TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM - Tes MBTI atau Myers-Briggs Type Indicator menjadi salah satu tes kepribadian yang sangat populer. Dari pelajar hingga selebritas Korea Selatan, banyak orang pernah mencoba tes ini untuk mengetahui tipe kepribadian mereka. Namun, di balik popularitasnya, muncul pertanyaan penting: seberapa akurat tes MBTI dalam menggambarkan kepribadian seseorang?
Tes MBTI selama ini dikenal karena membagi manusia ke dalam 16 tipe kepribadian berdasarkan sejumlah pasangan karakter. Hasilnya kerap dianggap mampu menjelaskan cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, hingga berinteraksi dengan orang lain. Masalahnya, tes MBTI ternyata memiliki sejumlah kelemahan yang membuat hasilnya tidak selalu konsisten.
Salah satu persoalan utama adalah hasil tes MBTI dapat berubah ketika seseorang mengerjakannya kembali. Kondisi psikologis, pengalaman, hingga situasi saat mengisi pertanyaan dapat memengaruhi jawaban. Artinya, hasil tes tidak selalu menunjukkan kepribadian seseorang secara permanen.
Mengapa Hasil Tes MBTI Bisa Berubah?
Tes MBTI pada dasarnya mengelompokkan seseorang ke dalam kategori tertentu. Padahal, karakter manusia tidak selalu bekerja secara hitam putih. Seseorang bisa menunjukkan kecenderungan berbeda tergantung situasi yang sedang dihadapi.
Kritik lain berkaitan dengan dasar pengembangan MBTI. Tes tersebut dikembangkan oleh Katharine Cook Briggs dan putrinya, Isabel Briggs Myers, yang tidak memiliki pendidikan formal di bidang psikologi. Kategorisasi yang digunakan juga banyak dipengaruhi pemikiran Carl Jung mengenai tipe psikologis yang belum sepenuhnya terbukti secara ilmiah.
Contohnya, MBTI cenderung menempatkan karakter berpikir dan perasaan sebagai dua kategori yang berlawanan. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa menggunakan pertimbangan logis sekaligus mempertimbangkan perasaan ketika mengambil keputusan.
Baca Juga: Mazda 2 Skyactiv 2015 Bekas Rp150 Jutaan, Fitur Melimpah tapi Ada Kekurangannya
Efek Barnum Bikin Hasil Terasa Sangat Akurat
Lantas, mengapa banyak orang tetap merasa hasil tes MBTI benar-benar menggambarkan dirinya?
Salah satu penjelasannya adalah efek Barnum. Istilah ini merujuk pada kecenderungan seseorang menerima pernyataan yang sebenarnya bersifat umum seolah-olah dibuat khusus untuk dirinya.
Misalnya, seseorang membaca deskripsi bahwa dirinya terkadang senang bersosialisasi, tetapi pada kesempatan tertentu juga membutuhkan waktu sendirian. Pernyataan semacam itu terdengar personal, padahal sangat mungkin berlaku bagi banyak orang.
Efek Barnum juga dapat ditemukan dalam astrologi, ramalan, hingga berbagai kuis kepribadian. Ketika seseorang merasa deskripsi tersebut cocok, kepercayaan terhadap hasil tes pun semakin kuat.
Adakah Tes Kepribadian yang Lebih Akurat?
Bukan berarti semua tes kepribadian tidak berguna. Ada sejumlah metode pengukuran kepribadian yang lebih sering digunakan dalam penelitian ilmiah. Metode tersebut umumnya tidak memaksa seseorang masuk ke dalam kategori tertentu, melainkan menggambarkan kecenderungan karakter dalam suatu rentang.
Meski begitu, pengukuran kepribadian tetap memiliki keterbatasan. Saat mengisi tes, seseorang belum tentu memberikan jawaban yang benar-benar mencerminkan dirinya. Ada kemungkinan responden memilih jawaban yang dianggap paling baik, ideal, atau sesuai dengan harapan sosial.
Kepribadian manusia sendiri sangat kompleks. Pengalaman hidup baru dapat memengaruhi nilai, keyakinan, kebiasaan, serta cara seseorang merespons berbagai keadaan. Karena itu, kepribadian juga dapat mengalami perubahan seiring waktu.
Pada akhirnya, tes MBTI tetap boleh digunakan sebagai sarana hiburan maupun bahan refleksi diri. Namun, hasilnya sebaiknya tidak dianggap sebagai label mutlak. Jangan sampai perbedaan tipe kepribadian membuat seseorang menghakimi, menjauhi, atau menganggap orang lain tidak cocok hanya berdasarkan hasil sebuah tes.
Baca Juga: Mazda CX-3 2024 Dibanderol Rp399 Juta, Fitur Makin Lengkap dan Bikin Susah Pilih
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest