JAKARTA - Ikan cupang selama ini dikenal sebagai ikan hias berukuran kecil dengan warna dan bentuk sirip yang beragam. Namun, di tangan peternak dan kolektor khusus, harganya bisa melonjak hingga puluhan juta rupiah. Salah satunya adalah ikan cupang termahal dengan karakteristik unik berupa ekor kembar yang disebut mampu mencapai harga USD 1.000 atau sekitar Rp16 juta.
Ikan cupang unik tersebut merupakan koleksi peternak bernama Acung Van Holsten. Dalam sebuah kunjungan ke tempat pemeliharaannya, terlihat sejumlah cupang dengan bentuk tubuh, warna, hingga struktur sirip yang tidak biasa. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah cupang Hellboy plakat dengan ekor kembar.
Keunikan ikan cupang tersebut bukan berasal dari sirip yang ditempel atau dimodifikasi. Ekor kembar itu merupakan karakter alami yang muncul secara tidak terduga dari proses breeding. Bahkan, menurut penuturan sang peternak, ikan dengan karakter seperti itu sangat jarang ditemukan sehingga menjadi incaran kolektor, termasuk pembeli dari Amerika Serikat.
Baca Juga: Bagikan 11 Ribu Kantong Udik-Udik ke Warga Bregodo Tani Jadi Pembeda Prosesi
Dalam koleksi Acung, cupang berekor kembar menjadi salah satu ikan yang paling mencolok. Bentuk ekornya terbelah menjadi dua dan membuat gerakan berenangnya terlihat berbeda dibandingkan cupang pada umumnya.
Menurut penjelasan dalam video, karakter tersebut merupakan hasil yang sangat jarang dari proses pembiakan. Dari jumlah anakan yang bisa mencapai ratusan hingga sekitar 1.000 ekor, hanya sebagian kecil yang berpotensi memiliki karakter tidak biasa. Bahkan, tidak setiap proses breeding menghasilkan ikan jackpot.
Karena tingkat kelangkaannya, cupang dengan bentuk ekstrem seperti ekor kembar dapat memiliki nilai jual jauh lebih tinggi daripada ikan cupang reguler.
Baca Juga: DPRD Trenggalek Dukung Pembebasan PPB Sawah, Langsung Koordinasi untuk Siapkan Dasar Hukum
Selain cupang ekor kembar, koleksi Acung juga dipenuhi berbagai varian yang memiliki karakteristik berbeda. Salah satunya adalah Hellboy plakat yang memiliki warna merah pekat dan dapat dibedakan dari Super Red melalui karakter matanya.
Ada pula varian Panda, Avatar Panda, Armageddon, Fancy, hingga Tanco. Beberapa ikan memiliki pola warna yang hanya muncul pada bagian tertentu, sehingga memberikan tampilan yang sangat khas.
Varian Avatar Panda disebut memiliki harga sekitar Rp3 juta per ekor. Sementara sepasang ikan tertentu dapat mencapai sekitar Rp5 juta. Cupang bonsai juga menjadi salah satu koleksi menarik karena ukurannya tetap kecil, tetapi memiliki nilai jual yang cukup tinggi.
Untuk varian tertentu, harga ikan cupang bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah, bergantung pada kualitas, kelangkaan, bentuk sirip, warna, serta karakter genetiknya.
Baca Juga: Nota Keuangan Sudah Masuk, DPRD Trenggalek Targetkan Perubahan APBD 2026 Rampung 8–9 September
Menariknya, pasar cupang milik Acung tidak hanya berada di Indonesia. Ikan-ikan hasil koleksinya disebut telah dikirim ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Jepang, Korea, dan sejumlah negara lainnya.
Permintaan dari pasar luar negeri juga membuat varian dengan warna unik semakin menarik. Dalam video tersebut disebutkan, pembeli dari Korea, Jepang, dan China menyukai warna-warna seperti pink, Aurora, serta multicolor.
Sementara itu, penjualan di Indonesia masih banyak dilakukan melalui media sosial dan sistem lelang. Untuk ikan dengan harga terjangkau, Acung memanfaatkan TikTok sebagai salah satu sarana penjualan. Sistem lelang dengan harga pembukaan rendah memungkinkan penghobi mendapatkan ikan cupang dengan harga puluhan hingga ratusan ribu rupiah.
Menurut Acung, aktivitas live juga dapat menjadi peluang bagi peternak untuk mempertahankan bisnis ikan cupang. Ia mengaku pernah melakukan live berjam-jam dan memperoleh hasil penjualan hingga jutaan rupiah.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ikan cupang bukan sekadar ikan hias biasa. Bagi kolektor, keunikan genetik dan kelangkaan justru menjadi faktor utama yang menentukan harga. Tak mengherankan jika ikan cupang termahal dengan karakter langka mampu dibanderol hingga belasan juta rupiah dan menarik perhatian kolektor dari berbagai negara.
Editor : Ahmad Fadhil Gusnaashir