi lebih banyak dipelihara sebagai ternak sehingga ukuran tubuh yang besar justru dianggap menjadi nilai tambah.
Oleh sebab itu, menurut narasumber, hasil Gajah tetap dinilai baik meski Buto masih dianggap sebagai pilihan utama.
Baca Juga: Perubahan BPJS Kesehatan 2026, Ini 5 Kebijakan Baru yang Berdampak bagi Lansia dan Pensiunan
Cara Menghitung Petungan Membeli Sapi
Petungan dilakukan dengan menjumlahkan nilai neptu hari dan neptu pasaran.
Hasil penjumlahan kemudian dihitung berulang menggunakan urutan Suku, Watu, Gajah, Buto hingga mencapai angka akhir.
Dalam siaran tersebut diberikan contoh hari Sabtu Pahing yang memiliki jumlah neptu 18.
Angka tersebut kemudian dihitung mengikuti urutan Suku, Watu, Gajah, dan Buto hingga memperoleh hasil akhir.
Contoh lain juga diperlihatkan menggunakan Selasa Legi dengan jumlah neptu delapan. Proses penghitungan dilakukan menggunakan pola yang sama.
Melalui contoh tersebut, narasumber memperlihatkan bagaimana masyarakat Jawa zaman dahulu menentukan hasil petungan sebelum membawa pulang sapi yang baru dibeli.
Pengalaman yang Disebut Sesuai Petungan
Narasumber mengaku pernah memperoleh pengalaman yang dianggap sesuai dengan petungan tersebut.
Ia menceritakan pernah membeli pedet dari sesama petani dan hasil hitungannya jatuh pada kategori yang dianggap baik.
Meski demikian, pengalaman itu disampaikan sebagai bagian dari cerita turun-temurun yang diwariskan para sesepuh.
Pembahasan Berlanjut ke Weton Pernikahan
Selain membahas petungan membeli sapi, siaran juga menerima pertanyaan mengenai weton pernikahan.
Salah satu penonton menanyakan pasangan dengan weton Rabu Legi dan Rabu Kliwon yang berencana menikah setelah Lebaran.
Berdasarkan hitungan yang dilakukan, narasumber menyarankan akad nikah dilaksanakan pada Selasa Legi apabila memungkinkan.
Selain itu, ia juga menyarankan pelaksanaan akad dilakukan pada bulan Syawal setelah tanggal 15.
Petungan Disebut Sebagai Bagian dari Budaya
Pada akhir pembahasan, narasumber kembali mengingatkan agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada petungan.
Menurutnya, petungan hanyalah salah satu bentuk budaya sekaligus rambu-rambu yang diwariskan oleh para leluhur.
Ia menegaskan bahwa segala kebutuhan dan ikhtiar dalam kehidupan tidak cukup hanya mengandalkan hitungan semata. Tradisi tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari kearifan lokal yang dapat menambah wawasan mengenai budaya Jawa.
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest