Dimsum Mentai yang Juicy Resep Diracik, Rasa Diuji

Amalia Rizky Indah Permadani • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 11:40 WIB
LEZAT: Dimsum mentai menjadi salah satu menu kekinian yang dikenal masyarakat Trenggalek.(AMALIA RIZKY IP/ RADAR TRENGGALEK)
LEZAT: Dimsum mentai menjadi salah satu menu kekinian yang dikenal masyarakat Trenggalek.(AMALIA RIZKY IP/ RADAR TRENGGALEK)

KOTA, Radar Trenggalek – Seporsi dimsum mentai mungkin hanya membutuhkan beberapa gigitan untuk dihabiskan. Namun, di balik rasa gurih ayam, saus mentai yang creamy, dan aroma setelah di-torch, ada perjalanan panjang yang dirawat selama bertahun-tahun.

Cerita itu datang dari Rhika Ayu Yuwanita, 36 tahun, atau yang akrab disapa Mbak Riri. Dia merupakan owner Foodera, usaha kuliner yang membawa dimsum mentai menjadi salah satu menu kekinian yang dikenal masyarakat Trenggalek.

Perjalanan tersebut bermula sekitar enam tahun lalu. Kala itu, dimsum mentai mulai dikenal di sejumlah kota besar. Riri melihat peluang untuk membawa tren tersebut ke Trenggalek. Namun, dia tidak langsung menjualnya.

Berbagai percobaan dilakukan terlebih dahulu. Resep diracik, rasa diuji, hingga perhitungan harga pokok produksi disiapkan. Setelah merasa menemukan rasa yang sesuai, barulah dimsum mentai Foodera diperkenalkan kepada masyarakat melalui sistem pre-order (PO).

Baca Juga: 796 KK Terima Bantuan Beras 30 Kg

“Awalnya melihat tren. Dulu masih ada satu, dua di kota besar yang bikin dimsum mentai. Jadi kita bikin, kita research and developmen (RND) dulu sebelum dijual,” tutur Riri, Jumat (25/9).

Respons masyarakat ternyata begitu besar. Setiap kali PO dibuka, daftar pesanan terus memanjang. Dari sana, Riri mulai melihat bahwa produk yang awalnya mengikuti tren ternyata bisa memiliki perjalanan yang lebih panjang. Kuncinya adalah terus memperbaiki rasa.

Riri tidak ingin berhenti pada resep awal. Saus mentai terus dikembangkan, termasuk penggunaan tobiko yang didatangkan dari Surabaya. Dimsum juga diproduksi setiap hari dengan mengutamakan kesegaran bahan. Dalam sehari, produksi Foodera berkisar 10 hingga 20 kilogram ayam, menyesuaikan jumlah pesanan dan kebutuhan pelanggan. Dimsum dibuat menggunakan daging paha ayam dengan sedikit tepung sehingga teksturnya tetap juicy dan rasa ayam lebih terasa.

Jika dulu Foodera mengandalkan sistem pre-order (PO), kini pelanggan bisa datang langsung ke kedai yang buka setiap hari. Perubahan tersebut menjadi salah satu tanda bagaimana usaha yang dirintis Riri perlahan tumbuh dari dapur kecil hingga memiliki tempat yang bisa menjadi tujuan pelanggan untuk menikmati berbagai menu Foodera.

Baca Juga: Harga Kebutuhan Otomotif Belum Normal

“Kalau kita improve itu mesti ditambah-tambahi,” ujarnya.

Perjalanan dari PO hingga memiliki kedai tidak terjadi dalam semalam. Riri bersama suami membangun Foodera secara perlahan. Dari yang awalnya hanya berdua, kini usaha tersebut telah berkembang dengan dukungan sembilan pegawai yang ikut menjadi bagian dari perjalanan mereka.

Dimsum Mentai foodera
Dimsum Mentai foodera

Seiring waktu, pelanggan Foodera pun datang dari berbagai kalangan. Anak-anak sekolah menjadi salah satu pelanggan yang cukup sering memesan untuk bekal maupun camilan. Ada pula pekerja yang menjadikan dimsum sebagai menu makan siang.

Namun, Foodera tidak berhenti pada dimsum mentai. Riri terus melakukan eksperimen untuk menghadirkan ragam rasa yang bisa dinikmati pelanggan. Ada saus tartar yang menjadi pilihan bagi pencinta dimsum dengan cita rasa gurih tanpa pedas, saus tako dengan sentuhan katsuobushi, hingga mentaiyaki yang memadukan saus mentai dengan taburan katsuobushi melimpah.

Baca Juga: Kadis Definitif Makin Langka Kepala Disippus Pensiun 1 Oktober

Beragam varian tersebut lahir dari kebiasaan Riri yang terus melakukan RND, mengikuti selera pelanggan sekaligus mencari perpaduan rasa yang berbeda dari sebelumnya.

Eksperimen juga merambah ke minuman. Thai tea dan matcha menjadi menu yang dikembangkan melalui proses RND cukup panjang. Riri memilih rasa yang tidak terlalu manis dan tetap mempertahankan karakter teh maupun matcha.

Bagi Riri, semua proses itu merupakan bagian dari perjalanan Foodera yang dibangun perlahan. Dia mengibaratkannya seperti bermain game kafe.

“Kalau kita level satu masih belum ada apa-apa, bangun pelan-pelan. Nanti uangnya sudah terkumpul kita renovasi sedikit-sedikit. Naik level dua beli peralatan, level tiga nambah pegawai,” katanya.

Perjalanan itu bahkan sempat membuatnya kembali memulai dari awal setelah pandemi dan kelahiran anak. Saat itu, modal yang dimiliki terbatas. Namun, kepercayaan pelanggan menjadi salah satu kekuatan untuk kembali berjalan.

Baca Juga: Desil Bergeser, Penerima Bansos Berubah Perjuangan Jumlah Penerima Tak Signifikan

Beberapa pelanggan bahkan bersedia membayar pesanan terlebih dahulu. Dari usaha yang awalnya dijalankan berdua bersama suami, kini Foodera telah memiliki sembilan pegawai.

Enam tahun berlalu, Riri masih ingin terus mencoba. Baginya, usaha bukan tentang tumbuh secara instan, tetapi tentang mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjaga rasa, dan merawat kepercayaan.

“Harapannya bisa semakin diterima masyarakat, semakin berkembang, terus bisa menyerap banyak tenaga kerja,” harapnya.

Sebab, mungkin begitulah cara sebuah rasa bertahan. Bukan hanya karena enak saat pertama dicoba, tetapi karena ada seseorang yang bersedia terus merawatnya. (mal/din)

Editor : Juwita Ratnasari
Sumber : RADAR TRENGGALEK
dimsum mentai Foodera Rhika Ayu Yuwanita