JAKARTA - Rencana kontroversial kembali dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ingin menguasai Greenland.
Menjelang keberangkatannya ke Davos, Swiss, untuk menghadiri World Economic Forum (WEF), Trump kembali menegaskan ambisinya yang mengejutkan: Trump ingin menguasai Greenland.
Pernyataan Trump ingin menguasai Greenland tersebut sontak menjadi topik utama pembicaraan para pemimpin dunia yang sudah lebih dulu berkumpul di forum elite global tersebut.
Baca Juga: Kejari Trenggalek Eksekusi Kerugian Negara Rp 1,6 Miliar dari Kasus Korupsi KUR Porang Telah Inkrah
Dalam konferensi pers hampir dua jam di Gedung Putih, Trump sebenarnya membahas berbagai isu domestik dan internasional.
Namun isu Greenland baru mencuat ketika sesi tanya jawab dengan wartawan dimulai.
Saat ditanya seberapa jauh ia bersedia melangkah demi menguasai wilayah Arktik itu, Trump hanya menjawab singkat, “You’ll find out,” sebuah respons yang langsung memicu spekulasi global.
Trump kembali menegaskan bahwa niatnya terhadap Greenland merupakan bagian dari strategi keamanan nasional Amerika Serikat.
Menurutnya, wilayah tersebut memiliki posisi strategis penting di kawasan Arktik, baik dari sisi militer, geopolitik, maupun sumber daya alam.
Trump bahkan mengklaim bahwa warga Greenland “akan senang” jika menjadi bagian dari Amerika Serikat, meski fakta di lapangan menunjukkan penolakan tegas dari masyarakat Greenland.
Ancaman Tarif hingga Tekanan Ekonomi
Untuk mewujudkan ambisinya, Trump tak segan menggunakan instrumen ekonomi.
Ia mengancam akan memberlakukan tarif impor sebesar 10 persen terhadap delapan negara Eropa, termasuk sekutu NATO, yang dinilai menghalangi rencananya.
Kebijakan tarif tersebut dijadwalkan mulai berlaku bulan depan dan langsung memicu kecemasan akan potensi perang dagang baru.
Namun, langkah Trump ini berpotensi terganjal Mahkamah Agung AS. Saat ini, lembaga yudikatif tertinggi tersebut tengah mempertimbangkan legalitas kebijakan tarif yang diusulkan Trump.
Ketika ditanya apa yang akan dilakukan jika Mahkamah Agung membatalkan tarif tersebut, Trump dengan santai menjawab bahwa ia “akan menggunakan cara lain”.
Jawaban itu memicu pertanyaan lanjutan yang lebih sensitif: apakah Trump bersedia menggunakan kekuatan militer untuk menguasai Greenland? Alih-alih memberikan jawaban tegas, Trump justru menghindar dan mengatakan bahwa pemerintahannya memiliki “banyak alternatif lain”.
Kekhawatiran NATO dan Sekutu Eropa
Pernyataan Trump ini memicu kekhawatiran serius di kalangan sekutu Eropa. Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer termasuk pemimpin yang secara terbuka menyatakan penolakan.
Trump bahkan mengungkap isi pesan singkat dengan Macron, yang mempertanyakan secara langsung motif Amerika Serikat terkait Greenland.
Isu ini juga memunculkan spekulasi tentang masa depan NATO. Trump menolak menjawab apakah potensi retaknya aliansi pertahanan tersebut sepadan dengan ambisinya atas Greenland.
Sikap ini semakin mempertegas ketegangan antara Washington dan sekutu tradisionalnya.
Panama hingga Peta Kontroversial
Tak hanya Greenland, Trump juga kembali mengisyaratkan ketertarikannya pada Terusan Panama.
Saat ditanya apakah rencana “mengambil kembali” Panama Canal masih ada, Trump menjawab samar, “Sort of.”
Jawaban ini memperkuat anggapan bahwa ambisi geopolitik Trump tak berhenti di satu wilayah saja.
Kontroversi semakin memanas setelah Trump mengunggah gambar hasil edit di media sosial yang menampilkan peta Amerika Serikat mencakup Kanada, Greenland, bahkan Venezuela.
Unggahan tersebut dianggap sebagai sinyal simbolik dari agenda ekspansionis yang agresif.
Davos Jadi Panggung Utama
Trump dijadwalkan menghadiri WEF Davos dengan agenda padat, termasuk serangkaian pertemuan khusus membahas Greenland.
Ia optimistis semua akan “berjalan dengan baik”, meski penolakan datang dari berbagai pihak.
Baca Juga: Presiden Prabowo: Ini Baru Ujungnya! Penertiban Kawasan Hutan Terus Dilanjutkan
Isu Trump ingin menguasai Greenland dipastikan akan membayangi hampir seluruh diskusi di Davos, menggeser fokus dari isu ekonomi global, perubahan iklim, hingga stabilitas geopolitik.
Dalam pidatonya nanti, Trump juga berencana menonjolkan apa yang ia sebut sebagai keberhasilan besar di tahun pertamanya kembali menjabat sebagai presiden.
Ia bahkan menyebut para pemimpin Eropa “perlu belajar” dari kebijakan Amerika Serikat, terutama soal imigrasi dan energi. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah