TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM - Asal usul kucing domestik kembali menjadi sorotan setelah pembahasan mengenai sejarah domestikasi hewan ini mengungkap bahwa hubungan manusia dengan kucing telah terjalin sejak sekitar 9.500 tahun lalu. Temuan arkeologi di Siprus menjadi bukti tertua mengenai kedekatan manusia dan kucing, bahkan lebih tua dibandingkan bukti yang ditemukan di Mesir kuno.
Selama ini Mesir sering dianggap sebagai tempat awal manusia memelihara kucing. Namun berdasarkan paparan dalam video tersebut, bukti arkeologi justru menunjukkan bahwa jejak hubungan manusia dan kucing sudah muncul jauh lebih awal di Pulau Siprus.
Penemuan itu memberikan gambaran baru mengenai bagaimana kucing liar secara perlahan berubah menjadi kucing domestik yang kini hidup berdampingan dengan manusia di berbagai belahan dunia.
Mengenal Kucing Domestik
Kucing domestik merupakan mamalia karnivora kecil yang menjadi satu-satunya anggota keluarga Felidae yang berhasil didomestikasi manusia. Hewan ini dipelihara bukan hanya sebagai teman, tetapi juga karena kemampuannya memburu hewan pengerat.
Dalam kehidupan sehari-hari, kucing domestik dapat dibedakan menjadi kucing rumahan, kucing peternakan, hingga kucing liar yang sebelumnya pernah hidup bersama manusia sebelum memilih hidup bebas.
Saat ini terdapat sekitar 60 ras kucing domestik yang diakui di berbagai negara. Meski demikian, banyak orang awam lebih mengenali kucing berdasarkan warna bulu atau ciri fisiknya dibandingkan nama ras resmi.
Secara anatomi, kucing memiliki tubuh yang lentur, refleks cepat, gigi tajam, serta cakar yang dapat ditarik masuk. Kemampuan tersebut membuat mereka menjadi pemburu efektif terhadap mangsa berukuran kecil.
Perilaku yang Membuat Kucing Berbeda
Kucing dikenal sebagai predator yang paling aktif saat fajar dan senja. Meski sering berburu sendirian, hewan ini tetap memiliki kemampuan bersosialisasi.
Mereka dapat mendengar suara berfrekuensi tinggi yang tidak mampu ditangkap telinga manusia, termasuk suara tikus dan mamalia kecil lainnya.
Komunikasi kucing juga cukup kompleks. Selain mengeong, mendengkur, mendesis, menggeram, dan mendengus, mereka menggunakan bahasa tubuh serta feromon untuk menyampaikan berbagai sinyal kepada sesamanya.
Dalam kondisi kesehatan yang baik, usia hidup kucing domestik berkisar antara dua hingga 16 tahun. Bahkan terdapat kucing yang mampu bertahan hidup hingga usia sekitar 20 tahun.
Kucing betina juga memiliki kemampuan berkembang biak yang cukup cepat. Masa kehamilan berlangsung sekitar 58 hingga 67 hari dengan jumlah anak berkisar dua sampai lima ekor dalam satu kelahiran.
Bukti Tertua Persahabatan Manusia dan Kucing
Penjelasan mengenai asal usul kucing domestik kemudian mengarah pada sebuah penemuan arkeologi di Siprus.
Pada tahun 2001, sekelompok arkeolog asal Prancis melakukan penggalian di pulau tersebut. Mereka menemukan sebuah makam kuno berisi jasad seorang pria yang dimakamkan bersama sejumlah benda persembahan, termasuk seekor kucing berusia sekitar delapan bulan.
Kuburan tersebut diperkirakan berasal dari sekitar 9.500 tahun lalu.
Penemuan ini menjadi bukti tertua mengenai hubungan dekat manusia dengan kucing. Usianya bahkan lebih tua dibandingkan kuburan kucing yang ditemukan di Mesir kuno yang diperkirakan berasal dari sekitar 4.000 tahun lalu.
Temuan tersebut sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai kapan sebenarnya proses domestikasi kucing dimulai dan bagaimana manusia mulai hidup berdampingan dengan hewan tersebut.
Baca Juga: Prabowo Singgung Media, LSM, hingga Isu Indonesia Collapse dalam Pidato: "Kita Bukan Anak Kecil"
Tiga Jalur Domestikasi Hewan
Untuk menjelaskan proses tersebut, video mengutip gagasan arkeolog Amerika, Dr. Melinda Zeder.
Menurutnya, terdapat tiga jalur utama yang mengarah pada domestikasi hewan.
Jalur pertama adalah jalur mangsa, yakni ketika manusia awalnya memburu hewan liar. Seiring waktu, manusia mulai mengelola populasi hewan tersebut hingga akhirnya melakukan penangkaran dan domestikasi.
Kambing maupun sapi disebut sebagai contoh domestikasi melalui jalur ini.
Jalur kedua adalah jalur terarah. Dalam metode ini, manusia secara sengaja menjinakkan hewan karena membutuhkan kemampuan tertentu.
Kuda, keledai, dan unta diperkirakan masuk dalam kelompok ini karena dimanfaatkan sebagai alat transportasi maupun pengangkut barang.
Sementara itu, jalur ketiga adalah jalur komensal.
Pada jalur inilah kucing dipercaya mulai hidup bersama manusia.
Kucing Mendekati Manusia karena Makanan
Menurut penjelasan tersebut, kucing liar awalnya tertarik mendatangi permukiman manusia karena keberadaan makanan.
Mereka memanfaatkan sisa makanan manusia maupun memburu tikus yang hidup di sekitar tempat penyimpanan hasil panen.
Keberadaan kucing ternyata membantu manusia mengurangi populasi hama yang mengancam persediaan makanan.
Hubungan saling menguntungkan tersebut kemudian berkembang menjadi kedekatan yang berlangsung selama ribuan tahun.
Video bahkan menyebut bahwa pada akhirnya kucing seolah "mendomestikasi dirinya sendiri" karena proses tersebut berlangsung tanpa campur tangan manusia secara langsung sebagaimana terjadi pada beberapa hewan ternak lainnya.
Baca Juga: Prabowo Rombak Pejabat Kejaksaan Agung, Asep Nana Muliana Jadi Wakil Jaksa Agung
Leluhur Kucing Peliharaan Modern
Kucing peliharaan modern saat ini dikenal sebagai spesies Felis catus.
Berdasarkan studi genom yang disebutkan dalam video, seluruh kucing rumahan berasal dari salah satu subspesies kucing liar, yaitu Felis silvestris lybica, yang juga dikenal sebagai kucing liar Afrika.
Hingga kini, subspesies tersebut masih dapat ditemukan di Afrika Utara dan beberapa wilayah Asia.
Secara fisik, kucing liar Afrika tidak memiliki banyak perbedaan dibandingkan kucing rumahan saat ini.
Tubuhnya cenderung sedikit lebih besar dan tidak memiliki variasi warna bulu sebanyak kucing domestik modern.
Sebagian besar memiliki pola bulu khas bergaris dengan tanda menyerupai huruf "M" pada bagian dahi.
Pola tersebut juga banyak ditemukan dalam berbagai karya seni Mesir kuno.
Evolusi Kucing Menuju Hewan Peliharaan
Catatan fosil menunjukkan bahwa spesimen tertua Felis silvestris lybica ditemukan di Siprus dengan usia sekitar 11.000 tahun.
Sementara spesimen lain ditemukan di Turki dengan usia sekitar 10.000 tahun.
Menurut penjelasan dalam video, selama ribuan tahun kucing liar tinggal di sekitar permukiman manusia karena tertarik pada sumber makanan.
Pada tahap awal, mereka belum memiliki hubungan dekat dengan manusia.
Hubungan itu mulai berubah ketika manusia menyadari kemampuan alami kucing dalam memburu tikus yang mengganggu persediaan hasil panen.
Sejak saat itulah manusia mulai membiarkan bahkan mendorong kucing tinggal lebih dekat dengan permukiman.
Domestikasi kemudian memunculkan perubahan fisik berupa ukuran tubuh yang sedikit lebih kecil serta variasi warna bulu seperti hitam, putih, dan jingga.
Namun, perubahan tersebut tidak banyak memengaruhi perilaku dasar mereka.
Kucing modern masih mempertahankan banyak sifat alami leluhurnya, termasuk pola berburu dan berkembang biak.
Mengapa Siprus Dipenuhi Kucing?
Pembahasan mengenai Siprus juga menjelaskan mengapa pulau tersebut memiliki populasi kucing yang sangat besar.
Dalam video disebutkan bahwa sekitar tahun 2001, jumlah penduduk Siprus diperkirakan mencapai 1,2 juta orang.
Di sisi lain, populasi kucing di pulau itu diperkirakan mencapai sekitar 1,5 juta ekor, baik yang dipelihara maupun hidup bebas.
Legenda Bizantium menyebut Helena dari Konstantinopel atau Saint Helen pernah membawa kucing dari Mesir atau Palestina ke Siprus pada tahun 328 Masehi.
Tujuannya adalah mengendalikan populasi ular berbisa di sekitar sebuah biara.
Para biarawan bahkan disebut melatih kucing mengenali bunyi lonceng sebagai penanda waktu makan maupun saat berburu ular.
Meski demikian, video menegaskan bahwa kisah tersebut masih berupa legenda sehingga belum memiliki bukti yang memastikan kebenarannya.
Migrasi Manusia Diduga Membawa Leluhur Kucing
Penjelasan kemudian mengarah pada teori lain berdasarkan sejarah ekologi.
Sekitar 11.000 tahun lalu, manusia dari Asia Barat Daya mulai bermigrasi menuju Eropa, termasuk ke Pulau Siprus.
Mereka diduga membawa berbagai hewan yang telah didomestikasi, termasuk subspesies kucing yang kemudian menjadi leluhur seluruh kucing peliharaan modern.
Populasi kucing di Siprus terus berkembang hingga jumlahnya sangat besar.
Berkurangnya mangsa alami membuat banyak kucing bergantung pada manusia.
Meski demikian, keberadaan organisasi penyelamat hewan yang dikelola para sukarelawan membantu merawat kucing-kucing liar di pulau tersebut.
Akibatnya, banyak kucing liar di Siprus tetap jinak dan tidak menolak saat didekati manusia.
Kondisi tersebut disebut berbeda dengan populasi kucing liar yang hidup di Australia.
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest