TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM – Ubi yakon kembali menjadi perbincangan setelah banyak dicari masyarakat karena disebut memiliki beragam manfaat kesehatan. Selain dikenal sebagai umbi yang dipercaya membantu mengontrol gula darah, ubi yakon juga memiliki nilai ekonomi tinggi dengan harga jual yang bisa mencapai Rp60 ribu per kilogram.
Di kawasan Desa Parikesit, Dataran Tinggi Dieng, seorang pembudidaya bernama Hendri membuktikan bahwa tanaman yang masih tergolong langka di Indonesia tersebut memiliki prospek menjanjikan. Meski baru menekuni budidaya selama sekitar satu setengah tahun, hasil panennya telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.
Permintaan ubi yakon bahkan datang dari luar Pulau Jawa. Hendri mengaku sebagian besar pembeli mengetahui produknya melalui media sosial sebelum memesan langsung melalui WhatsApp. Ia juga memiliki sejumlah reseller yang membantu distribusi ke berbagai wilayah Nusantara.
Budidaya Ubi Yakon Masih Langka
Menurut Hendri, ubi yakon berasal dari luar negeri dan mulai dikenal masyarakat Indonesia karena manfaatnya bagi kesehatan. Meski semakin populer, jumlah petani yang membudidayakan tanaman ini masih sangat sedikit.
Salah satu penyebabnya adalah masa tanam yang relatif panjang. Jika sebagian besar petani hortikultura terbiasa menanam komoditas berumur sekitar tiga bulan, ubi yakon membutuhkan waktu sekitar enam hingga tujuh bulan hingga siap dipanen.
Namun, waktu tunggu tersebut dinilai sebanding dengan harga jual yang diperoleh. Untuk ubi yakon segar di tingkat petani, harga berkisar Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram. Setelah melalui proses sortir dan distribusi, nilainya dapat mencapai sekitar Rp55 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram.
Baca Juga: Tanaman Herbal Wajib Ditanam di Rumah, Ini 7 Jenis yang Disebut Kaya Manfaat untuk Kesehatan
Cocok Ditanam di Dataran Tinggi
Hendri menjelaskan tanaman ubi yakon tumbuh optimal di kawasan dataran tinggi. Kebunnya berada di ketinggian sekitar 1.700 hingga lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut.
Semakin tinggi lokasi penanaman, kualitas umbi yang dihasilkan disebut semakin baik. Bahkan, pada usia tiga hingga empat bulan, calon umbi sudah mulai terlihat meski panen ideal dilakukan setelah enam hingga tujuh bulan.
Dalam kondisi optimal, satu rumpun ubi yakon mampu menghasilkan sekitar tiga hingga lima kilogram umbi. Jika dibiarkan tumbuh lebih lama, hasil panen bahkan bisa mencapai sekitar tujuh kilogram per rumpun.
Perawatan Mudah Tanpa Pestisida Kimia
Keunggulan lain dari budidaya ubi yakon adalah perawatannya yang relatif sederhana. Hendri mengaku tidak menggunakan pestisida kimia untuk menjaga pertumbuhan tanaman.
Pemupukan cukup dilakukan menggunakan pupuk kandang seperti pupuk sapi atau kambing. Sementara perawatan rutin hanya berupa penyiangan gulma dan penimbunan tanah di sekitar batang saat tanaman memasuki usia dua bulan.
Serangan hama pun dinilai tidak menjadi masalah serius. Daun yang berlubang akibat ulat tetap dibiarkan karena tidak memengaruhi kualitas umbi. Bahkan, menurut Hendri, hal tersebut menjadi bagian dari keseimbangan alam.
Baca Juga: 15 Tanaman Obat yang Wajib Ditanam di Rumah, Kaya Manfaat untuk Kesehatan dan Mudah Dirawat
Disebut Baik untuk Gula Darah dan Diet
Selain memiliki prospek ekonomi, ubi yakon semakin diminati karena dipercaya memiliki manfaat kesehatan. Hendri mengatakan banyak konsumennya membeli ubi yakon untuk membantu mengontrol kadar gula darah serta tekanan darah.
Umbi ini juga sering dijadikan camilan bagi mereka yang sedang menjalani program diet. Teksturnya renyah dengan kandungan air yang tinggi sehingga terasa segar saat dikonsumsi langsung setelah dikupas.
Secara fisik, ubi yakon memiliki kulit yang menyerupai ubi jalar, tetapi daging umbinya tersedia dalam dua jenis warna, yakni putih dan oranye. Rasanya disebut mirip perpaduan bengkuang dan pir dengan sensasi lebih manis ketika umbi telah disimpan beberapa waktu setelah panen.
Permintaan Terus Meningkat
Meski peluang pasarnya terus berkembang, Hendri mengaku masih menghadapi tantangan berupa minimnya jumlah petani yang membudidayakan ubi yakon. Bahkan, tingginya nilai jual membuat kebunnya beberapa kali menjadi sasaran pencurian hasil panen.
Ia berharap semakin banyak petani tertarik menanam ubi yakon agar kebutuhan pasar dapat terpenuhi sekaligus membuka peluang usaha baru di sektor pertanian dataran tinggi.
Dengan permintaan yang terus meningkat, harga yang relatif stabil, serta perawatan yang mudah tanpa ketergantungan pada pestisida kimia, ubi yakon dinilai berpotensi menjadi salah satu komoditas hortikultura unggulan yang mampu meningkatkan pendapatan petani Indonesia.
Baca Juga: Rekomendasi Film Studio Ghibli Terbaik, Spirited Away hingga Kiki's Delivery Service Wajib Ditonton
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest