TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM - Cara mencari hari baik untuk menanam tanaman menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Jawa yang masih dirawat hingga kini. Budaya turun-temurun ini kembali diulas oleh praktisi budaya, Fitri Ika, melalui kanal YouTube pribadinya. Langkah perhitungan tersebut dipandang sebagai bentuk ikhtiar batiniah agar hasil panen melimpah serta terhindar dari serangan hama wereng. Para sesepuh zaman dahulu selalu menyelaraskan waktu menanam dengan ritme alam melalui perhitungan neptu hari.
Penerapan cara mencari hari baik untuk menanam ini menggunakan rumus pembagi empat elemen utama, yaitu oyot (akar), wit (pohon), godong (daun), dan woh (buah). Metode ini mengabaikan perhitungan mongso atau pranata mangsa tradisional karena kondisi iklim global saat ini sudah berubah drastis. Hujan yang turun sewaktu-waktu membuat prediksi cuaca masa kini menjadi tidak menentu bagi para pelaku tani. Oleh karena itu, perhitungan difokuskan penuh pada nilai neptu weton dari hari pelaksanaan penanaman.
Meskipun hitungan neptu menunjukkan hari tersebut sangat baik untuk tandur, ada aturan sakral yang tidak boleh dilanggar. Petani dilarang keras menanam pada hari naas pribadi masing-masing serta hari geblak atau hari wafatnya orang tua. Pelanggaran terhadap pantangan hari kematian leluhur ini dipercaya bisa mendatangkan energi negatif pada vegetasi. Proses penentuan waktu yang matang diyakini menjadi pelengkap usaha fisik dalam mengolah lahan pertanian.
Baca Juga: Uji Performa dan Kamera Realme C85 Pro: Baterai Monster 7.000 mAh dengan Catatan Sensor Gyro Virtual
Empat Pakem Utama Perhitungan Weton Jawa untuk Sektor Pertanian
Sistem pembagian neptu dalam cara mencari hari baik untuk menanam memiliki landasan matematis yang terstruktur rapi. Total jumlah nilai hari dan pasaran akan dibagi dengan angka empat, lalu sisa dari pembagian tersebut yang menjadi acuan utama. Sisa angka satu mengindikasikan kategori oyot, sisa angka dua berarti wit, sedangkan sisa angka tiga merujuk pada godong. Jika hasil pembagian bernilai genap tanpa sisa, maka hari tersebut masuk ke dalam klasifikasi woh.
Setiap klasifikasi memiliki peruntukan tersendiri yang disesuaikan dengan jenis komoditas vegetasi yang hendak dibudidayakan di sawah. Penyelarasan ini bertujuan agar pertumbuhan vegetasi bisa maksimal sesuai dengan kodrat biologis bagian tumbuhan yang paling bernilai ekonomis. Langkah spiritual ini menempatkan manusia sebagai bagian dari harmoni alam yang saling menghormati.
"Ini adalah salah satu bentuk ikhtiar kita sebagai manusia, mengenai hasil akhir tentu Tuhan yang menentukan," ujar Fitri Ika dalam tayangan video tersebut.
Fleksibilitas Petani Menghadapi Perubahan Iklim Global Masa Kini
Penerapan rumus kuno ini sengaja dimodifikasi agar tetap relevan dengan tantangan iklim abad modern yang penuh ketidakpastian. Langkah meninggalkan hitungan mongso terpaksa diambil karena pola pergantian musim di Indonesia sudah tidak lagi sekonsisten zaman dahulu. Kehadiran teknologi spiritual ini murni dipakai sebagai penguat mental dan manajemen waktu bagi para petani lokal.
Kombinasi antara kearifan tradisional dan logika sains pertanian menjadi kunci keberhasilan pangan di era sekarang. Perhitungan weton memberikan panduan jadwal kerja, sementara perawatan fisik di lapangan menentukan kesehatan vegetasi dari serangan patogen. Tradisi ini terbukti masih diminati oleh generasi muda yang ingin menjaga kelestarian budaya agraria Nusantara.
Melalui edukasi yang konsisten, nilai-nilai luhur peradaban Jawa diharapkan tidak lenyap digilas zaman. Kehadiran konten digital mengenai kalender pertanian tradisional membantu mendokumentasikan pengetahuan yang dulunya hanya diturunkan lewat lisan. Dengan demikian, kejayaan sektor agraria nasional dapat terus ditopang oleh pilar budaya yang kokoh dan berkelanjutan.
Baca Juga: Realme C85 Pro Resmi Diperkenalkan: Bawa Standar Militer dan Fitur IP69 Pro Pertama di Dunia
Editor : Dinar Ananda Putri
Sumber : You Tube