Tes MBTI Ternyata Tak Akurat? Ini Alasan Psikolog Menganggapnya Ilmu Semu

Fadhilah Salsa Bella • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 18:05 WIB
Tes MBTI populer untuk mengenali kepribadian, tetapi benarkah akurat? Simak alasan psikolog mengkritiknya dan risiko jika hasilnya dijadikan label (Pinterest).
Tes MBTI populer untuk mengenali kepribadian, tetapi benarkah akurat? Simak alasan psikolog mengkritiknya dan risiko jika hasilnya dijadikan label (Pinterest).

TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM - Tes MBTI atau Myers-Briggs Type Indicator semakin populer dalam satu dekade terakhir. Tak hanya digunakan untuk mengenali diri sendiri, tes kepribadian ini juga merambah dunia pendidikan, pekerjaan, hingga aplikasi pencarian jodoh. Namun, di balik popularitasnya, tes MBTI mendapat kritik keras dari kalangan psikolog karena dinilai tidak memenuhi standar pengukuran psikologi yang baik.

Tes MBTI dirancang untuk mengelompokkan seseorang ke dalam 16 tipe kepribadian berdasarkan empat pasangan kategori. Hasilnya berupa kombinasi empat huruf, seperti INTJ, ENFP, INFP, atau ENTJ. Tes ini bertujuan menggambarkan preferensi seseorang dalam menghadapi masalah, mengambil keputusan, serta berinteraksi dengan lingkungan.

Meski mudah dipahami dan menarik, tes MBTI disebut memiliki sejumlah persoalan serius. Mulai dari hasil yang tidak konsisten, pendekatan kepribadian yang terlalu biner, hingga risiko penyalahgunaan hasil tes untuk menentukan karier atau proses rekrutmen.

Baca Juga: Mazda CX-5 Terbaru Resmi Bisa Dipesan di GIIAS 2026, Harga Mulai Rp599 Juta

Berawal dari Rasa Penasaran tentang Kepribadian

Sejarah MBTI bermula pada 1917 ketika Katherine Cook Briggs tertarik mempelajari perbedaan karakter menantunya. Bersama putrinya, Isabel Briggs Myers, Katherine kemudian mendalami berbagai teori kepribadian secara otodidak.

Pada 1923, keduanya menemukan buku Psychological Types karya Carl Jung. Teori tersebut kemudian menjadi salah satu dasar pengembangan MBTI. Katherine dan Isabel berusaha menyederhanakan konsep Jung agar lebih mudah dipahami masyarakat.

Persoalannya, keduanya bukan psikolog dan tidak memiliki pendidikan formal di bidang psikologi. Selama bertahun-tahun, mereka mengembangkan kuesioner berdasarkan pengamatan terhadap kehidupan sehari-hari.

Dalam prosesnya, sejumlah konsep mengalami perubahan. Teori Jung menggambarkan introversi dan ekstroversi sebagai spektrum, sedangkan MBTI mengelompokkan seseorang secara lebih tegas ke salah satu sisi. MBTI juga menambahkan kategori Judging dan Perceiving yang kemudian menjadi bagian dari empat huruf dalam hasil tes.

Masalah Reliabilitas dan Validitas

Dalam ilmu psikologi, alat ukur idealnya memenuhi dua syarat penting, yakni reliabel dan valid. Reliabilitas berkaitan dengan konsistensi hasil, sedangkan validitas menunjukkan apakah alat tersebut benar-benar mengukur hal yang seharusnya diukur.

MBTI mendapat kritik karena hasilnya dapat berubah ketika tes diulang. Salah satu studi yang sering dikutip menunjukkan hampir separuh peserta mendapatkan tipe berbeda ketika mengerjakan tes kembali dalam rentang sekitar lima minggu.

Perubahan tersebut menimbulkan pertanyaan jika hasil MBTI digunakan untuk keputusan jangka panjang. Seseorang yang memperoleh tipe tertentu hari ini bisa saja mendapatkan tipe berbeda ketika kondisi emosional atau situasinya berubah.

Selain itu, MBTI bersifat self-reported. Artinya, hasil sangat bergantung pada jawaban yang diberikan peserta. Masalahnya, seseorang belum tentu mampu menilai dirinya sendiri secara objektif. Jika tes digunakan dalam proses seleksi kerja, peserta bahkan bisa memilih jawaban yang dianggap paling diinginkan perusahaan.

Baca Juga: Mazda CX-30 Jadi Solusi Penggemar Mazda 3 yang Takut Jalan Jelek, Ground Clearance 180 mm

Berisiko Jika Dipakai untuk Rekrutmen

Kritik terhadap MBTI menjadi semakin serius ketika hasil tes digunakan untuk menentukan nasib seseorang. Dalam dunia kerja, misalnya, perusahaan dapat tergoda mencari tipe tertentu untuk posisi sales, manajemen, atau pekerjaan yang membutuhkan perencanaan.

Padahal, kemampuan MBTI dalam memprediksi keberhasilan seseorang dalam pekerjaan dinilai lemah. Penggunaan hasil tes secara berlebihan berpotensi membuat perusahaan kehilangan kandidat berkualitas hanya karena tipe kepribadiannya dianggap tidak sesuai.

Hal serupa dapat terjadi di sekolah atau perguruan tinggi jika hasil tes digunakan untuk menentukan jurusan. Label kepribadian yang terlalu kaku justru dapat membatasi pilihan seseorang.

Boleh Dipakai, Asal Tidak Menjadi Label

Meski banyak dikritik, MBTI tidak harus dianggap sepenuhnya buruk. Tes ini masih dapat digunakan sebagai hiburan atau pemicu untuk melakukan refleksi diri, selama hasilnya tidak dianggap sebagai kebenaran mutlak.

Bahaya terbesar bukan semata-mata keberadaan tes MBTI, melainkan cara manusia menggunakan hasilnya. Label seperti introvert, ekstrovert, atau kombinasi empat huruf tidak seharusnya dianggap sebagai takdir.

Kepribadian manusia jauh lebih kompleks dan dinamis. Pengalaman, lingkungan, kebiasaan, serta interaksi sosial dapat membentuk seseorang dari waktu ke waktu. Karena itu, mengenali diri tidak cukup hanya melalui sebuah tes. Mencoba hal baru, berinteraksi dengan orang lain, dan belajar dari pengalaman justru dapat memberikan gambaran diri yang lebih utuh.

Baca Juga: Mazda CX-3 2024 Dibanderol Rp399 Juta, Fitur Makin Lengkap dan Bikin Susah Pilih

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : pinterest
Tes MBTI 16 tipe kepribadian MBTI tes kepribadian psikologi