Usaha Ikan Guppy Bisa Dimulai dari Rumah, Modal Minim hingga Raup Puluhan Juta

Cholifatun Nisak • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 14:35 WIB
Usaha ikan guppy bisa dimulai dari rumah dengan modal minim. Simak cara budidaya, pakan, pemasaran hingga risikonya.
Usaha ikan guppy bisa dimulai dari rumah dengan modal minim. Simak cara budidaya, pakan, pemasaran hingga risikonya.

 

TRENGGALEK NJENGGELEK- Usaha ikan guppy ternyata bisa dimulai dengan modal sederhana, bahkan memanfaatkan barang bekas yang tersedia di rumah. Berawal dari hobi memelihara dan mengembangbiakkan ikan, Ahmad berhasil mengembangkan Swasti Farm di Sleman, Yogyakarta, menjadi usaha ikan hias yang fokus pada guppy.

Ahmad menceritakan, ketertarikannya terhadap bisnis guppy bermula sekitar 2013. Saat itu, ia hanya memiliki uang sekitar Rp150 ribu untuk membeli ikan guppy sebagai hewan peliharaan.

Ikan yang dipelihara kemudian berkembang biak. Dari pengalaman tersebut, muncul ide untuk mengembangkan hobi menjadi usaha dengan menjual hasil ternakan sendiri.

Usaha Ikan Guppy Bisa Dimulai dengan Modal Sederhana

Menurut Ahmad, calon pembudidaya tidak harus memiliki modal besar untuk memulai usaha ikan guppy. Wadah pemeliharaan bahkan dapat menggunakan berbagai barang yang tersedia di rumah selama mampu menampung air dan tidak mengalami kebocoran.

Galon bekas menjadi salah satu contoh wadah yang dapat dimanfaatkan. Setelah memiliki wadah, hal penting berikutnya adalah mendapatkan indukan berkualitas.

Ahmad menyarankan calon pembudidaya membeli indukan dari breeder, bukan sekadar toko akuarium. Menurutnya, breeder lebih dapat memberikan informasi mengenai kualitas dan genetik ikan yang ditawarkan.

Guppy Punya Produktivitas Tinggi

Salah satu alasan ikan guppy menarik untuk dikembangkan sebagai usaha adalah produktivitasnya. Guppy merupakan ikan yang berkembang biak dengan melahirkan anak dalam kondisi sudah berbentuk ikan.

Dalam penjelasan Ahmad, satu induk betina rata-rata dapat menghasilkan sekitar 50 hingga 120 anakan dalam sekali melahirkan. Siklus kelahirannya juga relatif cepat, yakni sekitar 21 hari.

Proses perkawinan guppy pun tidak memerlukan teknik khusus. Ikan jantan dan betina dapat ditempatkan bersama dalam satu tank hingga melakukan perkawinan secara alami.

Namun, ketika betina akan melahirkan, induk sebaiknya dipisahkan. Hal tersebut dilakukan karena anakan guppy berisiko dimakan oleh induknya maupun ikan lain dalam wadah.

Breeding box dapat digunakan sebagai tempat khusus bagi induk betina saat mendekati waktu melahirkan.

Baca Juga: Polytron Fox 500 2026 Dipamerkan, Harga Rp38 Jutaan dan Fitur Melimpah

Pakan Guppy dan Kualitas Air Jadi Perhatian Utama

Dalam budidaya guppy, pakan dapat berasal dari makanan hidup maupun pakan buatan. Beberapa jenis pakan hidup yang dapat digunakan antara lain artemia, kutu air, cacing sutra, daphnia dan jentik nyamuk. Sementara itu, pakan buatan yang umum digunakan adalah pelet.

Selain pakan, kualitas air menjadi salah satu faktor penting dalam pemeliharaan guppy. Ahmad menyebut pengelolaan air sebagai tantangan utama dalam budidaya ikan tersebut.

Kualitas air dapat dijaga menggunakan filter, aerator maupun tanaman air. Menurut pengalaman Ahmad, kondisi air yang terjaga akan membantu menjaga kesehatan ikan.

Guppy dapat terus berproduksi hingga usia lebih dari satu tahun. Namun, masa produksi yang dianggap paling optimal berada pada usia sekitar enam hingga delapan bulan.

Harga Guppy Tidak Memiliki Standar Tunggal

Harga ikan guppy di pasaran tidak memiliki standar tunggal. Nilainya dapat berbeda bergantung pada jenis dan karakteristik ikan.

Kelangkaan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga. Tingkat kesulitan pemeliharaan juga dapat berpengaruh. Contohnya, guppy albino disebut membutuhkan perawatan lebih sulit dibandingkan jenis non-albino sehingga harganya dapat lebih tinggi.

Kondisi tersebut membuat pembudidaya perlu memahami karakteristik ikan sebelum menentukan harga jual.

Tantangan Terbesar Ada pada Pemasaran

Selain produksi, pemasaran menjadi tantangan penting dalam menjalankan usaha ikan guppy. Berbeda dengan kebutuhan pokok, guppy lebih banyak dipasarkan sebagai ikan hobi sehingga penjual perlu aktif mencari konsumen.

Pemanfaatan media sosial seperti TikTok, Facebook dan Instagram dapat menjadi bagian dari strategi pemasaran. Ahmad menyarankan pembudidaya mulai memikirkan pemasaran sejak awal, bukan setelah ikan sudah banyak berkembang biak.

Ia juga mengingatkan calon pengusaha agar tidak hanya menghitung potensi keuntungan. Risiko seperti ikan mati, masalah pengiriman dan kerusakan selama distribusi tetap perlu diperhitungkan.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan Swasti Farm dalam mengembangkan bisnis guppy. Bagi pemula, hobi dapat menjadi titik awal, tetapi pengelolaan air, produksi, pemasaran dan kemampuan beradaptasi tetap diperlukan agar usaha dapat berkembang.

Baca Juga: Alva Cervo, Motor Listrik Kencang Buatan Indonesia: Gagah, Bertenaga, tapi Ada Kekurangannya

Editor : Cholifatun Nisak
Sumber : pinterest
ikan guppy Bisnis Ikan Hias budidaya guppy usaha ikan guppy Swasti Farm