TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM– Gangguan kesehatan mental tidak selalu ditandai dengan kondisi yang berat. Justru, gejala awal sering kali muncul dalam aktivitas sehari-hari, tetapi kerap diabaikan karena dianggap sebagai hal yang biasa. Padahal, deteksi dan penanganan sejak dini dapat meningkatkan peluang kesembuhan secara signifikan.
Hal tersebut disampaikan praktisi kesehatan masyarakat Dr. Ngabila Salama dalam program Hidup Sehat. Ia menjelaskan bahwa gangguan kesehatan mental tidak hanya memengaruhi kondisi psikologis, tetapi juga berdampak pada kesehatan fisik dan kualitas hidup seseorang apabila tidak segera ditangani.
Dalam perbincangan tersebut, gangguan kesehatan mental disebut semakin relevan di era modern karena tingginya tekanan hidup yang memicu stres dan kelelahan mental. Kondisi tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kesehatan secara menyeluruh.
Sulit Tidur Bisa Menjadi Gejala Awal
Dr. Ngabila menegaskan bahwa anggapan sulit tidur sebagai salah satu tanda awal gangguan kesehatan mental merupakan fakta.
Menurutnya, kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga mental. Saat kesehatan mental mulai terganggu, seseorang dapat mengalami berbagai perubahan perilaku yang sering tidak disadari.
Beberapa gejala awal antara lain sulit tidur, mudah marah, overthinking, kehilangan semangat beraktivitas, enggan bertemu orang lain, malas bekerja atau bersekolah, hingga kehilangan motivasi untuk melakukan aktivitas sederhana seperti mandi.
Selain itu, seseorang juga dapat mengalami kecemasan berlebihan, kesedihan berkepanjangan, serta perubahan suasana hati yang tidak stabil, mulai dari merasa sangat bahagia hingga tiba-tiba sangat sedih.
Baca Juga: Rekomendasi Tablet Murah Terbaik 2026 yang Bagus untuk Kerja dan Game
Konsultasi ke Psikolog Bukan Berarti "Gila"
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Ngabila juga meluruskan stigma yang masih berkembang di masyarakat bahwa hanya orang dengan gangguan jiwa berat yang perlu berkonsultasi ke psikolog atau psikiater.
Menurutnya, anggapan tersebut merupakan mitos yang harus dihilangkan. Seseorang yang datang mencari bantuan profesional justru menunjukkan kepedulian terhadap dirinya sendiri atau bentuk self-love.
Ia menjelaskan bahwa apabila gangguan masih berada pada tahap ringan, peluang sembuh sangat besar. Bahkan, banyak kasus yang dapat pulih hanya melalui sesi konsultasi atau psikoterapi tanpa memerlukan obat.
Bedanya Psikolog dan Psikiater
Dr. Ngabila menjelaskan bahwa psikolog dan psikiater memiliki peran yang berbeda dalam menangani gangguan kesehatan mental.
Psikiater merupakan dokter spesialis yang dapat memberikan terapi obat apabila diperlukan. Sementara itu, psikolog berfokus pada asesmen dan terapi psikologis tanpa meresepkan obat.
Karena itu, pemeriksaan sejak dini menjadi sangat penting agar penanganan dapat dilakukan sebelum kondisi berkembang menjadi lebih berat.
Baca Juga: Mental Illness, Kenali Tanda Gangguan Kesehatan Mental dan Pentingnya Penanganan Sejak Dini
Risiko Jika Terlambat Ditangani
Apabila gangguan kesehatan mental tidak segera mendapatkan penanganan, kondisi dapat berkembang menjadi lebih serius.
Gejala berat dapat berupa halusinasi, keinginan mengakhiri hidup, hingga perilaku yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Selain membutuhkan pengobatan dalam waktu lebih lama, penderita juga berisiko mengalami penurunan kualitas hidup sehingga kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari, bekerja, maupun berinteraksi dengan lingkungan sosial.
Gejala Berbeda pada Setiap Usia
Dr. Ngabila menjelaskan bahwa tanda gangguan kesehatan mental berbeda-beda sesuai tahap kehidupan seseorang.
Pada balita, gejala dapat berupa tantrum yang berlebihan, hiperaktif, atau mudah menangis. Memasuki usia sekolah, masalah seperti perundungan (bullying) dan rendahnya rasa percaya diri dapat memengaruhi kondisi psikologis anak.
Sementara pada remaja, gejala sering muncul dalam bentuk overthinking, tekanan akibat penggunaan media sosial, hingga kesulitan mengelola emosi. Pada usia produktif, masalah keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance) menjadi salah satu pemicu utama stres.
Adapun pada perempuan menjelang masa menopause, perubahan hormon juga dapat meningkatkan risiko munculnya kecemasan, depresi, overthinking, maupun rasa curiga yang berlebihan.
Dr. Ngabila menekankan pentingnya mengenali gejala sejak dini dan tidak ragu mencari bantuan profesional apabila mulai merasakan perubahan pada kondisi mental. Dengan penanganan yang cepat, peluang pemulihan akan jauh lebih baik dan seseorang tetap dapat menjalani hidup secara produktif serta berkualitas.
Baca Juga: Gangguan Mental, Kenali Jenis, Penyebab, dan Gejalanya Sebelum Terlambat
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest