TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM– Kesehatan mental merupakan aspek penting yang sering kali luput dari perhatian. Banyak orang berupaya menjaga kesehatan fisik, tetapi belum tentu memberikan perhatian yang sama terhadap kondisi psikologis. Padahal, keduanya saling berkaitan dan sama-sama berperan dalam menentukan kualitas hidup seseorang.
Menurut penjelasan yang mengacu pada definisi kesehatan mental dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seseorang dikatakan memiliki kondisi mental yang sehat ketika mampu menyadari kesejahteraan psikologis dirinya, mengelola stres secara wajar, bekerja secara produktif, serta berkontribusi positif di lingkungan sekitar.
Memahami kesehatan mental menjadi semakin penting karena gangguan yang terjadi tidak hanya memengaruhi emosi, tetapi juga aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, hingga kemampuan seseorang dalam menjalankan pekerjaan atau pendidikan. Oleh karena itu, mengenali gejala sejak dini menjadi langkah awal untuk mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius.
Penyebab Gangguan Kesehatan Mental Beragam
Gangguan kesehatan mental dapat dipicu oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah stres berat yang berlangsung dalam waktu lama sehingga memengaruhi keseimbangan psikologis seseorang.
Selain itu, faktor genetik juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan mental. Riwayat keluarga dengan kondisi serupa sering kali menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Penyebab lainnya meliputi kehilangan orang terdekat, pengalaman kekerasan, trauma, pelecehan, hingga penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Berbagai pengalaman tersebut dapat memberikan dampak emosional yang mendalam apabila tidak ditangani dengan baik.
Baca Juga: Resep Ayam Goreng 5 Bahan, Rahasia Daging Empuk dan Kulit Renyah Tanpa Ungkep ala Devina Hermawan
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Gejala gangguan kesehatan mental sangat beragam dan bergantung pada penyebab maupun tingkat keparahannya.
Pada tahap awal, seseorang dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi, perubahan suasana hati, rasa cemas berlebihan, mudah marah, atau lebih sensitif dibandingkan biasanya. Sebagian orang juga mulai menarik diri dari lingkungan sosial dan kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai.
Dalam kondisi yang lebih berat, gangguan kesehatan mental dapat disertai munculnya halusinasi, pikiran yang mengganggu, hingga keinginan menyakiti diri sendiri maupun orang lain. Gejala seperti ini memerlukan perhatian medis sesegera mungkin.
Selain perubahan emosional, penderita juga dapat mengalami depresi, perasaan sedih berkepanjangan, merasa tidak berharga, kehilangan harapan, serta merasa tidak memiliki tujuan hidup.
Perubahan Fisik Juga Bisa Menjadi Tanda
Gangguan kesehatan mental tidak hanya terlihat dari perubahan perilaku, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi fisik seseorang.
Perubahan pola makan menjadi salah satu tanda yang cukup sering muncul. Ada yang mengalami peningkatan nafsu makan secara drastis, namun ada pula yang justru kehilangan selera makan.
Gangguan tidur juga sering dialami, mulai dari sulit tidur hingga kualitas tidur yang menurun. Akibatnya, tubuh terasa sangat lelah meskipun tidak melakukan aktivitas berat.
Dalam kondisi tertentu, penurunan energi tersebut dapat mengganggu aktivitas harian, seperti tidak mampu bekerja, bersekolah, merawat anak, atau menjalankan tanggung jawab lainnya.
Baca Juga: Kuliner Hidden Gem Jogja: 10 Warung Tersembunyi yang Rasanya Bikin Ketagihan
Cara Menjaga Kesehatan Mental
Menjaga kesehatan mental dapat dimulai dengan mengenali diri sendiri, termasuk memahami kelebihan maupun kekurangan yang dimiliki.
Penerimaan terhadap kondisi diri diyakini membantu seseorang lebih mudah berdamai dengan kegagalan dan tekanan hidup. Selain itu, membiasakan diri untuk bersyukur atas pencapaian sekecil apa pun juga dapat membantu membangun kondisi psikologis yang lebih positif.
Aktivitas seperti meditasi secara rutin juga dapat menjadi salah satu cara untuk mengelola stres dan menjaga ketenangan pikiran.
Penanganan Perlu Dilakukan Secara Menyeluruh
Apabila gangguan kesehatan mental berlangsung dalam waktu lama atau semakin berat, penanganan profesional menjadi langkah yang penting.
Terapi dapat meliputi pemberian obat-obatan yang bekerja memengaruhi senyawa kimia di otak, seperti serotonin maupun obat antidepresan. Namun, penggunaan obat harus berada di bawah pengawasan tenaga medis.
Selain terapi obat, psikoterapi bersama psikiater atau psikolog serta dukungan dari keluarga maupun kelompok pendukung (support group) juga berperan besar dalam proses pemulihan. Pendekatan yang menyeluruh dinilai mampu memberikan hasil pengobatan yang lebih optimal sekaligus membantu penderita kembali menjalani aktivitas secara produktif.
Baca Juga: Resep Ayam Pop, Rahasia Ayam Empuk dengan Sambal Merah dan Kuah Gurih ala Rumahan
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest