Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Trump Ingin Menguasai Greenland, Ancaman Tarif hingga Isyarat Kekuatan Militer Jadi Sorotan Dunia di Davos

Adinda Putri Sefiana • Kamis, 22 Januari 2026 | 20:05 WIB

Ilustrasi Donald Trump yang Pertimbangkan Tutup 27 Misi Diplomatik AS
Ilustrasi Donald Trump yang Pertimbangkan Tutup 27 Misi Diplomatik AS

JAKARTA - Rencana kontroversial kembali dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ingin menguasai Greenland.

Menjelang keberangkatannya ke Davos, Swiss, untuk menghadiri World Economic Forum (WEF), Trump kembali menegaskan ambisinya yang mengejutkan: Trump ingin menguasai Greenland.

Pernyataan Trump ingin menguasai Greenland tersebut sontak menjadi topik utama pembicaraan para pemimpin dunia yang sudah lebih dulu berkumpul di forum elite global tersebut.

Baca Juga: Kejari Trenggalek Eksekusi Kerugian Negara Rp 1,6 Miliar dari Kasus Korupsi KUR Porang Telah Inkrah

Dalam konferensi pers hampir dua jam di Gedung Putih, Trump sebenarnya membahas berbagai isu domestik dan internasional.

Namun isu Greenland baru mencuat ketika sesi tanya jawab dengan wartawan dimulai.

Saat ditanya seberapa jauh ia bersedia melangkah demi menguasai wilayah Arktik itu, Trump hanya menjawab singkat, “You’ll find out,” sebuah respons yang langsung memicu spekulasi global.

Trump kembali menegaskan bahwa niatnya terhadap Greenland merupakan bagian dari strategi keamanan nasional Amerika Serikat.

Baca Juga: Terungkap di PN Surabaya, Dua Saksi Pastikan Dokumen RUPS PT Jawa Pos Pernah Diserahkan ke Dahlan Iskan

Menurutnya, wilayah tersebut memiliki posisi strategis penting di kawasan Arktik, baik dari sisi militer, geopolitik, maupun sumber daya alam.

Trump bahkan mengklaim bahwa warga Greenland “akan senang” jika menjadi bagian dari Amerika Serikat, meski fakta di lapangan menunjukkan penolakan tegas dari masyarakat Greenland.

Ancaman Tarif hingga Tekanan Ekonomi

Untuk mewujudkan ambisinya, Trump tak segan menggunakan instrumen ekonomi.

Ia mengancam akan memberlakukan tarif impor sebesar 10 persen terhadap delapan negara Eropa, termasuk sekutu NATO, yang dinilai menghalangi rencananya.

Baca Juga: Sidang Pemukulan Guru di Trenggalek, Keterangan Saksi dan Terdakwa Kontradiksi, Berpotensi Perberat Hukuman, Jadi Perhatian Ketua Majelis Hakim

Kebijakan tarif tersebut dijadwalkan mulai berlaku bulan depan dan langsung memicu kecemasan akan potensi perang dagang baru.

Namun, langkah Trump ini berpotensi terganjal Mahkamah Agung AS. Saat ini, lembaga yudikatif tertinggi tersebut tengah mempertimbangkan legalitas kebijakan tarif yang diusulkan Trump.

Ketika ditanya apa yang akan dilakukan jika Mahkamah Agung membatalkan tarif tersebut, Trump dengan santai menjawab bahwa ia “akan menggunakan cara lain”.

Baca Juga: Penyanyi dan Influencer di Trenggalek, SG, Segera Dipanggil Penyidik untuk Dalami Kasus Arisan Get Menurun, Peran Terungkap

Jawaban itu memicu pertanyaan lanjutan yang lebih sensitif: apakah Trump bersedia menggunakan kekuatan militer untuk menguasai Greenland? Alih-alih memberikan jawaban tegas, Trump justru menghindar dan mengatakan bahwa pemerintahannya memiliki “banyak alternatif lain”.

Kekhawatiran NATO dan Sekutu Eropa

Pernyataan Trump ini memicu kekhawatiran serius di kalangan sekutu Eropa. Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer termasuk pemimpin yang secara terbuka menyatakan penolakan.

Trump bahkan mengungkap isi pesan singkat dengan Macron, yang mempertanyakan secara langsung motif Amerika Serikat terkait Greenland.

Baca Juga: Amarah WargaTerkena Banjir Bandang di Aceh Tamiang, Bantuan Diduga Tak Merata dan Posko Logistik Jadi Sasaran Protes!

Isu ini juga memunculkan spekulasi tentang masa depan NATO. Trump menolak menjawab apakah potensi retaknya aliansi pertahanan tersebut sepadan dengan ambisinya atas Greenland.

Sikap ini semakin mempertegas ketegangan antara Washington dan sekutu tradisionalnya.

Panama hingga Peta Kontroversial

Tak hanya Greenland, Trump juga kembali mengisyaratkan ketertarikannya pada Terusan Panama.

Saat ditanya apakah rencana “mengambil kembali” Panama Canal masih ada, Trump menjawab samar, “Sort of.”

Jawaban ini memperkuat anggapan bahwa ambisi geopolitik Trump tak berhenti di satu wilayah saja.

Baca Juga: Terdakwa Pemukulan Guru di Trenggalek, Awang, Hadir tanpa Didampingi Istri saat Agenda Pembacaan Dakwaan JPU, Hakim Tetap Buka Ruang RJ

Kontroversi semakin memanas setelah Trump mengunggah gambar hasil edit di media sosial yang menampilkan peta Amerika Serikat mencakup Kanada, Greenland, bahkan Venezuela.

Unggahan tersebut dianggap sebagai sinyal simbolik dari agenda ekspansionis yang agresif.

Davos Jadi Panggung Utama

Trump dijadwalkan menghadiri WEF Davos dengan agenda padat, termasuk serangkaian pertemuan khusus membahas Greenland.

Ia optimistis semua akan “berjalan dengan baik”, meski penolakan datang dari berbagai pihak.

Baca Juga: Presiden Prabowo: Ini Baru Ujungnya! Penertiban Kawasan Hutan Terus Dilanjutkan

Isu Trump ingin menguasai Greenland dipastikan akan membayangi hampir seluruh diskusi di Davos, menggeser fokus dari isu ekonomi global, perubahan iklim, hingga stabilitas geopolitik.

Dalam pidatonya nanti, Trump juga berencana menonjolkan apa yang ia sebut sebagai keberhasilan besar di tahun pertamanya kembali menjabat sebagai presiden.

Ia bahkan menyebut para pemimpin Eropa “perlu belajar” dari kebijakan Amerika Serikat, terutama soal imigrasi dan energi. (*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#Kekuatan Militer #Ancaman tarif Trump #Donald Trump Davos #Greenland Amerika Serikat #Ketegangan NATO #Trump Greenland