PALEMBANG - Keberadaan ikan belida di pasar ikan hias sempat menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat. Ikan yang dikenal memiliki bentuk tubuh pipih dan unik tersebut masih dapat ditemukan di sejumlah penjual ikan hias. Padahal, ikan belida lokal Indonesia telah mendapatkan perlindungan karena populasinya di alam menghadapi ancaman.
Perbedaan asal ikan menjadi salah satu alasan mengapa belida masih dapat terlihat dalam perdagangan ikan hias. Belida Thailand atau Chitala ornata, misalnya, disebut masih banyak diperjualbelikan karena telah berhasil dibudidayakan. Kondisi ini berbeda dengan ikan belida lokal yang keberadaannya di alam semakin terbatas.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa masyarakat perlu memahami jenis ikan belida sebelum menyimpulkan bahwa seluruh ikan yang memiliki nama belida berasal dari populasi liar Indonesia.
Baca Juga: Kisah Yanu Andi Prasetyo Visualisasikan Sejarah Prasasti Kamulan
Ikan belida merupakan ikan predator air tawar dengan tubuh pipih. Ikan ini memiliki karakteristik pergerakan yang unik karena sirip bagian bawah tubuhnya dapat membantu ikan bergerak di dalam air.
Belida memiliki hubungan kekerabatan dengan kelompok ikan seperti arwana dan arapaima karena termasuk dalam ordo Osteoglossiformes. Habitatnya berada di wilayah perairan Asia dan sebagian Afrika, dengan beberapa jenis yang tersebar di kawasan Asia Tenggara.
Di Indonesia sendiri terdapat beberapa jenis ikan belida. Perbedaan jenis tersebut penting diketahui karena masing-masing mempunyai persebaran dan kondisi populasi yang tidak sama.
Belida Borneo atau Chitala bornensis diketahui berasal dari wilayah Sumatera dan Kalimantan. Ada pula belida Sumatera atau Chitala hypselonotus, serta belida Jawa dengan nama ilmiah Notopterus notopterus.
Baca Juga: Pasar Murah, Jaga Ketahanan Pangan dan Kendalikan Inflasi
Jauh sebelum status perlindungan menjadi perhatian, ikan belida mempunyai nilai ekonomi tinggi bagi masyarakat. Di Palembang, ikan tersebut memiliki sejarah yang kuat karena pernah menjadi bahan baku utama berbagai makanan olahan.
Daging ikan belida dikenal memiliki rasa gurih. Selain pempek, ikan ini juga digunakan untuk membuat makanan seperti siomay, kerupuk, abon dan berbagai produk olahan lainnya.
Permintaan yang tinggi membuat tekanan terhadap populasi ikan belida meningkat. Semakin banyak ikan yang diambil dari alam, semakin besar pula risiko penurunan jumlah populasinya apabila tidak diimbangi dengan proses reproduksi yang memadai.
Baca Juga: Optimalisasi BUMD, Dorong Pelayanan Masyarakat dan PAD
Masalah ikan belida tidak berhenti pada penangkapan. Kondisi habitat juga menjadi faktor penting dalam keberlangsungan populasi.
Pembangunan, perubahan kawasan untuk permukiman dan pertanian, serta pencemaran yang berasal dari aktivitas industri, domestik dan pertanian dapat mengganggu ekosistem perairan.
Padahal, ikan membutuhkan habitat yang sesuai bukan hanya untuk mencari makan, tetapi juga untuk berkembang biak. Ketika lingkungan tempat ikan bertelur mengalami gangguan, proses regenerasi generasi berikutnya ikut terhambat.
Kemampuan reproduksi ikan belida yang disebut relatif rendah membuat persoalan tersebut semakin serius. Dalam materi video disebutkan bahwa satu indukan hanya menghasilkan sekitar 288 telur. Jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan beberapa ikan air tawar lain yang mampu menghasilkan telur dalam jumlah sangat besar.
Baca Juga: DPRD Trenggalek Dukung Pembebasan PPB Sawah, Langsung Koordinasi untuk Siapkan Dasar Hukum
Kekhawatiran terhadap populasi belida bukan tanpa alasan. Belida lopis atau Chitala lopis disebut telah dinyatakan punah setelah tidak lagi ditemukan selama lebih dari 160 tahun.
Ikan tersebut pertama kali ditemukan pada 1851. Setelah itu, laporan mengenai keberadaannya di alam tidak kembali ditemukan dalam kurun waktu yang sangat panjang.
Kasus belida lopis menjadi gambaran bagaimana hilangnya suatu spesies dapat terjadi secara perlahan. Minimnya data mengenai keberadaan ikan di alam juga membuat kondisi populasi sebenarnya sulit diketahui.
Pelepasan Ikan Jadi Contoh Konservasi
Kesadaran untuk menjaga ikan belida kemudian terlihat dari tindakan seorang nelayan yang melepaskan kembali ikan belida berukuran besar setelah berhasil menangkapnya.
Aksi tersebut mendapat berbagai tanggapan di media sosial. Sebagian warganet mempertanyakan alasan ikan dilepaskan, sementara lainnya memahami bahwa ikan belida termasuk jenis yang mendapatkan perlindungan.
Video mengenai aksi tersebut juga disebut memperoleh puluhan ribu tanda suka. Penyebaran informasi melalui media sosial dinilai dapat membantu meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai status ikan belida.
Perlindungan ikan belida pada akhirnya tidak hanya bergantung pada pemerintah. Masyarakat yang mengetahui status ikan tersebut juga dapat mengambil bagian dalam menjaga kelestarian populasi dan habitatnya.
Dengan menjaga sungai serta tidak menangkap ikan yang dilindungi, peluang populasi belida untuk bertahan di alam dapat semakin besar. Jangan sampai ikan yang dahulu menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia justru hanya tersisa dalam cerita bagi generasi mendatang.
Editor : Ahmad Fadhil Gusnaashir