Dulu Jadi Primadona Pempek, Ikan Belida Kini Terancam Hilang dari Sungai Indonesia

Ahmad Fadhil Gusnaashir • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 10:30 WIB
Dulu Jadi Primadona Pempek, Ikan Belida Kini Terancam Hilang dari Sungai Indonesia
Dulu Jadi Primadona Pempek, Ikan Belida Kini Terancam Hilang dari Sungai Indonesia

PALEMBANG - Nasib ikan belida kini berbeda jauh dibandingkan masa ketika ikan tersebut menjadi salah satu bahan makanan yang banyak dicari masyarakat. Ikan yang pernah identik dengan pempek Palembang itu kini menghadapi ancaman serius akibat penangkapan dan perubahan kondisi habitat.

Ikan belida dikenal memiliki daging yang gurih sehingga dahulu memiliki nilai ekonomi tinggi. Selain digunakan sebagai bahan baku pempek, ikan ini juga dimanfaatkan untuk berbagai olahan makanan seperti siomay, kerupuk, abon, hingga sosis.

Tingginya permintaan terhadap ikan belida membuat penangkapan dari alam semakin intensif. Jika jumlah ikan yang diambil lebih cepat dibandingkan kemampuan populasinya untuk berkembang biak, keberadaan ikan di sungai akan terus mengalami penurunan.

Baca Juga: Kisah Yanu Andi Prasetyo Visualisasikan Sejarah Prasasti Kamulan

Salah satu persoalan yang membuat ikan belida sulit kembali melimpah adalah kemampuan reproduksinya. Dalam materi video disebutkan, satu indukan ikan belida hanya dapat menghasilkan sekitar 288 telur.

Jumlah tersebut tergolong kecil jika dibandingkan dengan sejumlah ikan air tawar lain yang mampu menghasilkan telur dalam jumlah jauh lebih banyak. Akibatnya, ketika populasi ikan belida mengalami tekanan akibat penangkapan, proses pemulihannya tidak dapat berlangsung dengan cepat.

Persoalan tersebut semakin berat ketika habitat tempat ikan berkembang biak ikut mengalami kerusakan. Sungai yang tercemar atau mengalami perubahan akibat pembangunan dapat mengurangi ruang hidup ikan sekaligus mengganggu proses perkembangbiakan.

Baca Juga: Pasar Murah, Jaga Ketahanan Pangan dan Kendalikan Inflasi

Ancaman terhadap ikan belida bukan semata-mata berasal dari nelayan. Perubahan lingkungan juga menjadi faktor penting dalam menurunnya populasi ikan air tawar.

Degradasi habitat, pencemaran dari aktivitas industri, rumah tangga dan pertanian, serta perubahan lahan untuk kawasan perkotaan dan pertanian disebut menjadi sejumlah persoalan yang dapat memengaruhi keberadaan ikan.

Kondisi sungai sangat menentukan keberlangsungan ikan karena seluruh siklus kehidupan mereka berlangsung di lingkungan tersebut. Ketika habitat semakin tertekan, ikan bukan hanya kesulitan mencari makanan, tetapi juga dapat kehilangan lokasi yang dibutuhkan untuk berkembang biak.

Baca Juga: Optimalisasi BUMD, Dorong Pelayanan Masyarakat dan PAD

Penurunan populasi ikan belida juga menunjukkan bahwa hilangnya suatu spesies bukan sekadar kemungkinan. Salah satu jenis yang disebut dalam materi adalah belida lopis atau Chitala lopis.

Ikan tersebut pertama kali ditemukan oleh Pieter Bleeker pada 1851. Namun, setelah itu tidak ada laporan penemuan kembali selama lebih dari 160 tahun. Dalam materi video, belida lopis disebut telah dinyatakan punah oleh IUCN pada 2012.

Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa spesies yang semakin jarang terlihat membutuhkan perhatian sebelum kondisinya semakin sulit dipulihkan.

Indonesia sendiri masih memiliki jenis belida lain, seperti belida Borneo (Chitala bornensis), belida Sumatera (Chitala hypselonotus), dan belida Jawa (Notopterus notopterus).

Baca Juga: Bagikan 11 Ribu Kantong Udik-Udik ke Warga Bregodo Tani Jadi Pembeda Prosesi

Di tengah status perlindungan belida lokal, masyarakat masih dapat menemukan ikan yang memiliki nama belida di toko ikan hias. Hal ini tidak otomatis berarti ikan tersebut berasal dari populasi liar Indonesia.

Belida Thailand atau Chitala ornata disebut masih diperjualbelikan karena telah berhasil dibudidayakan. Karena berasal dari kegiatan budidaya, jenis tersebut berbeda konteks dengan belida lokal yang populasinya di alam menghadapi ancaman.

Perbedaan tersebut penting dipahami agar masyarakat tidak keliru ketika melihat ikan belida di perdagangan ikan hias.

Melepas Ikan Jadi Bentuk Kepedulian

Kesadaran mengenai kondisi ikan belida juga terlihat dari aksi seorang pemancing yang memilih melepaskan kembali ikan belida berukuran besar setelah mendapatkannya di sungai.

Aksi tersebut kemudian menjadi perhatian di media sosial. Ada warganet yang mempertanyakan keputusan tersebut karena menganggap ikan belida masih banyak di daerah tertentu. Namun, ada pula yang memahami bahwa ikan belida termasuk jenis yang mendapatkan perlindungan.

Penyebaran informasi seperti ini dapat membantu masyarakat mengetahui kondisi ikan belida yang sebenarnya. Semakin banyak orang memahami statusnya, semakin besar peluang upaya konservasi mendapatkan dukungan.

Pelestarian ikan belida membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah dapat menjalankan program perlindungan dan budidaya, sementara masyarakat dapat membantu dengan menjaga kebersihan sungai dan tidak mengambil ikan yang dilindungi dari alam.

Bagi ikan belida, menjaga habitat berarti menjaga kesempatan bagi populasinya untuk tetap bertahan. Sebab, jika ikan yang dahulu menjadi ikon kuliner tersebut terus kehilangan ruang hidup, bukan mustahil keberadaannya di alam semakin sulit ditemukan.

Editor : Ahmad Fadhil Gusnaashir
ikan belida ikan dilindungi belida Palembang belida lopis konservasi ikan