Budidaya Ikan Arwana di Bekasi Tembus Pasar Ekspor, Punya 405 Indukan

Putri Dwi Lestari • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 07:30 WIB
Budidaya arwana di Bekasi memiliki sekitar 405 indukan dan menembus pasar ekspor. Serta tips memilih ikan arwana untuk pemula.(PINTEREST)
Budidaya arwana di Bekasi memiliki sekitar 405 indukan dan menembus pasar ekspor. Serta tips memilih ikan arwana untuk pemula.(PINTEREST)

TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM - Budidaya arwana di PT Arwana Citra Ikan Hias Indonesia (AIHI) di Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat, dilakukan dengan proses panjang dan terukur. Penangkaran ini memiliki sekitar 405 indukan arwana super red dan golden red.

Pemilik AIHI, Muhammad Firliansyah mengatakan usaha tersebut berdiri sejak akhir 2006 dan awal 2007. Namun, aktivitasnya mulai eksis pada 2010 setelah berbagai persiapan, termasuk perizinan diselesaikan.

AIHI menjual arwana super red dan golden red. Untuk indukan ikan ditempatkan dilima kolam. Jumlahnya tidak dibuat sama rata karena penangkar melakukan treatment untuk menemukan formasi yang tepat.

Setiap kolam berukuran sekitar 30 x 10 meter dengan kedalaman air sekitar 170 sentimeter. Kolam dibuat memiliki dua ketinggian karena arwana memiliki kecenderungan berbeda dalam memilih pasangan dan tempat berkembang biak. Ada ikan yang menyukai air lebih tinggi, sementara lainnya memilih bagian yang lebih rendah.

Baca Juga: SPPG Tamanan Masih Suspend Lakukan Pembenahan Belum Akukan Pencabutan

Indukan dipilih dari ikan yang matang

AIHI memprioritaskan indukan dengan usia minimal delapan tahun untuk jantan dan enam tahun untuk betina. Menurut Ahmad, indukan yang sudah matang dinilai lebih berpotensi menghasilkan anakan dengan baik. Di alam, arwana sebenarnya sudah dapat berkembang biak pada usia sekitar empat hingga lima tahun.

Pakan indukan diberikan bervariasi, mulai jangkrik, ulat Jerman, udang, hingga kodok. Konsumsi kodok bisa mencapai sekitar 20 kilogram per hari, sedangkan ulat Jerman dan jangkrik sekitar 4-6 kilogram.

Untuk memudahkan proses panen, kolam dilengkapi sekat atau pintu. Saat indukan jantan mengerami telur dan menyendiri di salah satu bagian, sekat dapat ditutup sehingga proses panen lebih mudah.

Panen biasanya berlangsung dalam siklus sekitar satu sampai dua bulan, dengan masa pengeraman antara 21 hingga 40 hari, tergantung kondisi indukan.

Tanda jantan sedang mengerami antara lain tidak mau makan, mulut membesar, dan gaya berenangnya melambat. Namun, mulut besar tidak selalu berarti membawa anakan karena bisa saja ikan sedang mengerami kodok.

Cuaca juga menjadi salah satu tantangan. Perubahan panas dan hujan dapat memengaruhi kualitas air, sedangkan petir dapat membuat ikan kaget. Gangguan dari pejantan lain juga dapat menyebabkan indukan stres dan memengaruhi proses pengeraman.

Baca Juga: Jalan Pandean-Malasan Durenan Akan Terus Diawasi Gunakan DAK Rp 6,8 Miliar

Baby arwana dirawat dalam inkubator

Setelah dipanen, anakan arwana dipindahkan ke ruang inkubator. Anakan diputar secara perlahan untuk membantu menjaga cadangan makanan berupa kuning telur atau yolk agar tidak membusuk sekaligus mendukung pertumbuhan dayung dan ekor.

Suhu ruangan dijaga sekitar 31-32 derajat Celsius, sementara suhu air tidak boleh di bawah 27 derajat Celsius. Selama cadangan kuning telur masih ada, baby arwana belum perlu diberi makan. Ketika berusia sekitar satu bulan dan yolk sudah habis, anakan mulai dapat diberi cacing beku atau cacing darah.

Pergantian air dilakukan sekitar dua hari sekali dengan menjaga pH pada kisaran 6,5-7,0. Dari satu indukan, secara natural arwana dapat menghasilkan sekitar 40-50 ekor, tetapi setelah melalui seleksi jumlah yang dipanen sekitar 20-30 ekor.

Kolam berukuran 5 x 3 meter dapat menampung hingga 30 arwana berukuran 40-50 sentimeter. Dari ukuran 12 sentimeter menuju 30 sentimeter dapat memakan waktu sekitar delapan bulan hingga satu tahun. Dari 30 menuju 40 sentimeter membutuhkan waktu sekitar delapan bulan hingga satu tahun lagi.

Ahmad menyarankan memilih arwana berukuran 20 sentimeter ke atas karena dinilai lebih kuat dan tidak terlalu rewel soal pakan.

Untuk arwana ukuran sekitar 25 sentimeter, akuarium ideal disebut berukuran 120 x 60 x 40-50 sentimeter. Pergantian air dapat dilakukan dua sampai empat hari sekali sebanyak 20-30 persen. Ikan tidak perlu dikeluarkan saat proses tersebut.

Ulat Jerman disebut membantu pembentukan badan, jangkrik mendukung naluri berburu, udang membantu perkembangan warna merah, sedangkan kodok membantu penebalan badan. Perubahan warna tetap berbeda pada setiap ikan.

Baca Juga: Veda Ega Pratama Terlempar ke P16 di FP2 Moto3 Inggris 2026

Arwana juga merupakan ikan predator yang memiliki teritorial. Karena itu, jika dipelihara lebih dari satu ekor, Ahmad menyebut jumlah minimal yang disarankan tujuh hingga delapan ekor agar perebutan wilayah lebih terbagi.

AIHI juga menekankan aspek legalitas. Arwana yang diperdagangkan perlu dilengkapi sertifikat dan chip sebagai penanda bahwa ikan berasal dari penangkaran resmi. Untuk lalu lintas dalam negeri dan luar negeri, diperlukan izin sesuai ketentuan yang disebut Ahmad sebagai SIBG DN dan SIBG LN.

Pasar AIHI telah menjangkau sejumlah negara, di antaranya China, Filipina, Jepang, Thailand, Brunei, Singapura, Malaysia, Jerman, dan Inggris. Ahmad juga menyebut Sultan Brunei sebagai salah satu pelanggan tetapnya.

Bagi penghobi, Ahmad mengingatkan pentingnya membeli arwana dari penangkaran atau penjual yang resmi dan berizin. Menurutnya, pelestarian arwana sebagai ikan asli Indonesia juga menjadi bagian penting dari kegiatan budidaya yang dilakukan.

Editor : Putri Dwi Lestari
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
Arwana Super Red Budidaya Arwana Arwana Golden Red ikan hias bekasi