PULE, Radar Trenggalek – Menunggang kuda bukan lagi sekadar aktivitas yang identik dengan olahraga prestasi. Di Trenggalek, aktivitas tersebut mulai dilirik masyarakat sebagai cara baru untuk mengisi waktu luang.
Kuda yang berjalan perlahan, angin yang menyentuh wajah, serta pengalaman mengendalikan hewan besar, menjadi daya tarik tersendiri. Bagi sebagian orang, berkuda menawarkan pengalaman yang berbeda dibanding aktivitas rekreasi pada umumnya.
Minat tersebut mulai terlihat dari banyaknya masyarakat yang mencoba berkuda dalam beberapa waktu terakhir. Salah satunya terlihat dari tingginya peminat di tempat latihan berkuda yang baru dibuka di Jalan Raya Gamping-Pule, tepatnya Desa Gamping, Kecamatan Suruh. Dalam bulan pertama, jadwal hingga akhir bulan telah terisi.
“Minat warga Trenggalek terhadap olahraga berkuda sangat tinggi. Baru buka bulan ini, dari awal sampai akhir bulan sudah full booking,” ujar tim manajemen Jenggala Stable, Monica Ajeng.
Baca Juga: Normalisasi Sungai, Kurangi Risiko Luapan
Anak muda menjadi kelompok yang dominan. Mereka datang dengan alasan beragam. Ada yang sekadar penasaran dan ingin mencoba pengalaman baru, ada pula yang melihat berkuda sebagai bentuk olahraga.
“Terbanyak itu pemuda. Antusiasmenya tinggi. Ada yang menganggap berkuda sebagai rekreasi. Ada juga yang menganggapnya sebagai olahraga,” kata Monica.
Namun, ketertarikan terhadap berkuda tidak berhenti di kalangan anak muda. Anak-anak hingga orang dewasa juga mulai mencoba. Bahkan, peminat datang dari sejumlah daerah di sekitar Trenggalek, termasuk Tulungagung, Mojokerto, dan Sidoarjo.
Bagi anak-anak, pengalaman menunggang kuda memberikan tantangan tersendiri. Mereka tidak hanya belajar duduk di atas pelana, tetapi juga belajar mengendalikan gerak kuda dan mengikuti instruksi pelatih.
Pelatih berkuda, Edi Priyohandoyo mengatakan, peserta pemula tidak langsung diminta mengendalikan kuda sendiri. Mereka terlebih dahulu diperkenalkan dengan dasar-dasar berkuda.
Baca Juga: Produksi Pangan Jangan Korbankan Lingkungan Target Net-Zero Carbon 2045 Tetap Dikawal
“Untuk pemula, kita mulai dari tahap dasar. Kita berikan teori tentang posisi kaki, cara memegang tali, posisi duduk, kemudian bagaimana mengarahkan dan menghentikan kuda,” jelasnya.
Peserta yang masih ragu akan didampingi pelatih. Setelah mulai percaya diri, mereka perlahan diberi kesempatan mengendalikan kuda sendiri.
Latihan dilakukan secara bertahap, mulai dari walk, trot, hingga canter. Setiap tahapan membutuhkan kemampuan dan keberanian yang berbeda.
Menurut dia, keberanian menjadi bagian penting dalam aktivitas tersebut. Terutama bagi anak-anak, berkuda dapat menjadi pengalaman untuk melatih rasa percaya diri.
“Berkuda itu juga membangun mental. Anak-anak akan semakin berani,” ujarnya.
Hal tersebut pula yang membuat olahraga berkuda memiliki potensi untuk dikenalkan sejak usia dini. Tidak menutup kemungkinan, anak yang awalnya sekadar mencoba kemudian tertarik menekuninya lebih jauh.
“Kami berharap anak-anak suka olahraga berkuda dan nantinya bisa menjadi atlet berkuda,” imbuhnya.
Baca Juga: KPU Tunggu Regulasi Baru, Pasca Putusan MK Ubah Skema Pemilu
Perubahan lain terlihat dari semakin beragamnya masyarakat yang tertarik mencoba. Berkuda yang selama ini kerap dianggap sebagai olahraga mahal dan identik dengan kalangan atas perlahan mulai dipandang sebagai aktivitas yang dapat dinikmati lebih luas.
Sementara itu, anggota tim manajemen, Dona Puspita, melihat ketertarikan tersebut sebagai bagian dari perubahan gaya hidup masyarakat.
“Sekarang berkuda bisa dinikmati semua kalangan, mulai anak-anak, remaja, sampai dewasa. Selama ini kan ada pandangan bahwa olahraga berkuda itu mahal,” ujar Dona.
Bagi sebagian pengunjung, pengalaman berkuda juga menjadi aktivitas untuk menghabiskan waktu bersama keluarga atau sekadar mencari suasana berbeda.
Sementara bagi sebagian lainnya, berkuda mulai dipandang sebagai hobi. Hal itu terlihat dari adanya orang dewasa yang datang bukan sekadar untuk berfoto, melainkan memang ingin menunggang kuda dan berlatih.
Baca Juga: Wujudkan Ruang Aman tanpa Bullying di Lingkungan Madrasah
Tingginya peminat bahkan membuat aktivitas berkuda tidak hanya berlangsung pada akhir pekan. Jadwal pada hari kerja mulai dibuka untuk mengakomodasi masyarakat yang ingin mencoba di luar waktu libur.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pilihan aktivitas untuk mengisi waktu luang di Trenggalek semakin beragam. Berkuda perlahan menemukan tempatnya. Bukan hanya sebagai olahraga, melainkan juga sebagai pengalaman rekreasi yang menawarkan tantangan sekaligus kesenangan.
Ke depan, ketertarikan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai tren sesaat. Dari aktivitas yang awalnya dilakukan untuk mengisi waktu luang, bisa saja muncul kecintaan terhadap olahraga berkuda hingga melahirkan atlet dari Trenggalek. Sebab, terkadang sebuah hobi memang bermula dari hal sederhana: rasa penasaran untuk mencoba. (mal/c1/din)
Editor : Juwita RatnasariSumber : RADAR TRENGGALEK