TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM - Burnout di tempat kerja bisa terjadi ketika seseorang terus-menerus menghadapi stres tanpa mampu mengelolanya dengan baik. Kondisi ini tidak hanya membuat tubuh merasa lelah, tetapi juga dapat memengaruhi emosi, psikologis, konsentrasi, hingga aktivitas sehari-hari.
Psikolog klinis dari Rumah Sakit Pondok Indah Puri Indah, Meriati, menjelaskan bahwa sindrom burnout merupakan kondisi ketika seseorang sudah tidak lagi mampu mengatasi stres yang dialaminya. Kondisi tersebut umumnya berkaitan dengan stres kronis akibat aktivitas dan tuntutan sehari-hari.
Burnout di tempat kerja perlu diwaspadai ketika rasa lelah tidak kunjung hilang meski seseorang sudah memiliki waktu tidur yang cukup. Gejala lain juga dapat muncul dalam bentuk perasaan tidak berdaya, kehilangan kepuasan terhadap pencapaian, hingga keinginan untuk menjauh dari lingkungan sosial.
Kenali Tiga Bentuk Kelelahan akibat Burnout
Meriati menjelaskan, burnout dapat menyebabkan kelelahan dalam beberapa aspek. Pertama adalah kelelahan emosional. Seseorang dapat merasa mudah lelah, tidak berdaya, terjebak dalam rutinitas, serta sulit merasakan kepuasan dari hasil pekerjaannya.
Kedua, terdapat kelelahan fisik. Kondisi ini ditandai dengan tubuh yang terasa kehabisan energi meskipun waktu tidur sebenarnya sudah cukup. Seseorang juga dapat lebih mudah mengalami keluhan fisik, seperti sakit kepala atau sakit perut.
Sementara itu, kelelahan psikologis dapat terlihat dari perubahan perilaku. Seseorang yang mengalami burnout dapat menjadi lebih sering menunda kewajiban, sulit berkonsentrasi dan fokus, serta menarik diri dari lingkungan sosial.
Jika berbagai tanda tersebut mulai muncul secara terus-menerus, kondisi tersebut tidak sebaiknya dianggap sekadar rasa malas atau lelah biasa.
Beri Jarak dari Sumber Stres
Meriati menyarankan beberapa langkah sederhana untuk membantu mengatasi burnout. Langkah pertama adalah memberikan jarak sementara dari sumber stres.
Memberikan jarak bukan berarti mengabaikan persoalan. Sebaliknya, seseorang perlu mengambil waktu untuk mundur sejenak dan memahami apa yang sebenarnya menjadi penyebab tekanan tersebut.
Setelah mengetahui sumber masalah, langkah berikutnya adalah membedakan hal-hal yang masih berada dalam kendali dengan sesuatu yang berada di luar kendali. Cara tersebut dapat membantu seseorang menentukan alternatif penyelesaian secara lebih logis sesuai dengan sumber persoalannya.
Komunikasi Menjadi Bagian Penting
Langkah berikutnya adalah mengomunikasikan masalah dengan pihak yang berkaitan. Menurut Meriati, komunikasi yang baik menjadi salah satu kunci dalam menghadapi burnout.
Di lingkungan kerja, komunikasi dapat dilakukan dengan pihak yang relevan ketika beban atau persoalan pekerjaan sudah mulai sulit ditangani sendiri. Dengan komunikasi, sumber masalah diharapkan dapat diidentifikasi dan dicari solusinya secara bersama-sama.
Selain itu, membangun kebiasaan hidup sehat juga penting. Meriati menyarankan menjaga pola tidur yang cukup, mengonsumsi makanan sehat, rutin berolahraga, serta melakukan aktivitas positif yang dapat membantu menyegarkan tubuh dan pikiran.
Ia juga mengingatkan pentingnya berdoa sekaligus tetap berusaha melakukan hal-hal yang memang berada dalam kemampuan diri.
Kapan Perlu Berkonsultasi dengan Psikolog?
Burnout perlu mendapatkan perhatian lebih serius ketika kondisinya mulai mengganggu produktivitas dan menghambat fungsi maupun aktivitas sehari-hari.
Jika tekanan psikologis sudah membuat seseorang kesulitan menjalankan pekerjaan, kehilangan kemampuan untuk fokus, atau aktivitas hariannya terganggu, berkonsultasi dengan psikolog klinis dapat menjadi salah satu langkah yang dipertimbangkan.
Mengenali tanda burnout di tempat kerja sejak awal menjadi penting agar stres tidak berkembang menjadi kondisi yang semakin mengganggu kehidupan sehari-hari. Mengambil jeda, mengenali sumber masalah, berkomunikasi, serta membangun kebiasaan hidup sehat dapat menjadi langkah awal untuk menjaga keseimbangan fisik dan mental.
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest