Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

‎Selat Hormuz Terancam Ditutup, Harga BBM di Indonesia Bisa Melonjak Tajam

Akhmad Nur Khoiri • Kamis, 26 Juni 2025 | 03:55 WIB

Harga BBM di Indonesia berpotensi naik akibat Selat Hormuz terancam ditutup.
Harga BBM di Indonesia berpotensi naik akibat Selat Hormuz terancam ditutup.

Trenggaleknjenggelek – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas.

Pada 22 Juni 2025, Amerika Serikat melancarkan serangan ke tiga fasilitas nuklir utama Iran: Fordow, Natanz, dan Isfahan.

Serangan ini memicu respons keras dari Iran, yang kemudian menyetujui usulan penutupan Selat Hormuz untuk seluruh kegiatan pelayaran.

Baca Juga: Sistem Pengumpulan Sampah Pakai Robot di Jepang: Masa Depan yang Sudah Datang

‎Penutupan Selat Hormuz tentu bukan perkara kecil. Jalur ini merupakan salah satu titik transit minyak mentah paling vital di dunia, menghubungkan Teluk Arab dan Teluk Oman.

Tak kurang dari 17,5 juta barel minyak mentah melewati selat ini setiap harinya, menjadikannya nadi distribusi minyak dari negara-negara kaya minyak seperti Iran, Irak, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.

Baca Juga: Amerika Meminta Bantuan China untuk Cegah Krisis di Selat Hormuz

‎Jalur utama pasokan energi dunia: Menjadi satu-satunya rute laut yang memungkinkan ekspor minyak mentah dari Teluk ke pasar global.

‎1. Volume besar: Sekitar 20% dari pasokan minyak dunia melewati selat ini setiap hari.

Baca Juga: Internet Iran Diputus, Elon Musk Aji Mumpung Berikan Akses Lewat Starlink

‎2. Kepentingan global: Penutupan selat dapat mengganggu pasar energi global dan menyebabkan lonjakan harga minyak internasional.

‎Potensi ditutupnya Selat Hormuz telah menimbulkan kekhawatiran akan lonjakan harga minyak mentah dunia, yang secara otomatis akan berdampak pada harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia.

Hal ini berpotensi memicu kenaikan inflasi dan memperlemah daya beli masyarakat.

‎Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, menilai lonjakan harga BBM bisa mengganggu stabilitas konsumsi domestik.

‎ “Begitu harga BBM naik, diteruskan ke pelaku usaha dan konsumen, membuat konsumsi rumah tangga melambat. Proyeksinya, jika perang berlangsung lebih lama, ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 4,5 persen year on year tahun ini,” ujarnya.

‎Senada dengan Bhima, Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik dari UPN Veteran Jakarta, memperingatkan efek domino yang lebih luas.

‎“Efek domino sangat luas, inflasi global, biaya logistik yang membengkak, tekanan fiskal bagi negara berkembang, dan tentu saja ancaman resesi. Negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia akan sangat terpukul,” jelasnya.

‎Selain menekan pertumbuhan ekonomi, penutupan Selat Hormuz juga bisa membuat beban subsidi BBM, listrik, dan LPG di Indonesia membengkak.

Tekanan ini pada akhirnya bisa berdampak pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). (kho)

Editor : Akhmad Nur Khoiri
#harga bbm #selat hormuz #geopolitik #indonesia