Cara Tidur Rasulullah Dijelaskan Buya Yahya, Tahajud dan Witir Jadi Amalan yang Tak Pernah Ditinggalkan

Fadhilah Salsa Bella • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 14:15 WIB
Cara tidur Rasulullah dijelaskan Buya Yahya. Simak penjelasan tentang tahajud, witir, waktu istirahat Nabi Muhammad SAW, serta hukum salat malam bagi pekerja shift (Pinterest).
Cara tidur Rasulullah dijelaskan Buya Yahya. Simak penjelasan tentang tahajud, witir, waktu istirahat Nabi Muhammad SAW, serta hukum salat malam bagi pekerja shift (Pinterest).

TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM – Cara tidur Rasulullah sering menjadi pertanyaan di kalangan umat Islam, terutama terkait waktu tidur, kebiasaan bangun malam, hingga pelaksanaan salat tahajud. Menanggapi hal tersebut, Buya Yahya memberikan penjelasan mengenai kebiasaan tidur Nabi Muhammad SAW berdasarkan pemahaman para ulama dan hadis.

Dalam sebuah kajian, Buya Yahya menjelaskan bahwa cara tidur Rasulullah tidak bisa disimpulkan hanya dari satu pola waktu tertentu. Sebab, Nabi Muhammad SAW menjalani aktivitas yang berbeda-beda sesuai kondisi, sehingga waktu tidur maupun ibadah malamnya juga tidak selalu sama.

Meski demikian, menurut Buya Yahya, terdapat satu hal yang tidak diperselisihkan, yakni Rasulullah hampir tidak pernah meninggalkan salat tahajud dan salat witir. Kedua ibadah tersebut menjadi ciri utama dalam kehidupan malam Nabi.

Baca Juga: Standar Pendidikan Kades Naik, Permintaan Aliansi Center dalam RDP

Tahajud dan Witir Menjadi Amalan Rutin Rasulullah

Buya Yahya menerangkan bahwa salat tahajud merupakan salat yang dilakukan setelah seseorang tidur terlebih dahulu. Bahkan, menurut beliau, tahajud merupakan ibadah yang hukumnya wajib secara khusus bagi Nabi Muhammad SAW, meski tidak diwajibkan bagi umat Islam.

Selain tahajud, Rasulullah juga tidak pernah meninggalkan salat witir. Karena kedua ibadah tersebut diwajibkan bagi Nabi, maka umat Islam sangat dianjurkan untuk mengamalkannya sebagai sunah yang sangat ditekankan.

Ia juga menyebut sebagian ulama berpendapat bahwa salat duha termasuk ibadah yang diwajibkan bagi Nabi, meskipun hal tersebut merupakan kekhususan Rasulullah.

Tidak Ada Satu Pola Tidur yang Selalu Sama

Menjawab pertanyaan mengenai apakah Rasulullah selalu tidur setelah salat Isya, bangun sekitar tengah malam untuk tahajud, lalu tidur kembali hingga menjelang Subuh, Buya Yahya menegaskan bahwa tidak ada satu riwayat yang menunjukkan pola tersebut dilakukan setiap hari.

Menurutnya, kehidupan Rasulullah berlangsung secara dinamis. Ada kalanya beliau tidur terlebih dahulu sebelum melaksanakan witir, namun pada kesempatan lain beliau menunaikan witir lebih dahulu kemudian beristirahat.

Dalam riwayat lain, Rasulullah juga pernah menunda waktu istirahat karena berbagai keperluan, termasuk setelah kembali dari peperangan atau aktivitas lainnya.

Karena itu, Buya Yahya menilai tidak tepat jika menyimpulkan bahwa Rasulullah memiliki satu jadwal tidur yang selalu sama setiap malam.

Baca Juga: Petani Cermati Harga Gabah Pilih Simpan sebelum Harga Naik

Istirahat Tetap Dianjurkan

Buya Yahya juga mengingatkan bahwa Islam tidak mengajarkan umatnya meninggalkan waktu istirahat demi terus beribadah.

Menurutnya, seseorang tetap harus memenuhi hak tubuh untuk beristirahat agar mampu menjalankan ibadah malam dengan baik.

Ia menyarankan agar umat Islam mempersiapkan diri untuk bangun tahajud dengan tidur lebih awal dan menghindari aktivitas yang tidak bermanfaat hingga larut malam.

Dengan pola tersebut, seseorang memiliki kesempatan untuk bangun sekitar pukul 02.00 atau 03.00 dini hari guna melaksanakan salat malam sebelum memasuki waktu Subuh.

Pekerja Malam Tetap Bisa Salat Malam

Buya Yahya juga menjawab pertanyaan mengenai pekerja malam, seperti petugas keamanan yang tidak sempat tidur pada malam hari.

Menurutnya, orang yang tidak tidur pada malam hari memang tidak dapat disebut melaksanakan salat tahajud karena syarat tahajud adalah tidur terlebih dahulu sebelum bangun untuk salat.

Meski demikian, mereka tetap dapat mengerjakan qiyamul lail atau salat malam dan tetap memperoleh keutamaan ibadah malam sebagaimana dijanjikan Allah SWT.

Ia mengingatkan agar kesibukan bekerja pada malam hari tidak menjadi alasan untuk meninggalkan salat malam maupun salat witir.

Sebagai penutup, Buya Yahya kembali menegaskan bahwa inti dari teladan Rasulullah bukan sekadar meniru jam tidur secara persis, melainkan menjaga keseimbangan antara hak tubuh untuk beristirahat dan semangat menghidupkan malam dengan ibadah kepada Allah SWT.

Baca Juga: Kualitas Tidur Ternyata Bisa Memperpanjang Umur, Dokter Beberkan 6 Cara Tidur Lebih Nyenyak Tanpa Obat

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : pinterest
cara tidur Rasulullah qiyamul l Buya Yahya Salat Witir salat tahajud