PALEMBANG - Seorang nelayan menjadi perhatian setelah memilih mengembalikan ikan belida berukuran besar ke sungai setelah berhasil menangkapnya. Keputusan tersebut memunculkan beragam reaksi dari masyarakat, terutama karena ikan belida dikenal memiliki daging yang lezat dan dahulu banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan.
Bagi sebagian orang, ikan yang sudah berada di tangan pemancing tentu bisa saja dibawa pulang untuk dikonsumsi. Namun, kondisi ikan belida di alam membuat keputusan untuk melepaskannya kembali memiliki alasan penting. Populasi belida lokal diketahui semakin terancam akibat berbagai tekanan terhadap habitat dan aktivitas penangkapan.
Aksi tersebut kemudian viral di media sosial. Banyak masyarakat baru mengetahui bahwa ikan belida termasuk jenis ikan yang mendapatkan perlindungan setelah melihat video tersebut.
Baca Juga: Kisah Yanu Andi Prasetyo Visualisasikan Sejarah Prasasti Kamulan
Keberadaan ikan belida di pasar ikan hias menjadi salah satu penyebab munculnya kebingungan. Masyarakat masih dapat melihat ikan yang memiliki bentuk menyerupai belida dijual sebagai ikan hias.
Padahal, belida yang beredar di pasar tidak selalu berasal dari populasi lokal. Salah satu jenis yang disebut dalam materi adalah belida Thailand atau Chitala ornata. Jenis ini disebut telah berhasil dibudidayakan sehingga masih dapat ditemukan dalam perdagangan ikan hias.
Situasi tersebut berbeda dengan belida lokal yang hidup di alam Indonesia. Status perlindungan membuat masyarakat perlu berhati-hati agar tidak menyamakan seluruh ikan dengan nama belida sebagai ikan yang bebas ditangkap.
Baca Juga: Optimalisasi BUMD, Dorong Pelayanan Masyarakat dan PAD
Ikan belida memiliki sejarah panjang dengan Palembang. Keberadaan ikan tersebut bahkan menjadi bagian dari identitas kawasan Sungai Musi.
Pada masa lalu, ikan belida banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku pempek. Dagingnya yang dikenal gurih membuat ikan ini memiliki nilai ekonomi tinggi. Tidak hanya pempek, belida juga digunakan untuk membuat berbagai produk makanan seperti siomay, kerupuk, abon dan sosis.
Tingginya permintaan kemudian mendorong penangkapan ikan belida dalam jumlah besar. Jika berlangsung terus-menerus, penangkapan dapat membuat jumlah ikan di alam semakin berkurang.
Masalahnya menjadi semakin rumit karena populasi ikan tidak hanya menghadapi tekanan dari aktivitas manusia, tetapi juga harus bergantung pada kondisi habitat yang mendukung proses reproduksi.
Baca Juga: DPRD Trenggalek Dukung Pembebasan PPB Sawah, Langsung Koordinasi untuk Siapkan Dasar Hukum
Sungai menjadi bagian penting dalam kehidupan ikan belida. Ketika lingkungan sungai mengalami perubahan, keberadaan ikan pun ikut terdampak.
Dalam materi disebutkan sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap kelangkaan ikan air tawar, mulai dari degradasi habitat, pencemaran industri, aktivitas domestik dan pertanian, hingga perubahan lahan untuk kawasan perkotaan, pertanian dan pembangunan.
Kerusakan habitat dapat mengganggu tempat ikan mencari makan sekaligus lokasi untuk berkembang biak. Jika ikan tidak berhasil bertelur dan menghasilkan generasi baru, populasi akan semakin sulit mempertahankan jumlahnya.
Kemampuan reproduksi ikan belida juga disebut relatif rendah. Satu indukan hanya menghasilkan sekitar 288 telur. Kondisi tersebut membuat populasi membutuhkan waktu untuk pulih apabila mengalami tekanan penangkapan yang tinggi.
Baca Juga: Nota Keuangan Sudah Masuk, DPRD Trenggalek Targetkan Perubahan APBD 2026 Rampung 8–9 September
Kondisi ikan belida semakin memprihatinkan karena terdapat jenis yang disebut telah punah, yaitu belida lopis atau Chitala lopis.
Spesies tersebut pertama kali ditemukan oleh Pieter Bleeker pada 1851. Namun, selama lebih dari 160 tahun tidak ada laporan mengenai penemuan kembali ikan tersebut. Dalam materi video, belida lopis disebut telah dinyatakan punah oleh IUCN pada 2012.
Selain belida lopis, masih terdapat jenis lain yang hidup di Indonesia. Di antaranya belida Borneo (Chitala bornensis), belida Sumatera (Chitala hypselonotus), dan belida Jawa (Notopterus notopterus).
Keberadaan jenis-jenis yang masih tersisa membuat upaya perlindungan menjadi penting agar sejarah kepunahan belida lopis tidak kembali terjadi pada jenis lainnya.
Baca Juga: Jadwal BRI Super League 2026/2027 Pekan Pertama, Persib vs PSM Jadi Penutup
Video mengenai nelayan yang melepaskan ikan belida kembali ke sungai mendapatkan banyak perhatian di media sosial. Dalam materi disebutkan video tersebut telah memperoleh sekitar 61 ribu tanda suka dan sekitar 1.200 komentar.
Respons masyarakat pun beragam. Ada yang menganggap ikan tersebut seharusnya dikonsumsi karena rasanya enak, sementara lainnya mendukung keputusan nelayan untuk melepaskannya.
Perbedaan komentar tersebut justru menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum mengetahui status ikan belida. Karena itu, penyebaran informasi mengenai konservasi dapat menjadi langkah penting untuk meningkatkan kesadaran.
Menjaga ikan belida bukan hanya tugas nelayan maupun pemerintah. Masyarakat juga dapat mengambil peran dengan menjaga kondisi sungai, tidak menangkap ikan yang dilindungi, dan memahami perbedaan antara ikan hasil budidaya dengan ikan yang berasal dari alam.
Jika kesadaran tersebut terus tumbuh, ikan belida yang masih bertahan di perairan Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk tetap hidup dan berkembang bagi generasi mendatang.
Editor : Ahmad Fadhil Gusnaashir