TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM - Nilai neptu hari untuk menanam menjadi parameter krusial dalam menentukan jenis tumbuhan yang akan dibudidayakan agar terhindar dari kerugian. Metode hitungan bersumber dari pakem sesepuh Jawa ini dibedah secara rinci oleh Fitri Ika demi melestarikan kebudayaan agraria kuno. Setiap kombinasi hari dan pasaran memiliki nilai numerik tertentu yang wajib dihitung sebelum bibit dimasukkan ke dalam tanah. Kekeliruan dalam menempatkan komoditas pada hari yang salah dipercaya bisa menurunkan kualitas hasil bumi.
Penetapan neptu hari untuk menanam didasarkan pada sisa hasil pembagian jumlah weton dengan angka empat. Untuk kelompok tumbuhan polo pendem atau tanaman yang buahnya berada di dalam tanah seperti ketela dan kacang tanah, pilihlah neptu bersisa satu. Golongan angka ini jatuh pada nilai neptu 9, 13, dan 17, seperti hari Minggu Kliwon atau Kamis Legi. Pilihan waktu yang selaras dengan unsur akar (oyot) dipercaya membuat umbi tumbuh subur dan padat.
Sementara itu, untuk jenis tanaman yang dimanfaatkan bagian batangnya seperti tebu, pakem Jawa mengharuskan penggunaan neptu bersisa dua. Variasi angka yang cocok untuk kategori pohon (wit) ini meliputi jumlah neptu 10, 14, dan 18, contohnya pada hari Selasa Pon. Ketepatan memilih hari berunsur batang diyakini mampu membuat tanaman tumbuh tinggi, kokoh, serta menghasilkan kadar air yang manis.
Baca Juga: Cara Mencari Hari Baik untuk Menanam Menurut Tradisi Jawa, Hindari Hari Naas dan Geblak
Perhitungan Khusus Kelompok Sayuran Daun dan Tanaman Buah Gantung
Bagi para petani hortikultura yang fokus menanam aneka sayuran, hitungan neptu hari untuk menanam dijatuhkan pada kategori godong (daun). Kategori daun ini memerlukan hari yang memiliki jumlah neptu 7, 11, dan 15 karena menghasilkan sisa angka tiga setelah dibagi empat. Salah satu contoh hari yang sangat ideal untuk menanam sayur adalah Rabu Wage yang bernilai neptu 11. Karakteristik hari ini dipercaya membuat dedaunan tumbuh lebat, hijau, serta terhindar dari serangan hama penyakit daun.
Kategori terakhir diperuntukkan bagi komoditas buah-buahan gantung atau yang dikenal dengan istilah polo gumantung di dalam istilah Jawa. Kategori buah (woh) ini menuntut penggunaan hari dengan jumlah neptu genap yang habis dibagi empat tanpa menyisakan angka. Nilai neptu yang wajib dicari oleh petani adalah angka 8, 12, dan 16, dengan contoh hari Rabu Legi. Pemilihan waktu berunsur buah dilakukan agar pohon lekas berbunga dan menghasilkan buah yang lebat saat musim panen tiba.
"Jika pembagian neptu menghasilkan angka genap atau tidak bersisa, maka hari tersebut sangat tepat untuk kelompok tanaman buah," papar Fitri Ika menerangkan rumus pakem.
Baca Juga: Uji Performa dan Kamera Realme C85 Pro: Baterai Monster 7.000 mAh dengan Catatan Sensor Gyro Virtual
Pentingnya Menjaga Warisan Leluhur di Sektor Pertanian Indonesia
Penerapan nilai numerik weton ini membuktikan bahwa masyarakat Jawa kuno telah memiliki sistem manajemen sains spiritual yang tertata. Pembagian kategori tanaman menunjukkan adanya upaya klasifikasi botani yang diselaraskan dengan ilmu astronomi lokal. Warisan pengetahuan ini menjadi modal budaya yang sangat berharga bagi eksistensi petani mandiri di pedesaan.
Meskipun zaman telah memasuki era digital, esensi dari perhitungan hari baik ini tidak pernah kehilangan daya tariknya. Banyak petani modern yang tetap mengombinasikan jadwal modern dengan kalender weton demi ketenangan batin selama proses produksi. Upaya melestarikan kebudayaan ini juga menjadi tameng moral dalam menjaga kedekatan manusia dengan tanah yang menghidupinya.
Keberhasilan sektor pangan nasional tidak hanya bergantung pada mesin modern, tetapi juga pada mentalitas para pelakunya. Menghargai tradisi bertani berarti menghormati jerih payah para leluhur yang telah membuka lahan sejak berabad-abad silam. Dengan mempraktikkan hitungan ini, petani Indonesia diharapkan mampu mempertahankan jati diri sekaligus mendatangkan rezeki yang berkah.
Editor : Dinar Ananda Putri
Sumber : You Tube