TRENGGALEKNJENGGELEKN,JAWAPOS.COM - Burnout bisa dialami siapa saja, baik pekerja, mahasiswa, pelajar, maupun ibu rumah tangga. Kondisi ini biasanya ditandai rasa lelah berkepanjangan, hilangnya motivasi, hingga muncul keengganan menjalani aktivitas yang sebelumnya biasa dilakukan.
Dalam penjelasan dokter dari Alodokter, burnout dapat muncul akibat stres yang dipicu aktivitas sehari-hari. Beban pekerjaan atau belajar yang terlalu berat, aktivitas monoton, serta minimnya apresiasi dari lingkungan dapat menjadi sejumlah faktor yang memicu kondisi tersebut.
Jika dibiarkan, burnout bukan hanya membuat produktivitas menurun. Kondisi ini juga dapat memengaruhi kesehatan mental dan fisik. Karena itu, mengenali gejala sejak awal penting dilakukan agar langkah penanganan bisa segera diterapkan.
Baca Juga: Dongfeng Nami 01 EV Bakal Guncang Indonesia? Harga Cuma Rp134 Jutaan
6 Ciri Burnout yang Perlu Diwaspadai
Ciri pertama adalah hilangnya semangat dan minat menjalani aktivitas. Seseorang mungkin tetap berangkat kerja, kuliah, sekolah, atau menjalankan pekerjaan rumah, tetapi aktivitas tersebut terasa jauh lebih menguras energi. Bahkan, memikirkan kegiatan yang akan dilakukan keesokan hari saja sudah membuat lelah.
Kedua, muncul rasa benci terhadap aktivitas yang dijalani. Aktivitas yang sebelumnya dilakukan dengan semangat justru terasa membebani. Stres dan frustrasi dapat membuat seseorang sulit berkonsentrasi, merasa tidak kompeten, serta kehilangan ketertarikan terhadap pekerjaannya.
Ketiga, performa menurun. Pekerjaan yang biasanya dapat diselesaikan dengan cepat mulai terbengkalai. Begitu pula dengan prestasi akademik atau tugas rumah tangga yang tidak lagi dikerjakan sebaik biasanya.
Keempat, seseorang menjadi lebih mudah marah dan sensitif. Hal kecil yang sebelumnya dapat ditoleransi justru terasa mengganggu. Ketika banyak hal berjalan tidak sesuai harapan, emosi pun lebih mudah meledak.
Kelima, muncul kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial. Beban aktivitas membuat seseorang enggan bersosialisasi. Dalam kondisi tertentu, orang yang mengalami burnout juga bisa menjadi sinis atau apatis terhadap lingkungan sekitar.
Keenam, lebih mudah mengalami keluhan fisik atau sakit. Burnout yang berlangsung lama dan tidak ditangani dapat memengaruhi kondisi tubuh. Stres juga bisa memicu keluhan psikosomatis, yakni munculnya gejala fisik yang berkaitan dengan kondisi psikologis.
Baca Juga: Mobil Listrik Terlaris Juni 2026: Finvest VF5 Melonjak, Pilihan SUV Makin Ramai
Cara Mengatasi Burnout
Ketika gejala mulai muncul, bukan berarti seseorang harus langsung meninggalkan pekerjaan, kuliah, atau tanggung jawab lainnya. Ada sejumlah langkah yang dapat dicoba.
Pertama, buat skala prioritas. Susun aktivitas berdasarkan tingkat kepentingannya. Dengan begitu, energi dan pikiran dapat difokuskan pada pekerjaan yang benar-benar harus diselesaikan, sementara tugas lain bisa ditunda.
Kedua, bicarakan kondisi yang dialami dengan orang yang tepat. Pekerja dapat berbicara dengan atasan atau HRD. Mahasiswa dan pelajar dapat berdiskusi dengan dosen, guru, atau orang tua. Ibu rumah tangga juga dapat membicarakan beban yang dirasakan dengan pasangan.
Jika orang yang menjadi pemicu masalah adalah pihak yang harus diajak bicara, komunikasi tetap dapat dilakukan dengan cara yang tepat. Namun, ketika emosi masih sulit dikendalikan, seseorang bisa terlebih dahulu berbicara dengan orang yang dipercaya agar lebih tenang.
Ketiga, kurangi ekspektasi yang terlalu tinggi. Bukan berarti harus memiliki target rendah, tetapi target perlu disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan saat ini. Memaksakan diri menyelesaikan semuanya sekaligus justru dapat menambah tekanan.
Keempat, jaga keseimbangan hidup. Di tengah kesibukan, luangkan waktu untuk beristirahat dan melakukan aktivitas yang menyenangkan. Waktu untuk diri sendiri tetap diperlukan agar pikiran tidak terus-menerus terbebani pekerjaan.
Terakhir, ubah gaya hidup menjadi lebih sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, dan mencukupi kebutuhan tidur. Jika kondisi semakin berat atau tidak mampu dikendalikan sendiri, pertimbangkan mencari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater.
Burnout bukan sesuatu yang perlu dianggap sepele. Mengenali tanda-tandanya lebih awal dan mengambil langkah yang tepat dapat membantu mencegah kondisi tersebut semakin mengganggu aktivitas serta kualitas hidup.
Baca Juga: Lepas E4 Jadi Mobil Listrik Rp300 Jutaan Terkencang? 0-100 Km/Jam Cuma 6,45 Detik
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinteerst