JAKARTA - Sindrom akuarium baru menjadi salah satu masalah yang sering dialami pemula saat pertama kali memelihara ikan hias. Kondisi ini dapat ditandai dengan ikan yang baru dibeli sering mati, sementara air akuarium juga cepat berubah keruh atau berkabut.
Masalah tersebut sebenarnya cukup normal terjadi pada pemula yang baru pertama kali menyiapkan akuarium. Namun, jika dibiarkan terus-menerus tanpa memahami penyebabnya, kondisi ini bisa membuat pemilik akuarium semakin kesulitan dalam memelihara ikan hias.
Alih-alih menjadi sarana untuk mengurangi stres setelah beraktivitas, masalah pada akuarium justru bisa membuat pemiliknya ikut stres. Karena itu, penting bagi pemula untuk memahami penyebab sindrom akuarium baru dan langkah yang dapat dilakukan untuk membangun ekosistem yang lebih baik bagi ikan.
Apa Itu Sindrom Akuarium Baru?
Sindrom akuarium baru merupakan kondisi ketika akuarium yang baru disiapkan masih dalam keadaan steril dan belum memiliki cukup bakteri baik. Padahal, bakteri tersebut memiliki peran penting dalam mengurai amonia yang berasal dari kotoran dan sisa pakan ikan.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Trenggalek 26 Agustus, Suhu Capai 29 Derajat
Amonia disebut sebagai zat yang beracun dan berbahaya bagi ikan. Ketika bakteri baik belum berkembang di dalam sistem akuarium, zat tersebut belum dapat diurai dengan baik sehingga kondisi air menjadi kurang ideal bagi ikan hias.
Untuk membantu pertumbuhan bakteri baik, pemilik akuarium dapat menggunakan media biologis pada sistem filter. Beberapa media yang disebutkan antara lain bioring, bioball, karang jahe, kristal bio, dan K1.
Media biologis tersebut berfungsi sebagai tempat hidup bakteri baik. Dalam prosesnya, bakteri Nitrosomonas mengubah amonia menjadi nitrit. Selanjutnya, bakteri Nitrobacter mengubah nitrit menjadi nitrat yang disebut lebih aman bagi ikan dan tumbuhan di dalam akuarium.
Bakteri Baik Membutuhkan Waktu untuk Berkembang
Bakteri baik dapat terbentuk secara alami di dalam akuarium. Namun, proses pertumbuhannya membutuhkan waktu, mulai dari beberapa hari hingga beberapa minggu.
Bagi pemula, pertumbuhan bakteri baik juga dapat dibantu menggunakan bakteri starter yang banyak dijual di toko ikan hias maupun marketplace. Kehadiran bakteri tersebut menjadi bagian penting dalam proses membangun sistem filtrasi biologis pada akuarium baru.
Berikut lima langkah yang dijelaskan dalam video untuk membantu mengatasi sindrom akuarium baru.
1. Endapkan Air Selama 24 Jam
Langkah pertama setelah membeli akuarium adalah mengisi air dan membiarkannya selama satu hari atau 24 jam. Selama proses ini, filter tetap dinyalakan.
Tujuannya adalah membantu menghilangkan kandungan zat kimia yang berasal dari lem kaca pada akuarium baru. Setelah air diendapkan selama 24 jam, akuarium dikuras kembali dan diisi menggunakan air baru.
Jika menggunakan air PDAM, video tersebut menyarankan penambahan sedikit garam ikan untuk membantu mengurangi kadar klorin. Selain itu, dapat ditambahkan obat pencegah jamur, seperti acriflavine, methylene blue, atau obat sejenis dalam jumlah beberapa tetes.
Setelah itu, filter tetap dinyalakan untuk memulai proses cycling dan akuarium kembali didiamkan selama 24 jam tanpa ikan.
Baca Juga: Lucunya Lomba Makan Kerupuk Hyundai Hillstate! Jeong Ji-yoon Sebut Lebih Susah Dibanding Smash
2. Masukkan Ikan Secara Bertahap pada Hari Ketiga
Setelah dua hari akuarium tidak diisi ikan, pemilik dapat mulai memasukkan beberapa ikan hias pada hari ketiga. Namun, jumlahnya tidak boleh terlalu banyak karena sistem filtrasi belum tentu bekerja secara maksimal.
Ikan pertama yang dimasukkan dapat dianggap sebagai ikan tester atau ikan percobaan. Pemula juga disarankan tidak langsung memasukkan ikan dengan harga mahal pada tahap awal.
Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko kerugian apabila kondisi air belum cocok atau sistem filtrasi belum bekerja optimal hingga membuat ikan stres dan mati.
3. Tunggu Bakteri Baik Hidup di Media Filter
Sebelum menambah populasi ikan, pemilik perlu memastikan bakteri baik pada media filter sudah berkembang. Salah satu tanda yang disebutkan dalam video adalah perubahan warna media biologis menjadi kecoklatan.
Setelah kondisi tersebut terlihat, populasi ikan dapat ditambah secara bertahap sesuai kebutuhan. Meski demikian, jumlah ikan tetap harus diperhatikan agar tidak terjadi overpopulasi di dalam akuarium.
4. Tambah Ikan Sesuai Kapasitas Akuarium
Setelah sistem filtrasi biologis mulai bekerja, ikan hias yang diinginkan dapat ditambahkan. Namun, jumlah ikan tetap harus disesuaikan dengan kapasitas akuarium.
Penambahan populasi secara berlebihan berpotensi membuat beban sistem filtrasi semakin berat. Karena itu, pemilik perlu menambah ikan secara bertahap sambil memperhatikan kondisi akuarium.
Baca Juga: Menggila di Lapangan! Aksi Jeong Ji-yoon Cetak Poin Beruntun Bikin Lini Pertahanan Lawan Kerepotan
5. Pilih Ikan dengan Karakter yang Cocok
Langkah terakhir adalah memilih jenis ikan hias yang tidak saling mengganggu. Tidak semua spesies ikan dapat dicampurkan dalam satu akuarium.
Pemula dapat mempelajari karakter setiap jenis ikan seiring bertambahnya pengalaman. Ada ikan yang tidak cocok dicampur, sementara beberapa jenis lainnya dapat hidup bersama dan memberikan manfaat dalam ekosistem akuarium.
Bagi pemula, berbagai masalah yang muncul saat pertama kali memelihara ikan dapat menjadi proses pembelajaran untuk menciptakan ekosistem yang lebih baik. Dengan memahami sindrom akuarium baru dan menjalankan proses secara bertahap, risiko masalah pada tahap awal dapat lebih diperhatikan.
Editor : Ahmad Fadhil Gusnaashir