MBTI Bukan Tes Kepribadian? Ini Cara Memahaminya untuk Hubungan dan Pola Asuh

Fadhilah Salsa Bella • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 18:25 WIB
MBTI bukan sekadar tes kepribadian. Kenali fungsi MBTI untuk memahami diri, pasangan, anak, hingga mengurangi konflik dalam hubungan (Pinterest).
MBTI bukan sekadar tes kepribadian. Kenali fungsi MBTI untuk memahami diri, pasangan, anak, hingga mengurangi konflik dalam hubungan (Pinterest).

TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM - MBTI kembali ramai dibahas setelah seorang praktisi MBTI, Nuni Tirta, mengungkap bahwa alat pemetaan kepribadian ini bukanlah tes yang memiliki jawaban benar atau salah. Dalam podcast She Talks About, Nuni menjelaskan MBTI sebagai assessment untuk memahami preferensi alami seseorang, sehingga penggunaannya bukan untuk menghakimi karakter.

MBTI disebut dapat membantu seseorang memahami diri sendiri sekaligus membaca perbedaan karakter orang lain. Nuni mengatakan pemahaman tersebut bisa diterapkan dalam berbagai konteks, mulai dari hubungan pasangan, pola asuh anak, hingga lingkungan perusahaan.

Menariknya, pengalaman pribadi Nuni dengan MBTI bermula saat menempuh pendidikan S2 konseling psikologi. Ia kemudian mempelajari MBTI pada 2014 dan mengambil sertifikasi pada 2018. Sejak itu, ia tidak hanya melakukan konsultasi pribadi, tetapi juga memberikan pelatihan MBTI kepada perusahaan.

Baca Juga: Mazda CX-5 Terbaru Resmi Bisa Dipesan di GIIAS 2026, Harga Mulai Rp599 Juta

MBTI dan Kunci Memahami Perbedaan

Menurut Nuni, inti penggunaan MBTI bukan mengotak-ngotakkan manusia berdasarkan tipe kepribadian. Ada tiga langkah yang menurutnya penting, yakni aware, accept, dan adapt. Seseorang perlu menyadari adanya perbedaan, menerima perbedaan tersebut, kemudian menyesuaikan diri agar gesekan dapat diminimalkan.

Ia mencontohkan perbedaan dirinya dengan suami. Nuni mengaku memiliki kecenderungan Judging (J), sedangkan suaminya lebih Perceiving (P). Orang dengan kecenderungan J biasanya lebih memperhatikan jadwal dan kepastian waktu. Sebaliknya, kecenderungan P lebih fleksibel dan terbuka terhadap kemungkinan, termasuk mengerjakan sesuatu menjelang tenggat.

Perbedaan itu dahulu kerap memicu pertengkaran. Setelah memahami MBTI, keduanya justru dapat melihat bahwa reaksi berbeda bukan selalu berarti salah satu pihak keliru. Mereka belajar menyesuaikan perilaku sesuai kebutuhan situasi.

Introvert Tidak Selalu Pemalu

Nuni juga meluruskan anggapan bahwa introvert identik dengan pemalu dan ekstrovert selalu mudah bergaul. Dalam MBTI, introvert dan ekstrovert lebih berkaitan dengan kecenderungan seseorang memperoleh energi atau melakukan recharge.

Seseorang yang introvert dapat tetap aktif berbicara, membangun komunitas, atau berbagi di media sosial. Namun, setelah terlalu banyak berinteraksi, ia mungkin membutuhkan waktu sendiri untuk memulihkan energi. Sebaliknya, ekstrovert cenderung mendapatkan stimulasi dan energi dari lingkungan luar.

MBTI sendiri menggunakan empat dikotomi, yakni Introversion-Extraversion, Sensing-Intuition, Thinking-Feeling, serta Judging-Perceiving. Kombinasi keempatnya menghasilkan 16 personality type. Nuni menegaskan, 16 tipe tersebut bukan kotak yang membatasi seseorang, melainkan gambaran kecenderungan atau “ruang favorit” seseorang dalam menjadi dirinya sendiri.

Baca Juga: Mazda 2 Skyactiv 2015 Bekas Rp150 Jutaan, Fitur Melimpah tapi Ada Kekurangannya

Bisa Membantu Pola Asuh Anak

Pengalaman Nuni dalam keluarga juga menunjukkan bagaimana MBTI dapat digunakan untuk memahami anak. Ia menceritakan dua anaknya yang memiliki kecenderungan berbeda. Anak pertama lebih Perceiving dan tidak terlalu peduli dengan waktu, sedangkan anak kedua lebih Judging dan cenderung disiplin.

Karena pendekatan yang sama tidak efektif untuk keduanya, Nuni mengubah cara mendidik. Anak pertama diberi target bangun pagi dengan imbalan yang disukai, sedangkan anak kedua cenderung lebih mudah mengikuti aturan karena memiliki dorongan untuk menghindari konsekuensi.

Dari pengalaman tersebut, Nuni menekankan bahwa adil tidak selalu berarti memberikan perlakuan yang sama. Menurutnya, pendekatan yang tepat justru perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing anak.

Untuk asesmen MBTI pada anak, Nuni menyebut usia SMP sebagai salah satu tahap yang lebih sesuai karena anak sudah lebih mampu memahami pertanyaan yang bersifat abstrak. Ia juga mengingatkan agar assessment dilakukan dengan benar dan tidak sekadar menebak tipe seseorang dari kebiasaan sehari-hari.

MBTI Bukan Sekadar Label Kepribadian

Nuni menegaskan bahwa hasil MBTI sebaiknya dipahami sebagai alat untuk mengenali kecenderungan alami, bukan label permanen. Dalam proses assessment, seseorang juga perlu melepaskan berbagai “topi” peran, seperti sebagai orang tua, karyawan, atau atasan, agar jawaban lebih mencerminkan dirinya secara alami.

Pemahaman itu dinilai dapat membantu hubungan pribadi dan profesional. Nuni bahkan menceritakan klien yang menggunakan pemahaman MBTI untuk menemukan kecocokan dengan partner bisnis dan mengurangi konflik dalam lingkungan keluarga.

Pesan utama dari pembahasan tersebut sederhana: memahami perbedaan karakter dapat membuat seseorang lebih berhenti menyalahkan dan mulai beradaptasi. Dengan prinsip aware, accept, adapt, MBTI diposisikan bukan sebagai alat untuk menentukan siapa yang benar, melainkan sarana memahami diri dan orang lain dengan lebih baik.

Baca Juga: Mazda CX-3 2024 Dibanderol Rp399 Juta, Fitur Makin Lengkap dan Bikin Susah Pilih

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : pinterest
MBTI introvert ekstrovert tipe kepribadian tes kepribadian pola asuh anak