TRENGGALEK NJENGGELEK - Olimpiade Musim Dingin 2026 di Milan, Italia, diwarnai sorakan dan cemoohan saat upacara pembukaan yang digelar di Stadion San Siro, Jumat (6/2/2026). Momen yang seharusnya menjadi perayaan sportivitas justru diiringi gelombang protes terhadap tim Israel dan Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance.
Dalam parade negara peserta Olimpiade Musim Dingin 2026 tersebut, delegasi Israel yang terdiri dari empat orang memasuki stadion sambil mengibarkan bendera nasional mereka. Mereka tampak tersenyum dan melambaikan tangan kepada penonton. Namun, dari sejumlah sudut stadion terdengar cemoohan yang sempat menggema, meski kemudian tertutup oleh musik yang diputar dengan volume keras.
Situasi serupa juga terjadi ketika kontingen Amerika Serikat tampil dalam upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2026. Awalnya, tim AS disambut sorak sorai penonton. Namun suasana berubah ketika wajah JD Vance muncul di layar raksasa stadion. Reaksi penonton langsung berbalik menjadi cemoohan yang cukup keras.
Sorakan “Free Palestine” Menggema
Sejumlah penonton terdengar meneriakkan dukungan untuk Palestina, termasuk seruan “Free Palestine” yang menggema di dalam stadion. Reaksi negatif terhadap tim Israel dan pejabat AS ini disebut-sebut sudah diperkirakan sebelumnya, mengingat situasi politik global yang tengah memanas.
Konflik di Gaza menjadi salah satu faktor yang memicu sentimen protes terhadap Israel. Atlet Israel sendiri sebelumnya telah menyatakan kesiapan menghadapi suasana yang mungkin tidak bersahabat akibat situasi geopolitik tersebut.
Sementara itu, kebijakan dalam negeri Amerika Serikat, khususnya terkait penegakan hukum imigrasi di era Presiden Donald Trump, juga memicu gelombang kritik di sejumlah negara Eropa, termasuk Italia. Hal ini turut memengaruhi atmosfer dalam upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2026 di Milan.
Respons Berbeda di Lokasi Lain
Menariknya, reaksi penonton tidak seragam di semua lokasi pertandingan. Di Cortina d’Ampezzo, kawasan pegunungan yang juga menjadi bagian dari tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2026, tim Amerika Serikat justru mendapat sambutan hangat saat parade atlet digelar.
Atlet Israel di Cortina juga masih menerima tepuk tangan dari sebagian penonton. Namun di Predazzo, lokasi cabang olahraga lompat ski, sebagian penonton kembali terdengar melontarkan cemoohan ketika tim Israel tampil.
Perbedaan respons ini menunjukkan dinamika opini publik yang beragam di berbagai wilayah Italia. Meski demikian, panitia memastikan seluruh rangkaian acara tetap berjalan sesuai jadwal.
Aksi Protes di Luar Stadion
Sebelum upacara pembukaan digelar, puluhan warga mengadakan aksi unjuk rasa di luar Stadion San Siro pada Kamis (5/2/2026). Mereka memprotes keikutsertaan tim Israel dalam Olimpiade Musim Dingin 2026 dan menuntut agar Israel dicoret dari ajang tersebut.
Sebagian demonstran membawa plakat bertuliskan “kartu merah untuk Israel” sambil menyerukan dukungan terhadap Palestina. Mereka menilai atlet Israel seharusnya diperlakukan serupa dengan atlet Rusia, yang sebelumnya tidak diperbolehkan bertanding menggunakan bendera negaranya dalam ajang internasional tertentu.
Salah satu peserta aksi menyatakan bahwa demonstrasi tersebut merupakan bentuk solidaritas terhadap Palestina dan penolakan atas partisipasi Israel di Olimpiade.
Prosesi Tetap Aman dan Obor Dinyalakan
Meski diwarnai aksi protes dan cemoohan, upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2026 tetap berlangsung aman dan terkendali. Aparat keamanan terlihat berjaga ketat di dalam maupun luar stadion guna mengantisipasi potensi gangguan.
Obor Olimpiade dijadwalkan dinyalakan di kaldron utama pada Jumat malam sebagai simbol resmi dimulainya rangkaian pertandingan. Api tersebut akan terus menyala hingga seluruh kompetisi selesai digelar.
Olimpiade Musim Dingin 2026 menjadi sorotan dunia, bukan hanya karena persaingan atlet di arena es dan salju, tetapi juga karena dinamika politik global yang turut membayangi perhelatan olahraga terbesar musim dingin tersebut. Di tengah berbagai reaksi dan protes, ajang ini tetap membawa misi utama: mempersatukan bangsa-bangsa melalui olahraga.
Editor : Axsha Zazhika