JAKARTA - Ramalan Suro 2026 dalam perspektif spiritual Jawa menyebut lima peristiwa besar yang diyakini dapat memengaruhi situasi Indonesia setelah pergantian tahun Jawa 1960 Jimawal. Lima hal itu berkaitan dengan politik, gerakan masyarakat, lingkungan, hingga munculnya figur kepemimpinan baru.
Dalam narasi tersebut, Rabu Kliwon, 17 Juni 2026, disebut sebagai momentum pembukaan gerbang spiritual Suro. Pergantian tahun Jawa tidak hanya dimaknai sebagai perubahan kalender, tetapi juga sebagai momen goro-goro, yakni fase yang dipercaya menjadi titik terjadinya berbagai guncangan dan proses pembersihan.
Rabu Kliwon disebut memiliki neptu yang menggambarkan kekuasaan berwibawa, tetapi menyimpan persoalan yang belum terlihat. Sementara itu, Suro dimaknai sebagai cokro manggilingan, filosofi mengenai roda kehidupan yang terus berputar dan dipercaya dapat menjadi momentum untuk menguji kekuasaan serta ketulusan.
Baca Juga: Kekeringan, Petani Rogoh Kocek Lebih Dalam
Peristiwa pertama adalah jatuhnya topeng kekuasaan. Tradisi Suro yang identik dengan jamasan pusaka digunakan sebagai simbol pembersihan. Dalam konteks politik, hal tersebut ditafsirkan sebagai kemungkinan munculnya berbagai persoalan hukum yang sebelumnya tersembunyi.
Narasi tersebut menyebut kasus yang berkaitan dengan penyalahgunaan kekuasaan dan anggaran negara berpotensi menjadi perhatian. Tokoh yang selama ini merasa aman juga disebut dapat menghadapi ujian hukum.
Peristiwa kedua adalah retaknya kemitraan politik. Berbagai kekuatan politik yang saat ini terlihat berjalan bersama disebut belum tentu mempertahankan arah yang sama setelah Suro. Benturan kepentingan diperkirakan semakin terlihat ketika kepentingan masing-masing kelompok mulai menguat.
Baca Juga: DPRD Trenggalek Arahkan Penghematan Belanja Pegawai untuk Infrastruktur Jalan
Dalam filosofi Jawa, kondisi itu diibaratkan seperti gugur gunung, ketika semangat gotong royong yang sebelumnya terlihat mulai kehilangan kekuatan karena ego kelompok.
Peristiwa ketiga adalah menguatnya gerakan akar rumput. Narasi ramalan tersebut mengaitkannya dengan sosok Satrio Wirang dalam berbagai tafsir Jayabaya. Kelompok yang sebelumnya diremehkan atau disisihkan disebut dapat memperoleh simpati masyarakat.
Suara buruh, mahasiswa, petani, dan rakyat kecil diperkirakan semakin kuat di tengah tekanan ekonomi serta daya beli masyarakat. Kritik terhadap pemerintah juga disebut tidak lagi mudah diredam hanya melalui pencitraan.
Baca Juga: STKIP PGRI Trenggalek Ukir Prestasi Internasional di Malaysia Borong Enam Penghargaan Bergengsi KEYS
Peristiwa keempat berkaitan dengan krisis lingkungan yang berdampak pada politik. Kekeringan, banjir, anomali cuaca, hingga gangguan produksi pangan disebut dapat menjadi tantangan pada pertengahan 2026.
Dalam narasi tersebut, persoalan lingkungan tidak hanya dipandang sebagai masalah ekologis. Jika produksi dan ketersediaan pangan terganggu, persoalan tersebut dapat berkembang menjadi isu politik karena berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Peristiwa kelima adalah munculnya mandat kepemimpinan baru. Tradisi Jawa mengenal istilah Wahyu Cokroningrat, yang dalam narasi tersebut dimaknai sebagai simbol hadirnya energi kepemimpinan baru.
Baca Juga: Rekomendasi Hotel di Jalan Malioboro Jogja untuk Liburan Lebaran
Menjelang akhir 2026, figur muda, teknokrat, pemikir, dan tokoh dengan gagasan baru disebut berpotensi semakin mendapat tempat dalam panggung nasional. Perubahan tersebut digambarkan tidak selalu berlangsung secara dramatis, tetapi dapat terjadi secara perlahan melalui proses regenerasi.
Narasi ramalan itu kemudian ditutup dengan filosofi Jawa, Surodiro Joyo Ningrat Lebur Dening Pangastuti, yang dimaknai sebagai keyakinan bahwa kekuatan yang dibangun dengan angkara murka pada akhirnya akan luluh oleh ketulusan dan kebajikan.
Lima peristiwa tersebut merupakan tafsir dan ramalan dalam perspektif spiritual Jawa, bukan kepastian mengenai apa yang akan terjadi di Indonesia. Narasi tersebut mengajak masyarakat melihat perubahan politik dan sosial dengan sikap eling lan waspada, sekaligus menunggu perkembangan yang terjadi sepanjang 2026.
Editor : Cendikiawan Tristan Valentino