Burnout Bisa Dipicu Kurang Tidur, Ini Cara Mengatur Stres agar Tak Makin Parah

Fadhilah Salsa Bella • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:28 WIB
Burnout bisa dipicu stres dan pola tidur berantakan. Kenali pentingnya skala prioritas, istirahat, hobi, dan mengatur ritme aktivitas (Pinterest).
Burnout bisa dipicu stres dan pola tidur berantakan. Kenali pentingnya skala prioritas, istirahat, hobi, dan mengatur ritme aktivitas (Pinterest).

TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM - Burnout tidak selalu muncul karena banyaknya masalah yang dihadapi seseorang. Cara mengelola beban, pola tidur, waktu istirahat, hingga kemampuan menentukan prioritas turut berperan dalam menjaga kondisi tubuh dan pikiran agar tidak terus berada di bawah tekanan.

Dalam sebuah perbincangan mengenai burnout, dokter Tirta menyoroti pentingnya tidur dan jeda dalam menjalani aktivitas. Menurutnya, orang dengan pola tidur yang berantakan cenderung memiliki tingkat stres lebih tinggi dibandingkan orang di sekitarnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena masalah kehidupan tidak pernah benar-benar berhenti. Pekerjaan memiliki tantangan, bisnis menghadirkan konflik, kuliah memiliki tugas dan ujian, sementara keluarga juga mempunyai persoalan masing-masing. Karena itu, seseorang perlu memiliki strategi untuk menghadapi tekanan tanpa memaksakan diri terus-menerus.

Masalah Hidup Terus Bertambah

Menurut dokter Tirta, kehidupan dapat dianalogikan seperti permainan yang levelnya semakin meningkat. Semakin tinggi level yang dicapai, tantangan yang dihadapi juga semakin kompleks.

Masalahnya, sebagian orang merasa seluruh persoalan harus selesai pada hari yang sama. Padahal, tidak semua masalah harus diselesaikan sekaligus. Ketika tekanan datang bertubi-tubi, memaksakan diri untuk langsung menuntaskan semuanya justru dapat membuat pikiran semakin jenuh.

Karena itu, skala prioritas menjadi salah satu cara penting untuk mengelola beban. Ada empat kategori yang dapat digunakan, yakni urgent dan penting, urgent tetapi tidak penting, penting tetapi tidak mendesak, serta tidak penting dan tidak mendesak.

Dengan pembagian tersebut, seseorang dapat menentukan persoalan mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Masalah yang belum mendesak dapat ditangani setelah kebutuhan yang lebih penting selesai.

Baca Juga: Dongfeng Nami 01 EV Bakal Guncang Indonesia? Harga Cuma Rp134 Jutaan

Jangan Terus Memaksa Diri

Salah satu pesan penting dalam pembahasan tersebut adalah kemampuan mengetahui kapan harus “gas” dan kapan harus “rem”. Seseorang tidak mungkin mempertahankan performa maksimal sepanjang waktu.

Dokter Tirta menggunakan olahraga sebagai analogi. Dalam latihan, seseorang tidak terus-menerus melakukan latihan dengan intensitas tertinggi. Ada fase meningkatkan beban, mempertahankan kondisi, hingga mengejar performa terbaik.

Hal serupa berlaku dalam kehidupan. Ada saat ketika seseorang perlu bekerja keras mengejar target, tetapi ada pula waktu untuk menurunkan ritme dan memulihkan energi.

Ambisi tetap diperlukan, tetapi menjalani seluruh kehidupan dengan tekanan dan target tinggi juga tidak ideal. Tubuh membutuhkan jeda agar dapat kembali bekerja secara optimal.

Tidur dan Hobi Jangan Diabaikan

Pola tidur menjadi bagian yang tidak boleh disepelekan. Ketika seseorang terus menghadapi tekanan tetapi justru mengurangi waktu tidur, tubuh dan pikiran kehilangan kesempatan untuk melakukan pemulihan.

Karena itu, waktu istirahat perlu ditempatkan sebagai bagian dari pengelolaan aktivitas, bukan dianggap sebagai hambatan produktivitas. Selain tidur yang cukup, memiliki hobi juga dapat membantu memberikan ruang untuk melakukan aktivitas di luar pekerjaan atau tanggung jawab utama.

Aktivitas yang menyenangkan dapat menjadi bentuk jeda ketika rutinitas mulai terasa monoton dan melelahkan. Namun, pemilihan aktivitas juga perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang.

Baca Juga: Mobil Listrik Terlaris Juni 2026: Finvest VF5 Melonjak, Pilihan SUV Makin Ramai

Hati-Hati dengan Penggunaan Media Sosial

Media sosial juga disinggung sebagai salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Penggunaannya dapat memberikan hiburan, tetapi jika dilakukan terlalu lama hingga mengganggu aktivitas dan waktu istirahat, media sosial justru berpotensi menambah tekanan.

Karena itu, penting melihat media sosial sebagai sarana pendukung, bukan tempat untuk terus-menerus melarikan diri dari persoalan kehidupan nyata.

Pada akhirnya, burnout tidak cukup dihadapi dengan memaksa diri untuk terus produktif. Mengatur prioritas, menjaga pola tidur, memberikan waktu untuk istirahat, menjalankan hobi, dan mengetahui kapan harus menurunkan ritme merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan.

Ketika masalah datang berturut-turut, bukan berarti semuanya harus selesai dalam satu waktu. Menyelesaikannya satu per satu secara terukur justru dapat membantu mengurangi beban pikiran dan mencegah tekanan berkembang semakin berat.

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : pinterest
skala prioritas stres pola tidur burnout kesehatan mental