JAKARTA – Benua Eropa saat ini tengah dikepung oleh bencana iklim yang sangat mengerikan. Serangan gelombang panas Eropa yang terjadi tahun ini dilaporkan menjadi yang terparah sepanjang sejarah.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan merilis data mencengangkan, di mana lebih dari 1.300 orang dilaporkan meninggal dunia akibat suhu ekstrem ini. Kasus kematian tersebut didominasi oleh warga lanjut usia (lansia) yang rentan terhadap perubahan cuaca radikal.
Melihat situasi yang kian memburuk, WHO menjuluki tekanan panas ekstrem ini sebagai "pembunuh senyap". Pihak WHO juga mendesak seluruh pemerintah di negara-negara Eropa untuk segera mengaktifkan rencana aksi kesehatan darurat guna menekan angka kematian yang terus meroket.
Menurut analisis para ahli meteorologi, lonjakan suhu yang mencapai 18 derajat Celcius di atas rata-rata musiman ini dipicu oleh adanya fenomena iklim yang dikenal dengan istilah blok Omega.
Dampak dari gelombang panas Eropa ini benar-benar melumpuhkan aktivitas normal warga. Di Jerman, situasinya begitu kritis hingga pihak kepolisian setempat terpaksa mengerahkan armada water cannon.
Alih-alih digunakan untuk membubarkan demonstrasi, mobil penyemprot air milik polisi ini justru hilir mudik di jalanan kota untuk menyemprotkan air ke arah pejalan kaki.
Langkah darurat ini dilakukan agar warga yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan bisa sedikit mendinginkan suhu tubuh mereka.
Baca Juga: Gempa Dahsyat Guncang Jepang, Tak Berpotensi Tsunami
Warga Panik dan Rebutan AC
Di Ibu Kota Jerman, Berlin, suhu udara dilaporkan melonjak drastis hingga menyentuh angka 40 derajat Celcius. Kondisi panas yang menyengat ini memicu kepanikan massal di sejumlah kota.
Bahkan, sebuah video yang menunjukkan situasi warga Jerman sedang menyerbu toko-toko elektronik mendadak viral di media sosial.
Mereka tampak berdesakan dan berebut untuk membeli kipas angin serta perangkat pendingin ruangan (AC) demi bertahan hidup di dalam rumah.
Menariknya, lonjakan drastis permintaan AC di benua biru ini justru menuai kontroversi baru. Sejumlah pengamat lingkungan khawatir bahwa konsumsi energi yang tinggi akibat penggunaan AC secara massal dapat mengancam dan merusak agenda pembangunan hijau yang selama ini gencar dikampanyekan di Eropa.
Infrastruktur Meleleh dan Kericuhan di Prancis
Fenomena gelombang panas Eropa tidak hanya mengancam nyawa manusia, tetapi juga merusak infrastruktur publik.
Di kota Leipzig, Jerman, suhu ekstrem bahkan memecahkan rekor baru hingga mencapai 41 derajat Celcius. Akibatnya, lapisan material pada jalur kereta trem di kota tersebut sampai meleleh dan mengalir ke beberapa bagian rel serta jalan raya.
Gangguan fatal ini memaksa otoritas transportasi setempat untuk menghentikan total layanan trem di berbagai kota demi keselamatan publik.
Sementara itu, situasi di Prancis tidak kalah mencekam. Lebih dari separuh wilayah Prancis kini berstatus siaga satu dengan suhu udara yang konsisten melampaui 40 derajat Celcius.
Frustrasi dengan hawa panas yang membakar, warga Paris memilih untuk berenang massal di sungai-sungai kota dan memadati Kanal Saint-Martin demi menurunkan suhu tubuh mereka.
Kericuhan bahkan sempat pecah di berbagai pusat perbelanjaan di Prancis saat warga saling sikut memperebutkan stok kipas angin dan AC yang mulai langka.
Baca Juga: Bocor Alus! Ribuan Ton Amunisi AS Masuk Israel, Perang Timur Tengah Terancam Meledak Hebat
Kabar Duka dari Gempa Venezuela
Di belahan bumi lain, dunia juga sedang berduka atas bencana alam dahsyat yang menimpa Venezuela. Bersamaan dengan krisis iklim di Eropa, Venezuela diguncang oleh gempa bumi ganda yang menelan korban jiwa sedikitnya 1.700 orang, menyebabkan 5.000 warga terluka, dan memaksa 15.000 orang mengungsi.
Saat ini, tim penyelamat dari Venezuela yang dibantu oleh tim evakuasi dari Qatar sedang berpacu dengan waktu di Apartemen Santaarita, Karakas.
Memasuki fase kritis 4 hari pasca-gempa, petugas menggunakan alat berat dan sensor panas untuk mendeteksi tanda-tanda kehidupan di balik puing-puing bangunan. Otoritas setempat mencatat ada lebih dari 22.000 orang yang terdampak langsung oleh bencana kemanusiaan ini. (*)
Editor : Adinda Okta Fitriana