Whole Self Jadi Kunci Pemulihan Diri, Psikiater Ungkap 4 Aspek Penting agar Mental Lebih Sehat

Fadhilah Salsa Bella • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 20:11 WIB
Whole self menjadi kunci pemulihan diri menurut psikiater Dr. Elving Gunawan. Simak empat aspek penting kesehatan mental yang wajib dibangun agar hidup lebih seimbang (Pinterest).
Whole self menjadi kunci pemulihan diri menurut psikiater Dr. Elving Gunawan. Simak empat aspek penting kesehatan mental yang wajib dibangun agar hidup lebih seimbang (Pinterest).

TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM – Whole self menjadi konsep penting dalam proses pemulihan kesehatan mental. Hal itu disampaikan oleh psikiater Dr. Elving Gunawan dalam podcast edukasi kesehatan mental yang membahas bagaimana seseorang dapat pulih secara menyeluruh, bukan hanya mengatasi gejala emosional semata.

Konsep whole self dijelaskan sebagai kondisi ketika seseorang mampu berkembang secara utuh dari sisi biologis, psikologis, sosial, hingga spiritual. Menurutnya, pemulihan kesehatan mental tidak akan berhasil jika seseorang hanya mengandalkan terapi atau obat tanpa disertai perubahan kebiasaan hidup yang lebih sehat.

Dalam pemaparannya, Dr. Elving menekankan bahwa whole self bukan sekadar teori, melainkan target utama dalam proses terapi. Perubahan yang terjadi harus menyentuh seluruh aspek kehidupan sehingga seseorang mampu membangun kebiasaan sehat yang bertahan dalam jangka panjang.

Baca Juga: Gangguan Mental, Kenali Jenis, Penyebab, dan Gejalanya Sebelum Terlambat

Aspek Biologis Jadi Fondasi Pemulihan

Aspek pertama yang dibahas adalah kondisi biologis. Menurutnya, kesehatan fisik memiliki hubungan erat dengan kesehatan mental. Pola makan yang buruk, kurang olahraga, hingga kebiasaan mengonsumsi makanan olahan dapat memengaruhi kondisi otak, sistem imun, serta kesehatan saluran pencernaan.

Ia juga mengingatkan bahwa stres berkepanjangan dapat memperburuk kondisi lambung dan memicu berbagai gangguan kesehatan lainnya. Selain itu, penggunaan gadget secara berlebihan juga perlu diperhatikan karena paparan radiofrekuensi dalam waktu lama disebut dapat memengaruhi kesehatan otak.

Karena itu, masyarakat disarankan membatasi penggunaan media sosial sekitar tiga hingga empat jam setiap hari melalui fitur digital wellbeing agar keseimbangan hidup tetap terjaga.

Faktor Psikologis Dipengaruhi Pengalaman Hidup

Aspek kedua adalah psikologis yang berkaitan dengan keyakinan, pengalaman hidup, hingga trauma masa lalu. Pengalaman negatif dapat membentuk cara seseorang merespons masalah melalui mekanisme fight, flight, atau freeze.

Menurut Dr. Elving, respons tersebut akan memengaruhi cara seseorang menghadapi konflik dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang selalu menyerang saat menghadapi masalah maupun yang terus menghindar sama-sama perlu belajar mengembangkan respons yang lebih sehat.

Ia juga menyoroti pentingnya mengenali attachment style atau pola kelekatan yang terbentuk sejak kecil. Pengalaman pengkhianatan, kurangnya rasa aman, hingga lingkungan keluarga yang tidak sehat dapat memengaruhi hubungan seseorang saat dewasa.

Selain itu, kemampuan mengendalikan emosi menjadi bagian penting dalam pemulihan. Ia menyarankan agar seseorang tidak mengambil keputusan besar ketika sedang marah, sedih, atau kecewa. Sebaliknya, luangkan waktu untuk menenangkan diri terlebih dahulu sebelum menentukan langkah berikutnya.

Baca Juga: Gangguan Mental, Kenali Jenis, Penyebab, dan Gejalanya Sebelum Terlambat

Lingkungan Sosial Berpengaruh pada Cara Berpikir

Lingkungan sosial menjadi aspek ketiga yang tidak kalah penting. Menurutnya, seseorang cenderung mengikuti pola pikir dari lingkungan pertemanannya.

Apabila berada di lingkungan yang positif, terbuka terhadap diskusi, dan gemar belajar, seseorang akan terdorong untuk melihat persoalan secara lebih luas. Sebaliknya, lingkungan yang gemar menghakimi justru membuat cara berpikir menjadi sempit.

Kondisi keluarga juga memegang peranan besar. Ia mengingatkan agar setiap orang belajar membangun batasan yang sehat terhadap kritik maupun tekanan dari keluarga tanpa harus memutus tali silaturahmi.

Faktor ekonomi, pendidikan, hingga budaya juga disebut memengaruhi kesehatan mental. Seseorang perlu menjaga keseimbangan finansial agar mampu terus mengembangkan diri tanpa terbebani tekanan ekonomi yang berlebihan. Selain itu, ia mengingatkan bahwa kesedihan merupakan emosi yang normal sehingga tidak perlu ditutupi dengan sikap toxic positivity.

Spiritualitas Bukan Sekadar Ritual Keagamaan

Bagian terakhir yang menjadi perhatian adalah kehidupan spiritual. Menurut Dr. Elving, spiritualitas berbeda dengan sekadar menjalankan ritual keagamaan.

Ia menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki kehidupan spiritual yang sehat akan memiliki tujuan hidup yang jelas, memperlakukan sesama dengan penuh kasih, serta mampu menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menilai masih banyak orang yang rajin beribadah, tetapi belum mampu menghormati orang lain atau bahkan melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan. Karena itu, spiritualitas harus diwujudkan dalam perilaku nyata, bukan hanya menjadi simbol atau pencitraan.

Pada akhirnya, konsep whole self mengajarkan bahwa pemulihan diri merupakan proses menyeluruh yang membutuhkan perubahan biologis, psikologis, sosial, dan spiritual secara bersamaan. Dengan membangun keempat aspek tersebut secara seimbang, seseorang diharapkan mampu mencapai kesehatan mental yang lebih baik dan menjalani kehidupan dengan lebih bermakna.

Baca Juga: Rekomendasi Tablet Murah Pengganti Laptop 2026 Terbaik untuk Kerja dan Hiburan

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : pinterest
kesehatan psikologis whole self pemulihan diri Dr Elving Gunawan kesehatan mental